Disway

Andhika Thatcher

Oleh: Dahlan Iskan

MESKI kalahan, bagaimana lagi. Tetap saja harus menonton. Toh tinggal hidupkan TV.

Perasaan saya pun sudah saya tata: agar bisa menerima kekalahan itu lagi. Kan lawannya kali ini berat: Persija Jakarta.

Lawan tim selemah Persela Lamongan saja 1-1. Bahkan lawan tim papan bawah seperti Borneo pun kalah.

WANI!

Saya lirik layar kaca itu. Perhatian saya terbagi. Saya harus mengikuti acara dialog di Metro TV. Lewat Zoom. Yang membahas masa depan BUMN. Saya salah satu narasumbernya.

Tiba-tiba terjadi gol itu. Oleh Taisei Marukawa, pemain asal Jepang itu. Ternyata Persebaya justru menang: 1-0. Peringkatnya pun naik ke urutan 5.

Baru sekali itu Persebaya clean sheet. Sejak Liga 1 diputar tanpa penonton selama pandemi.

Sebenarnya hampir saja Persebaya kebobolan. Tandukan kepala pemain asing Persija itu begitu dekat. Mungkin hanya dari jarak tiga meter. Juga begitu terarah: dekat tiang kanan. Bagian bawah pula.

Kiper Persebaya berhasil menghalaunya. Dengan jibakunya. Kiper itu sampai 12 kali menyelamatkan gawang Persebaya. Pun sampai menit-menit terakhir. Tegangnya bukan main: Persija menggempur habis-habisan.

Tapi kiper itu selalu saja berhasil menangkap bola.

Begitu peluit panjang berbunyi, sang kiper berjalan menuju tengah lapangan. Langkahnya gontai. Lalu tersungkur ke tanah. Ia menangis.

“Saya teringat ibu. Saya menangis untuk ibu,” ujar Andhika Ramadhani, sang kiper.

Umurnya baru 21 tahun.

Ia kiper cadangan, itu pun cadangan kedua (kiper ketiga). Mestinya amat kecil peluang bagi dirinya untuk bisa tampil. Kalau pun kiper utama berhalangan, masih ada kiper cadangan.

Itulah yang jadi topik tulisan ini. Takdir. Bukan tentang Persebaya.

Kiper utama Persebaya ternyata cedera. Agak berat. Sampai Maret tahun depan pun belum tentu bisa pulih. Kiper cadangan tiba-tiba dipanggil PSSI untuk ikut pemusatan latihan bagi tim nasional.

Andhika tiba-tiba menjadi satu-satunya pilihan: harus turun ke lapangan. Lawannya sangat kuat: pemimpin sementara klasemen, PSIS Semarang.

“Saya grogi. Mental saya down,” ujar Andhika. Persebaya kalah. Ia tidak bisa tidur. Ia bertekad untuk menguatkan mental.

Persebaya sebenarnya mendapat kiper baru. Andhika bisa tersisih lagi. Ternyata kiper baru itu belum vaksin. Tidak bisa dipasang. Andhika ”terpaksa” dipasang lagi. Mainnya bagus. Persebaya menang. Saya lupa melawan mana. Rasanya melawan Sleman. Itu tidak penting. Dan kemarin Persebaya menang lagi. Bahkan clean sheet. Andhika sampai menangis, bahagia. Padahal gempuran begitu bertubi-tubi.

Tinggi badan Andhika 182 cm. Kurang tinggi, tapi sudah cukup ideal untuk kiper di Indonesia. Kiper utama masih belum sembuh. Kiper cadangan masih lama di pemusatan latihan tim nasional.

Andhika mulai membuktikan kemampuannya. Ia punya kesempatan tampil lagi. Dan tampil lagi. Mentalnya kian kuat. Di umurnya yang 21 tahun.

Andhika adalah contoh klasik pesepak bola Indonesia: dari keluarga miskin. Sejak kecil ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya meninggal ketika Andhika masih balita.

“Ternyata ayah saya sebenarnya tidak meninggal,” ujar Andhika kemarin.

Ia tidak pernah tahu kalau ayahnya sebenarnya masih hidup. Pindah dari Surabaya ke Jatiroto: kawin lagi di sana.

Sang ibu lantas jualan kopi, teh, dan kue: buka warung di dekat terminal di Perak, Surabaya Utara. Andhika ikut ke warung itu. Ikut membantu cuci gelas dan piring. Bertahun-tahun. Setelah lebih besar ikut melayani pembeli: menyajikan kopi atau teh.

Ketika Andhika sudah masuk ke SMA (Hang Tuah 1 Surabaya), ada orang yang memberi tahunya: ayahnya meninggal dunia.

Saat itulah sang ibu menjelaskan: dulu itu dia memang berbohong –untuk kebaikan sang anak. Andhika bisa menerima itu. Lalu ke rumah duka.

Ternyata istri kedua yang di Jatiroto itu sudah lebih dulu meninggal. Tidak lama kemudian sang ayah juga sakit keras. Lalu dibawa ke Surabaya lagi oleh anaknya yang lain lagi, dari istri yang pertama. Berarti yang di Jatiroto itu istri ketiga.

Berarti ibu Andhika adalah istri kedua. “Menurut ibu, ayah saya dulu tukang parkir,” katanya.

Itulah untuk kali pertama Andhika tahu wajah ayahnya: sudah menjadi mayat. Andhika lantas ikut mengantarkan jenazah itu ke makam.

“Ibu saya juga ikut melihat jenazah ayah. Bersama saya. Ibu kan tidak pernah bercerai dengan ayah,” ujar Andhika.

Kini sang ibu tetap jualan kopi dan teh. Tapi lokasinya sudah di ruko. Sedang rumahnyi tetap di sebuah gang sempit di kawasan Kalimas Baru. Di situ pula Andhika tinggal bersama sang ibu. Kalau lagi tidak ada kegiatan sepak bola ia masih membantu sang ibu di warungnyi itu.

Sebelum dikontrak Persebaya, Andhika sempat jadi tukang parkir. Juga sempat setahun menjadi driver Gojek.

Kini, sebagai pemain sepak bola profesional, Andhika mulai punya penghasilan yang lumayan. Kemampuannya sebagai kiper terlihat oleh publik. Ia bisa menjadi bintang –kalau tetap bisa rendah hati dan tidak mudah tergoda yang aneh-aneh.

“Ibu bangga sekali saya bisa dikontrak Persebaya,” ujar Andhika. Ia tahu betapa besar pengorbanan ibunya. Yang harus hidup seorang diri. Sampai bisa menyekolahkannya hingga tamat SMA.

Andhika tahu sang ibu tidak mau menonton dirinya tampil di TV. “Ibu merasa tidak kuat. Deg-degan terus,” ujarnya.

Tentu Andhika masih punya waktu untuk memperbaiki kondisi badannya. Ia harus tahu: di masa kecilnya kurang asupan gizi. Ibunya sering harus menangis. Andhika-kecil sering sudah membawa piring untuk minta makan. Tapi tidak ada nasi yang bisa diberikan.

Saya ingat kejadian di Inggris beberapa tahun lalu. Ketika begitu banyak pemain bola di sana yang cedera.

Seorang tokoh oposisi langsung menuduh. “Semua ini salah Margaret Thatcher,” ujarnya.

Apa hubungannya?

Inilah penjelasan sang oposisi: “Duluuuuu, ketika Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris, dia menghapuskan ransum susu di sekolah-sekolah dasar.” (Dahlan Iskan)

Related Articles

Error, no group ID set! Check your syntax!
Back to top button