Covid-19Kesehatan

Cerita Dokter Klinik Hadapi Masa Pandemi Covid-19

Dokter Meidy di Klinik Dokter A. Novel, Jakamulya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Sudah hampir menginjak sembilan bulan pandemi Covid-19 di Indonesia. Berbagai sektor merasakan dampaknya. Tidak terkecuali, para dokter yang membuka praktek klinik mandiri di berbagai daerah.

LAPORAN, ZAENAL ARIPIN

JAKAMULYA, BEKASI

Rabu 25 November 2020, malam itu menunjukkan pukul 19.00. Ruang tunggu di Klinik Umum Dokter A. Novel dan Dokter Meidy terdapat dua pasien. Satu pasien perempuan lanjut usia dan seorang pria muda.

Sekitar lima meter dari ruang tunggu itu, dokter Novel tampak memeriksa pasien lainnya. Dokter Novel mengenakan masker medis. Begitu juga pasiennya.

Di depan pintu masuk klinik, terdapat tempat mencuci tangan. Lengkap dengan sabunnya. Di pintu masuk terpampang tulisan, ‘Pasien Wajib Pakai Masker’.

Sejajar dengan pintu masuk, tepatnya di sebelah utara, tampak apotik yang juga dikelola dokter Novel dan keluarganya. Seorang karyawan terlihat sibuk melayani dua pembeli obat.

Mengetahui ada wartawan berkunjung ke kliniknya, dokter Novel keluar sebentar dari ruang prakteknya. ’’Sebentar ya, periksa pasien dulu nih,’’ ungkap dokter dengan tiga anak ini saat ditemui di kliniknya, Klinik Dokter A. Novel dan Dokter Meidy, Jakamulya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (25/11/2020).

Satu per satu pasiennya dipanggil, diperiksa, diberi penjelasan penyakitnya, lalu diberi resep obat. Atau diberi surat rujukan bila harus dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis lain.

Tak jarang, dokter Novel juga meminta ‘bantuan’ istrinya, yaitu dokter Meidy, bila ada pasien perempuan yang perlu mendapat bantuan pemeriksaan dari sang istri.

Seperti malam itu, saat ada pasien perempuan berusia lanjut usia mengalami keluhan di bagian vaginanya. ’’Mey, Mey, coba lihat ini (pasien) dulu sebentar,’’ katanya saat meminta tolong sang istri.

’’Sepi semua Nal, dampak pandemi ini. Pasien yang datang turun 50 persen. Malah pernah sehari cuma satu pasien yang datang,” ungkapnya mengawali pembicaraan kami malam itu.

”Setiap akhir bulan, jantung aku makin deg-degan. Bisa bayar karyawan apa gak nih. Belum bayar yang lain-lainnya,’’ kata dokter Novel lagi.

Beruntung, sambung dia, selama pandemi ini hak-hak karyawan yang bekerja di klinik dan apotiknya masih bisa dibayarkan. ’’Aku dan keluarga gak mikir lebihnya. Yang penting karyawan terbayarkan aja udah cukup,’’ ungkapnya.

Sejak pandemi melanda, sambung dokter Novel, dirinya tetap membuka kliniknya secara normal. Tidak pernah libur. ’’Kalau aku libur, kasihan masyarakat yang mau berobat,’’ imbuhnya.

Diakuinya, selama pandemi Covid-19 ini, rumah sakit dan tempat praktek dokter sering dianggap sebagai sarang Covid-19. Meski dirinya sempat waswas beberapa waktu lalu, dia tetap berpraktek.

’’Pokoknya, setiap pasien yang datang wajib pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Klinik ini disemprot disinfektan setiap hari dua kali. Pagi dan sore,’’ ungkapnya.

Untuk mencegah Covid-19 menyerang dirinya, Novel sendiri punya tips khusus. ’’Setiap habis praktek, saya cuci tangan pakai sabun. Hidung juga dibersihkan pakai sabun dan saya berkumur-kumur sampai ke tenggorokan dengan obat antiseptic,’’ bebernya yang diakui hingga saat ini cukup ampuh.

Tips satu lagi, dia tak lupa membaca basmalah saat memeriksa pasien. ’’Saya pakai masker saja. Pernah pakai face shield, malah berembun. Pakai baju APD gerah, gak nyaman. Akhirnya bismillah dan maskeran saja,’’ paparnya.

Diakuinya, virus Covid-19 ini sangat kecil berukuran 0,1 mikron. Dengan ukuran sekecil itu, dokter Novel mengatakan, masker atau APD jenis apa yang tidak bisa ditembus virus tersebut.

’’Masker medis saja mungkin, hanya yang N95 yang kualitasnya lebih baik. Masker lainnya, apalagi masker medis yang ekonomis harganya, masih bisa tembus. Jadi, ya bismillah saja sambil terus menyempurnakan ikhtiar setiap lepas praktek,’’ paparnya panjang lebar.

Menurutnya, jauh sebelum Maret atau sebelum Presiden Joko Widodo mengumumkan pasien nomor satu Covid-19 di Indonesia, dirinya sudah sempat menemukan pasien dengan gejala Covid-19.

’’Kalau tidak salah sekitar Desember 2019, sudah ada pasien saya yang mengeluh terserang flu disertai demam, batuk dan merasakan hilang rasa indera penciumannya. Mungkin kalau sudah diumumkan pemerintah waktu itu, pasien tersebut termasuk Covid,’’ bebernya.

Menurut dokter Novel, Covid-19 ini menjadi mengerikan dan berdampak kematian pada penderitanya, lantaran ada badai sitokin atau cytokine strom yang merupakan reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh.

’’Begitu virus Covid-19 masuk, sel-sel darah putih akan merespon dengan memproduksi sitokin. Sitokin ini protein yang dihasilkan untuk melakukan berbagai fungsi penting penanda sinyal sel,’’ jelas dokter alumnus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah ini.

Pada kondisi normal, lanjut dokter Novel, sitokin hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respon kekebalan tubuh tiba di area infeksi. Tetapi akan menjadi badai sitokin karena sitokin terus-terusan mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

’’Nah, paru-paru bisa terjadi peradangan karena sistem kekebalan tubuh itu terus menerus membunuh virus. Dan peradangan paru bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. Jadi badai sitokin ini salah satu penyebab kematian pasien Covid-19,’’ papar dokter yang juga pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.

Selama peradangan, sambung dokter Novel, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru. ’’Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga pasien sulit bernafas. Kondisi inilah yang membuat pasien Covid-19 akhirnya meninggal dunia,’’ pungkasnya.

Related Articles

Back to top button