Cikarang

Pengrajin Masker Raup Keuntungan Ratusan Juta

Bedayakan Buruh PHK

JAHIT MASKER: Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan masker di Desa Sriamur, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (26/10). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pengrajin masker di Perumahaan Darmawangsa Resisdence, Desa Satria Mekar, Kecamatan Tambun Selatan, memanfatkan tenaga kerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah pandemi Covid-19.

Dari hasil penjualan masker tersebut, pemilik usaha masker, Fitri Handayani (32), berhasil meraup keuntungan puluhan juta rupiah dalam waktu satu minggu.

“Dengan memberdayakan tenaga kerja yang terkena PHK untuk membuat masker, dalam satu minggu saya berhasil meraih keuntungan Rp10 juta. Tapi kalau sepi orderan, paling kisaran Rp3 juta,” ujar Fitri kepada Radar Bekasi, Senin (26/10).

Dirinya mulai menekuni usaha pembuatan masker sejak Maret 2020 lalu. Di mana, Fitri hanya memperkerjakan lima buruh yang terkena PHK. Kemudian, seiring waktu berjalan, semakin banyak buruh yang terkena PHK, berdatangan untuk mendaftarkan diri ke tempatnya. Saat ini, sudah ada sekitar 50 pekerja.

“Sekarang sudah hampir 50 buruh yang bekerja untuk membuat masker sejak awal Covid-19,” terang Fitri.

Ia memprediksi, para buruh yang terkena PHK ini, sebelumnya sudah pernah menjahit di tempat kerja sebelumnya, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengajari. Dan dikerjakan di rumah masing-masing, karena rata-rata para buruh punya mesin jahit sendiri.

“Mereka yang datang untuk bekerja ke tempat saya, sudah pintar menjahit. Bahkan pembuatan masker itu dilakukan dari rumah masing-masing,” beber Fitri.

Sementara untuk upah para pekerja, lanjut Fitri, dibayarkan per minggu, dan tergantung dari jumlah masker yang berhasil dibuat.

“Kalau gaji tergantung jumlah masker yang dihasilkan. Satu orang, rata-rata bisa dapat upah Rp600 ribu,” ucap Fitri.

Kemudian untuk penjualan, Fitri melakukan melalui media mosial (medsos), dan pembuatan tergantung pesanan. Biasanya, pesanan paling banyak dari luar daerah, seperti Kupang, Padang, Sumatera, Aceh, dan daerah lain-nya.

“Pembuatan masker ini tergantung pesanan. Sehari bisa lima ribu buah, dan satu lusin Rp30 hingga Rp35 ribu,” tandas Fitri.

Salah satu pekerja pembuat masker, Nurlaila mengakui, dirinya sudah bekerja dari tiga bulan yang lalu, setelah di PHK dari tempatnya bekerja, yang juga sudah bisa menjahit.

“Tempat kerja sebelumnya bangkrut. Memang pekerjaan saya menjahit di tempat sebelumnya,” tandas perempuan asal Tambun Selatan ini. (pra)

Related Articles

Back to top button