Bekasi

Perjuangan Andreas (41), Rela Mengamen untuk SPP Anak

Pilih Lokasi yang Jauh Agar Tak Bertemu Teman Anaknya

CARI UANG : Andreas (41) berjalan membawa gitar menyusuri jalan raya Pekayon- Jatiasih, Sabtu (29/8). Andreas pengamen yang sekilas mirip penyanyi Indonesia Anji Drive ini mengamen dari Jakarta ke Bekasi untuk mencukupi biaya pendidikan anaknya. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Beban biaya keuangan pada praktik Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini menjadi keluhan orangtua siswa, termasuk Andreas (41), hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali menjalani aktivitas lamanya sebagai pengamen.

Laporan : Surya Bagus
JATIASIH

Sinar matahari terasa menyengat di permukaan kulit, pria paruh baya itu memanfaatkan topi hitam di kepala dan sweater yang ia kenakan untuk berlindung selama perjalanan menyusuri Jalan Pekayon-Jatiasih siang itu, Sabtu (29/8).

“Untuk bayar SPP anak kami, kelas 8 SMP (Sekolah Menengah Pertama),” bunyi rangkaian kata yang tertulis di atas selembar karton berwarna kuning. Karton berisi coretan bernada desakan kebutuhan pendidikan tersebut di tempelkan tepat didepan tas gitar yang ia bawa, melekat di tubuhnya kemanapun ia pergi.

Kertas karton berwarna kuning, lengkap dengan foto anak keduanya itu sontak menarik perhatian siapapun yang melihat, termasuk Radar Bekasi. Dari kejauhan, bapak empat anak ini nampak berjalan lesu. Uang yang ia dapat belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan biaya pendidikan anaknya.

Setelah menunggu Andreas 100 meter di hadapannya, kami pun berjumpa, membeli air mineral untuk menghapus dahaga, dan berbincang sejenak. Ia meninggalkan keluarganya yang tinggal di kawasan Cakung, Jakarta Timur setiap hari untuk mengais rizki.

Sedikitnya sudah tiga bulan terakhir ia memutuskan untuk kembali menjalani aktivitas lamanya sebagai pengamen. Tiga tahun terakhir, ia mencoba peruntungan untuk memperbaiki perekonomian keluarganya dengan bekeja sebagai karyawan toko elektronik, kini terpaksa di rumahkan di tengah pandemi Covid-19.

Sesaat setelah mendapat kabar tidak sedap itu, Andreas kalut. Pikirannya berkecamuk, harus bekerja di mana, dan melakukan apa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sempat mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai supir kendaraan toko bahan bangunan di kawasan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, dengan penghasilan Rp46 ribu satu hari.

Setelah ditimbang matang, penghasilan sebagai supir dengan penghasilan perhari itu dirasa tidak mencukupi setelah dikurangi dengan biaya perjalanan dari rumahnya menuju toko bangunan, ditambah biaya makan siang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap menjalani aktivitas lamanya sebagai pengamen.

Setiap hari, ia berkelana ke wilayah jauh dari rumahnya, beberapa diantaranya kawasan Jakarta Selatan dan Kota Bekasi. Sudah sejak tiga hari lalu ia berkeliling kota Bekasi. Dengan alasan supaya tidak terlihat oleh teman-teman anaknya, ia tak bisa membayangkan jika teman-teman dari anaknya yang tengah mengejar cita-cita mengetahui ayahnya menjadi pengamen.”Supaya teman-teman anak saya tidak tahu, kan kasian kalo mereka tahu,” katanya.

Tidak mudah untuk kembali menjalani aktivitas lamanya, dalam sehari ia membawa pulang uang Rp60 hingga Rp70 ribu untuk keluarganya, termasuk biaya kebutuhan sekolah anaknya. Seharusnya lebih dari itu, setiap wilayah yang ia datangi dikuasai oleh kelompok pengamen tertentu, selalu ada jatah yang diminta oleh kelompok tersebut. Sepeti di Pasar Jatiasih, ia mengikhlaskan uangnya Rp5 ribu yang seharusnya di bawa pulang untuk membiayai kebutuhan keluarganya.

“Aku baru pegang uang Rp38 ribu (siang itu), tadi diminta Rp10 ribu, saya bilang apa adanya, saya butuh untuk biaya sekolah anak saya, yaudah saya bisa kasih Rp5 ribu, sekarang tinggal Rp33 ribu,” ungkap bapak empat anak ini.

Dia mengaku kesulitan untuk kembali hidup di jalanan, tetap bersikukuh untuk melanjutkan aktivitasnya dan mensyukuri rizki yang di dapat. Hasilnya ia gunakan untuk membayar cicilan telepon genggam anaknya Rp30 ribu setiap pekan, membayar sewa rumah kontrakan Rp750 ribu, dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Anak pertamanya putus sekolah, seharusnya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), anak keduanya duduk di kelas 8 salah satu sekolah SMP swasta, anak ketiganya duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD), terakhir masih berusia tiga tahun.

Memasuki situasi pandemi, untuk mendukung anaknya belajar dari rumah, sisa tabungannya digunakan untuk membeli telepon genggam seharga Rp800 ribu. Beruntung, tempat membeli telepon genggam berniat tulus untuk membangun keluarganya.

Sekilas pria asal Manado ini terlihat mirip dengan penyanyi Erdian Aji Prihartanto, atau yang akrab dikenal Anji. Rizki tak terduga sempat ia dapatkan.”Kemarin alhamdulillah saya dikasih Rp50 ribu sama ibu-ibu pas lagi ngamen, katanya karena mirip Anji,” tukasnya berkelakar.

Andreas mengaku sempat ikut dalam satu perlombaan mirip Anji di media sosial, sayang Dewi Fortuna belum dipihaknya, butuh biaya untuk sewa kostum guna mendukung penampilannya. Tidak sekedar mirip, rupanya ia juga mengidolakan musisi terkenal itu, hingga hafal akun media sosial milik idolanya.

Kertas karton bertuliskan desakan kebutuhan yang selalu ia bawa terpaksa dibuat lantaran ia merasa dalam kondisi terdesak. Bahkan pagi saat beranjak pergi dari rumah, ia membawa botol berisi air mineral untuk menghapus dahaga, saat air mineral yang ia bawa habis. Tidak sungkan ia meminta kepada pedagang makanan sekedar air mineral, demi menghemat pengeluarannya. Ia percaya, rintangan hidup yang diberikan oleh Tuhan ini tidak akan melebihi kemampuannya.(*)

Related Articles

Back to top button