Oleh: Dahlan Iskan
Saya tertegun ketika tiba di depan dinding yang memajang ilustrasi ini: gerobak dengan satu roda di bagian depannya. Gerobaknya terbuat dari kayu. Rodanya pun dari kayu.
Teknologi gerobak dengan satu roda ternyata sudah dipakai sejak 1.000 tahun lalu. Yakni ketika Tiongkok membangun Great Canal di tahun 1000. Lihatlah: alat angkut tersebut sudah dipakai. Berarti sudah ditemukan jauh sebelum itu.
Beberapa kali saya tertegun di museum Great Canal di kota kecil Huai An, bagian utara provinsi Jiangshu. Sebagai kota kecamatan kok punya museum seperti ini. Ketika Anda masuk ruang pertama langsung diarahkan naik trap. Sampailah ke anjungan. Anda menghadap layar yang besar dan luasnya selebar dan seluas dinding.
Di situ Anda berpegangan pada pagar besi, seolah sedang di anjungan kapal. Setelah semua orang berpegangan layar di dinding depan Anda berubah jadi sungai. Anda serasa berada di sebuah kapal yang sedang mengarungi laut. Itu bukan laut. Itu sungai. Kanal. Sungai buatan manusia. Di situ digambarkan perairannya sangat luas untuk mendapatkan efek dramatis: bahwa kanal itu bisa untuk berlayar banyak kapal.
Sambil tetap berdiri di tempat, Anda serasa dibawa berlayar dari ujung kanal itu: di kota Hangzhou. Anda diajak menyusuri sungai ke arah kota Suzhou. Terus ke utara melewati kota Wuxi. Ke utara lagi melewati kota Yangzhou. Lalu sampailah di kota Huai An. Kapal berhenti di situ.
Di museum ini Anda tidak hanya melihat peninggalan benda-benda kuno. Anda diajak aktif menyusuri sungai sepanjang 1.800 kilometer hanya dalam waktu 10 menit. Kadang digambarkan gelombangnya agak besar dan Anda seperti merasakan bergoyang seakan nyaris terlempar ke sungai.
Dari Huai An Anda diajak melanjutkan perjalanan lebih ke utara sampai akhirnya tiba di kota Beijing. Tujuan utama kapal-kapal yang lewat kanal itu memang Beijing: membawa bahan makanan ke ibu kota.
Ketika layar padam barulah Anda tersadar bahwa Anda masih berada di tempat berdiri. Anda masih di dalam museum.
Gerobak satu roda itu sekarang, di Indonesia, disebut arco. Terbuat dari besi dan lembaran besi. Rodanya ban karet.
Alat angkut itu disebut arco tanpa sengaja. Nama itu awalnya nama merek lalu menjadi nama umum –lebih simpel dari pada menyebutkannya dengan ”gerobak satu roda”.
Padahal arco itu awalnya merek gerobak: Artco. Produksi Medan. Tahun 1970-an. Saat mulainya banyak pembangunan di awal masa Orde Baru.
Begitu besarnya penguasaan pasar Artco akhirnya para tukang dan kontraktor menyebutnya arco.
Padahal yang beredar luas sekarang tidak hanya merek arco. Sudah tak terhitung banyaknya merek non Artco.
Melihat arco kayu di museum Huai An saya diam-diam mengagumi teknologinya. Teknologi tepat guna yang boleh dibilang abadi. Jarang teknologi yang masih tetap dipakai selama lebih 1.000 tahun.
Lihatlah arco di museum Huai An itu. Bandingkan dengan arco yang dipakai sekarang. Praktis tidak ada perubahan.
Rupanya sejak 1.000 tahun lalu pun teknologi satu roda ini dianggap sudah sempurna. Di zaman digital dan robot pun penjualan arco tetap tinggi: praktis, murah, awet, tanpa listrik, hemat tenaga manusia.
Jarang ada teknologi terapan yang tetap relevan dalam ribuan tahun. Sendok dan sumpit bisa Anda sebut salah satunya. Sejak zaman dulu bentuk sendok relatif tidak berubah. Pun sumpit.
Pisau rasanya juga sama. Bentuk dan kegunaam pisau tidak banyak berubah. Hanya alat pertanian garpu yang rasanya sudah hilang. Saya tidak pernah lagi melihat petani menggunakan garpu.
Di Huai An saya tidak mendapat kepastian siapa penemu arco. Di sana umumnya orang mengetahui penemunya adalah Zhuge Liang –meski belum pasti.
Zhuge Liang hidup di tahun 181, meninggal di usia 54 tahun. Zaman dulu banyak tokoh penting meninggal di usia muda: belum ditemukan obat infeksi dan kuman.
Meski umurnya pendek, jasa Zhuge Liang panjang. Ia ahli strategi. Genius. Bijaksana. Akhirnya jadi perdana menteri di zaman Tiga Negara.
Zhuge Liang sudah dianggap setengah dewa. Patungnya dibuat untuk disembah di kelenteng: dewa kebijaksanaan. Ada pula yang menyejajarkan nama Zhuge Liang dengan Sun Tzu.
Teknologi arco kayu itu kemudian sampai Eropa. Di sana diubah menjadi berbahan baja. Roda satu yang diletakkan di depan itu ternyata sudah memenuhi prinsip fisika yang sangat sempurna: memindahkan pembebanan maksimal di titik ban itu.
Ilmu fisika belum lahir saat itu tapi prinsip fisika sudah ada dalam kehidupan nyata di sana. (Dahlan Iskan)











