Bekasi

Mandi di Garasi, Jaga Jarak dengan Anak dan Suami

Mereka ‘Kartini’ Kesehatan Melawan Covid-19

SIAGA – Tati Samriati (37) petugas medis dari Puskesmas Pengasinan, Elva Mayeka (45) Petugas medis Bantargebang, Restina Nur Syahputri (25) Petugas medis Pekayon mengepalkan tangan berjuang menghadapi Covid-19 saat ditemui di Stadion Patriot Candrabhaga, (kiri). Dokter Dwi berada di mobil ambulan di Desa Sriamur Tambun Utara (kanan). ARIESANT/RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Meskipun ketakutan membayang dibenak mereka. Namun, pelayanan kesehatan harus tetap diberikan dalam situasi seperti ini, karena jika tidak, tak terhitung berapa banyak korban jiwa berjatuhan.

Laporan : Surya Bagus- Karsim Pratama

Mereka para tenaga medis layak disebut sebagai pahlawan. Karena, telah berkorban mengalahkan ketakutan terhadap penyebaran Covid-19 yang bergerak begitu cepat, setiap detik, setiap jam, setiap hari.

Telah banyak tokoh bangsa hingga masyarakat umum menyebut peran tenaga medis sebagai pahlawan, dibenak mereka tenaga medis sudah layak untuk disebut pahlawan. Jika pahlawan negara adalah mereka yang berjasa pada negara, maka mereka telah berjasa bagi bangsa ini dalam aspek kesehatan.

Pahlawan juga, dalam bahasa Sansekerta yakni Phala-Wan, artinya orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau gagah berani.

“Oiya, selamat hari Kartini mas,” begitu sapa balik ketiga Tati Samriati (37), Restina Nur Syaputri (25), dan Elva Mayeka (45) kepada Radar Bekasi ditengah tugasnya sebagai analis di lokasi Rapid Test Gugus Tugas Covid-19 Kota Bekasi, Stadion Patriot Candrabhaga, Selasa (21/4).

Ya, kemarin merupakan hari Kartini, tanggal dimana masyarakat Indonesia memperingati kelahiran pahlawan perempuan itu. Oleh karena itu Radar Bekasi mengawali tanggal 21 kemarin dengan cara mengucapkan selamat hari Kartini kepada tenaga kesehatan yang setia melayani masyarakat dalam situasi pandemik ini.

Kebetulan, hari itu tim satu bertugas di posko gugus tugas, tabung darah menghiasi meja kerja ketiganya. Di dalam stadion Patriot Candrabhaga, tabung itu digunakan untuk menampung darah masyarakat yang datang untuk dilakukan rapid test. Satu persatu pagi itu warga datang, senyuman dibalik masker ketiganya menyambut setiap orang yang datang, terbayang ketika mata dibalik kaca pengaman yang dikenakan mulai menyipit.

“Kalau kita nih petugas lab tinggal datang terus ambil darah itu aja, pokoknya sebulan ini lebih cape dari biasanya, setiap hari cuci baju,” keluh salah satu analis, Restina  Nur Syaputri (25).

Setiap harinya, analis yang bertugas disini dibagi dalam dua tim, mereka bertiga tim satu. Kedua tim bertugas bergantian. Rutinitas tidak biasa dilakukan ketiga pahlawan kesehatan dewasa ini, mereka mandi di garasi rumah, itu dilakukan untuk menjaga keluarga supaya ketika bertatap muka sudah dalam kondisi bersih dan steril.

“Uhhh pasti lah mas (ada rasa takut terpapar) saya kan punya anak, ada anak, ada suami, takut lah pasti, takut banget. Saya mandi di garasi loh, jadi saya pulang lampu semua saya matiin, masak air panas baju saya rendem diluar jadi nggak masuk rumah dulu,” tutur analis lainnya, Elva Mayeka (45).

Elva sudah menyiapkan ember berukuran besar yang akan digunakan mandi setiap pulang bertugas, sekira pukul 20:00 WIB. Setelah mandi, baju yang ia kenakan hari itu di rendam dengan air panas di luar rumah. Sehingga masuk ke dalam rumah dan bertatap muka dengan keluarga dalam keadaan sudah bersih dan steril.

Sementara dokter Puskesmas desa Sriamur, Dwi (39) mengaku harus berjaga jarak dengan anak dan suami selama melakukan penanganan wabah virus Corona (Covid-19). Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Menurutnya, wabah virus cCrona ini memberikan rasa takut bagi para tenaga kesehatan, tidak seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan lainnya. Pasalnya, virus ini baru dan penularannya sangat cepat. Bahkan perlakuan bagi orang yang terpapar sangat khusus.

“Memang ketika ada virus ini lebih ke sikis, jadi psikis kami sebagai tenaga kesehatan itu lebih was-was (takut). Apa lagi kami sebagai tenaga kesehatan pasti lebih berisiko,” ujarnya saat ditemui di Puskesmas Sriamur, Selasa (21/4).

Dengan kondisi seperti ini, ibu dua anak ini mengaku, saat pulang ke rumah setelah selesai bekerja anggota keluarga tidak dipersilahkan menyambut kedatangannya. Dirinya terlebih dulu membersihkan badan dengan mandi dan mengganti pakaian sebelum bertemu keluarganya.

 “Saya juga memberikan pengertian kepada keluarga. Jadi setiap pulang ke rumah, anak dan suami tidak boleh mendekati saya dulu. Sebelum saya mandi dan salin pakaian, saya membatasi itu karena takut membawa virus,” ucapnya.

Sebagai tenaga kesehatan ditingkat kecamatan dirinya menuturkan, rutin melakukan skrining terhadap Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun anggota keluarga Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang memang masuk ke dalam laporan. Selain itu membuka posko di kantor kecamatan.

“Kita lebih ke tracking terhadap ODP dan PDP yang masuk laporannya. Kita melakukan pemantauan terhadap keluarga dan memberikan vitamin selama 14 hari. Kami juga membuka posko di kecamatan,” tuturnya.

Perempuan asal Tambun Utara ini menuturkan, setiap turun ke lapangan ke rumah ODP maupun PDP harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, sehingga membuat masyarakat sekitar panik. Kendati demikian, hal itu tidak membuat dirinya dijauhi oleh tetangga rumah maupun saudaranya.

“Setiap turun ke lapangan harus menggunakan APD lengkap, terkadang masyarakat heboh. Untuk lingkungan saya sendiri tidak memberikan stigma negatif, paling awal-awal saja pas melihat saya naik ambulance menggunakan APD,” ungkapnya.

Masih Dwi, tenaga kesehatan yang bertugas di pelayanan juga sekarang menggunakan Alat Pelindung Diri (Apd) lengkap, mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Kata Dwi, tidak ada yang tahu siapa saja yang membawa virus tersebut.

Mereka berharap situasi pandemik ini cepat berakhir dan dapat melaksanakan rutinitas kehidupan seperti biasanya. Terlebih, ramadan dan hari raya sudah di depan mata. Semangat dan himbauan keluarga untuk senantiasa berhati-hati ketika bertugas selalu menjadi sarapan pagi bagi ketiganya.

Selain kewajiban profesi sebagai tenaga kesehatan, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus mentaati tugas dan perintah dari pimpinan. Mereka harus tegar dan selalu melayani masyarakat.

Bertugas menggunakan APD menjadi salah satu kendala bagi ketiganya, mungkin semua tenaga kesehatan, panas, menguras keringat. Hampir hanya sebagian muka saja yang terlihat, kecuali panca Indra seperti mulut, hidung, dan mata. (*)

Close