Berita UtamaPendidikan

PTMT di Sekolah Luar Biasa, Pengawasan Lebih Ekstra

BELAJAR: Siswa salah satu SLB di Kabupaten Bekasi mengikuti PTMT. Selama pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini, satuan pendidikan melakukan pengawasan lebih ekstra kepada siswa. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB) sudah dilaksanakan mulai Oktober 2021 ini. Selama pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini, satuan pendidikan melakukan pengawasan lebih ekstra kepada siswa.

Berdasarkan data Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah III, jumlah SLB sebanyak 21 sekolah. Rinciannya, 10 SLB di Kabupaten Bekasi dan 11 SLB di Kota Bekasi.

Kepala SLB Negeri Kabupaten Bekasi Suherman mengatakan, PTMT di sekolah yang dipimpinnya baru dimulai pada 11 Oktober 2021. Lebih lambat dari sekolah umum.

“Sekolah pada umumnya melaksanakan PTMT sejak September, tetapi kami membutuhkan waktu untuk persiapan yang lebih matang,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (20/10).

Selain harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, PTMT di SLB dibatasi maksimal 50 persen dari total siswa per kelas. Suherman menyebut, jumlah siswa per kelas di SLB berbeda dengan sekolah umum.

“50 persennya kita sedikit, beda dengan sekolah umumnya. Misalnya punya siswa 6 orang dalam 1 kelas, berarti dalam 1 kelas dibagi 3 orang,” ucapnya.

Meskipun jumlah siswa tidak cukup banyak, diakui pihaknya membutuhkan pengawasan yang cukup ekstra kepada siswa. Menurutnya, siswa SLB cukup sulit untuk diberikan pemahaman tentang jaga jarak maupun penggunaan masker.

“Pengawasannya lebih ekstra karena siswa kami harus terus menurut diberikan pemahaman, tapi alhamdulillah siswa tidak begitu sulit meskipun kadang suka buka masker, kalo kita melihat langsung kami tegur,” jelasnya.

Terkait pembatasan jemput antar jemput siswa, kata dia, kerap kali mengalami kesulitan dalam mengatur. Pasalnya masih ada beberapa siswa yang ingin diantarkan sampai ke dalam kelas oleh orang tuanya.

“Makanya kita kerahkan guru stand by di depan gerbang, karena memang ada beberapa siswa tidak banyak, yang maunya diantar sampai ruang kelas, padahal kan ketentuannya cuma sampai depan gerbang saja mengantarnya,” ucapnya.

Adapun proses PTMT dilakukan selama 2-3 jam, tanpa jeda waktu untuk beristirahat keluar. Siswa hanya boleh beristirahat di dalam kelas dan memakan bekal yang dibawanya dari rumah.

“Ini juga ekstra karena kan siswa kadang penginnya keluar kalau sudah bosen. Ini juga harus diberikan pemahaman terus sama siswa,” terangnya.

Hal senada disampaikan Kepala SLB As-Syafiiah Pawastri mengungkapkan, bahwa pelaksanaan PTMT di sekolahnya baru terselenggara pada 4 Oktober 2021 lalu.

“Kami baru melaksanakan PTMT pada Oktober, karena memang kesiapannya harus matang sekali. Salah satunya surat perizinan PTMT,” ucapnya.

Dari pelaksanaan PTMT yang sudah berlangsung dua minggu lebih ini, sekolah melakukan pengawasan yang cukup ekstra pada siswa.

“Membutuhkan pengawasan yang ekstra, karena memang saat sekolah normal saja kita ekstra sekali untuk mengajarkan siswa. Apalagi di masa pandemi, prokes menjadi pengawasan tambahan kami membuat kami guru harus siap betul,” terangnya.

Namun, dikatakan Pawastri, bahwa pelaksanaan PTMT membuat guru lebih senang. Sebab tenaga pendidik dapat bertemu secara langsung oleh siswa.

“Guru terlihat lebih senang begitu juga dengan siswanya, jadi pengawasan yang dilakukan tidak terasa berat bagi kami sekolah dan guru,” ucapnya.

Ia menjelaskan, saat PTM normal orang tua siswa dapat menunggu anaknya sampai pulang sekolah. Namun untuk saat ini orang tua siswa tidak diizinkan untuk menunggu.

“Takut menunggu siswa menimbulkan kerumunan orang tua, makanya kalau siswa sudah diantar mereka orang tua siswa kami minta untuk pulang. Dan menjemput kembali setelah pelaksanaan PTMT selesai,” tuturnya. (dew/oke)

Related Articles

Back to top button