Politik

Noer Ali di Mata Sang Cucu, Wali Kota Bekasi dan LDII

Pahlawan, Panutan dan Pendidik

FOTO BERSAMA : Walikota Bekasi Rahmat Effendi, bersama sejumlah tokoh masyarakat foto bersama usai kegiatan webinar kebangsaan, belum lama ini. ISTIMEWA/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Bekasi gelar webinar kebangsaan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Acara ini bertajuk Meneladani KH Noer Alie Sebagai Tokoh Pahlawan Bekasi untuk Bangkitkan Semangat Juang Generasi Penerus LDII, di Wisma Azizziyah Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, belum lama ini.

“Dari webinar Kebangsaan bermaksud untuk memberikan kontribusi sekecil apapun, salah satunya dari 8 bidang Kontribusi LDII untuk bangsa yaitu Wawasan Kebangsaan,” tutur Ketua DPD LDII Kota Bekasi, H. Ary Widjanarko.

Ary menambahkan, pendidikan sejarah untuk generasi muda harus terus dilanjutkan dan dilestarikan, karena sejarah harus terus tumbuhkan jiwa nasionalisme di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

“Intinya, kami juga turut beri apresiasi bahwa Pemerintah Kota Bekasi telah mendapatkan penghargaan sebagai kota toleransi oleh Kementerian Agama RI. LDII akan terus ikut serta dalam penanganan Covid 19. Hal ini bertujuan supaya masyarakat dapat memulai aktivitas seperti sedia kala,” imbuh Ary.

Senada dengan Ary, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi berharap generasi muda LDII belajar sejarah sebagai kota perjuangan di masa revolusi. “Kota Bekasi dikenal melahirkan nama-nama pejuang kemerdekaan. Namun hanya sedikit bagi warga Bekasi, mungkin hanya kenal KH Noer Ali. Padahal ada juga Mayor Madmuin Hasibuan sebagai nama jalan terkenal di wilayah pusat kota,” ujar Bang Pepen, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Bekasi ini.

Menurutnya, KH Noer Ali memimpin laskar-laskar rakyat untuk bisa bertempur merebut kemerdekaan, bahkan pernah juga menjadi Komandan Batalyon dari Tentara Hizbullah Bekasi. “Taktik hizbullah terus terkenang oleh anak dan cucu dan tentunya umat islam yang menghormatinya. Oleh karena itu, kita perlu menghargai jasa perjuangan pahlawan kita. Bersama KH Noer Ali, Mayor Hasibuan dan pejuang lainnya, kita harus meneladani dan mencontoh perjuangan mereka,” harapnya.

Menurutnya, cinta Tanah Air merupakan bagian iman dan implementasi perjuangan rakyat di masa kini. “Dengan cara meneladani jasa pahlawan, budaya lokal dan nusantara, menghargai antara suku bangsa itu sudah menjadi alat perjuangan di masa sekarang ini. Tidak hanya itu, rasa toleransi terhadap sesama umat beragama, dan Kota Bekasi harus ditumbuhkan,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Pondok Putra Pesantren Attaqwa Bekasi, KH. Husnul Akmal Mas’ud berharap. Masyarakat tak melupakan sejarah. “Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang kerap diucapkan Soekarno. Namun, saya memiliki semboyan lain yakni jas hijau, jangan sekali-kali menghilangkan sejarah ulama,” ujar KH Khusnul.

KH Khusnul menceritakan, Sang Kakek setelah pulang dari Makkah pada tahun 1940, KH. Noer Ali mendirikan pesantren di kampung halamannya. “Ini bertujuan, untuk memajukan umat dari keterbelakangan yang mereka alami. KH. Noer Ali berkeyakinan bahwa kemajuan umat tidak dapat dicapai kecuali hanya dengan Pendidikan,” ceritanya.

“Saya sangat merasakan bagaimana kakek mendidik cucu nya, terutama dalam membaca Al Quran, Pendidikan adalah penting, ditambah peran orang tua dalam mendidik, mengayomi dan membina. Ungkap KH Husnul,” imbuhnya.

Noer Ali, lanjut dia, juga berkeinginan tuk membentuk “kampung surga”. Yakni dengan kampung yang anggota masyarakatnya itu mandiri secara ekonomi, dan secara agamis masyarakat bersandar kokoh kepada akidah, syariah dan akhlak. ” Dan sekarang ini masih berdiri di ujung harapan dalam rangka untuk pembinaan umat islam,” pungkasnya. (mhf)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button