BekasiKesehatan

Duh, Obat Sudah di Pesawat, Nyawa Idhar Tak Tertolong

RADARBEKASI.ID, BEKASI-Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga besar dokter. Idhar Karim (53), salah satu dokter yang juga pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bidang Mitigasi dan Kebencanaan, wafat Jumat (6/11) karena positif Covid-19.

Dramatisnya, kematian dokter yang juga warga Jatiwaringin, Pondokgede, Kota Bekasi itu hanya berselang beberapa jam sebelum terapi steam cell akan dijalaninya.

Novel Basalamah, sahabat karibnya mengungkapkan, terapi stem cell memang akan dijalani Idhar Karim sebagai salah satu upaya menyembuhkannya dari Covid-19.

’’Obatnya sudah di pesawat dari Unair. Jam lima pasiennya kritis. Sudah dipertahankan 45 menit. Akhirnya lewat,’’ ungkap Novel yang juga pengurus IDI Bidang Mitigasi dan Kebencanaan dan tinggal di Cikunir, Jatiasih, Kota Bekasi.

Idhar Karim merupakan dokter ASN di RSUD Pulau Laut Kepulauan Natuna. Alumnus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini juga dikenal sebagai aktivis Wanadri dan Mapadok (Med-A).

Kiprahnya tercatat dalam berbagai peristiwa bencana di Indonesia, seperti tsunami Aceh, Gempa Padang, Lombok, Palu dan tsunami Maumere

Idhar Karim pertama dinyatakan positif Covid-19 setelah menjalani tes PCR di RS Sisma Medika (RS Harum), Kalimalang pada 29 Oktober 2020. Dua hari kemudian, 31 Oktober dirujuk ke RS Pertamina Jaya. ’’Sempat sadar. Kemudian sesak nafas hebat, pasang ventilator, tak sadarkan diri lagi. Jumat meninggal,’’ ungkap Novel, yang juga pendiri Mapadok Med-A. (zar)

Related Articles

Back to top button