Bekasi

Banjir Rob di Muaragembong

Ribuan Rumah dan Tambak Ikan Terendam

TERENDAM : Warga Muaragembong saat mendapatkan pengarahan dari kepolisian. Ribuan rumah di wilayah tersbeut mengalami banjir rob.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ribuan rumah di empat desa di Kecamatan Muaragembong terendam banjir rob. Keempatnya yakni desa Pantai Bahagia, Pantai Mekar, Pantai Sederhana, dan Pantai Bakti.

Banjir tersebut sempat membuat warga panik. Pasalnya ketinggian air laut mencapai satu meter.

“Baru sekarang sampai seperti ini. Kalau air pasang setiap minggu atau bulan sering terjadi, paling ketinggian air hanya 50 cm. Dan itu hanya sebentar,” ujar salah satu warga Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Sanim, saat dimintai keterangan di lokasi kejadian, Minggu (7/6).

Menurutnya, air rob ini mulai terjadi pada Rabu (3/6) pukul 17.00 WIB. Saat itu, dirinya yang berjualan bakso di pantai Muarabungin melihat air begitu cepat naik ke daratan (pemukiman), dengan diiringi hembusan angin kencang.

Warga lainnya, Amri menuturkan, air rob ini datangnya secara mendadak mengikuti angin. “Ketinggian air tidak merata, kalau di rumah saya diatas kaki orang dewasa, takut yang rumah dekat pantai sedengkul orang dewasa. Warga disini panik, karena baru tahun ini rob yang paling besar,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pantai Bakti, Naman menduga, air rob ini kemungkinan besar akan terus terjadi sampai 10 Juni 2020. Kendati demikian dirinya memastikan, tidak mendirikan pos pengungsian, mengingat air rob datang dan hilang dengan cepat. Rata-rata rumah warga terendam air sekitar tiga hingga lima jam dengan ketinggian air mencapai 30-50 cm. Namun untuk ketinggian air dari permukaan laut sekitar satu meter.

“Yang terendam air di wilayah saya sekitar 300 rumah, di wilayah Rt 01 dan Rt 02, Kampung Bungin. Sejauh ini saya tidak membuat pengungsian, paling hanya sebatas himbauan, karena setelah air rob surut, air yang merendam rumah warga ikut surut,” ungkapnya.

Akibat rob ini, dia mengaku, tambak yang ada di wilayah hampir 75 persen habis (terendam air), dari jumlah keseluruhan 2.700 hektar. Dirinya menegaskan, kejadian seperti ini sebelumya pernah terjadi sekitar delapan tahun yang lalu.

“Harapan saya, karena ini bentuknya musibah, ada respon dari pihak pemerintah kabupaten. Apa lagi banyak dampak yang diakibatkan dari kejadian ini, salah satunya untuk petani tambak,” harapnya.

Terpisah, Camat Muaragembong, Lukman Hakim menegaskan, dalam penanganan ini harus dibangun tanggul raksasa untuk memecah ombak. Hanya saja dia mengaku, hal itu belum diajukan ke pemerintah daerah. “Ini memungkinkan untuk diajukan, tapi pertanyaannya, pemerintah daerah sanggup (mampu) enggak anggarannya,” ungkapnya.

“Sejauh ini kami hanya sebatas melakukan patroli saja ke wilayah yang terdampak. Kemudian komunikasi ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi,” sambungnya. (pra)

Related Articles

Back to top button