RADARBEKASI.ID, BEKASI – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina 34.175.41 di Jalan Inspeksi Kalimalang, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, memasang roll banner bertuliskan, “Guna Penyalahgunaan BBM Subsidi dan Keamanan, Kami Tidak Melayani Pengisian BBM Berulang Terutama Motor Thunder dan Tangki Modifikasi.” Pengumuman itu dipasang di samping dispenser pada jalur Pertalite khusus sepeda motor.
Wahyu, penjaga warung yang juga menjual bensin eceran di Tambun Selatan, mengaku kini semakin kesulitan memperoleh BBM subsidi untuk dijual kembali.
Menurutnya, kesulitan mendapatkan pasokan Pertalite sudah mulai dirasakan sekitar sepekan sebelum pemerintah mengumumkan penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamax
“Sekarang nyari Pertalite buat dijual lagi susah luar biasa. Antriannya panjang sekali, belum lagi pengawasan di SPBU makin ketat. Kalau ketahuan bawa motor tangki besar atau bolak-balik pasti langsung ditegur dan ditolak sama petugasnya,” ujar Wahyu, Kamis (18/6).
Menanggapi pengumuman di SPBU itu, Area Manager Communications, Relations, and CSR Regional JBB Pertamina Patra Niaga, Susanto August Satria, meluruskan pengumuman tersebut. Menurut Satria, pengumuman tersebut ditujukan kepada sepeda motor Thunder yang tangkinya telah dimodifikasi atau disebutnya “tangki hamil”.
Menurutnya, sepeda motor dengan tangki modifikasi kerap digunakan untuk membeli Pertalite secara berulang kemudian ditampung dan diperjualbelikan kembali.
“Motor Thunder yang tangkinya dimodifikasi itu untuk mengetap, mengetap itu membeli Pertalite, lalu dia (pembeli,red) tampung di suatu tempat atau kios kemudian diperjual belikan. Itu adalah tindakan tidak bijak,” ungkap Satria kepada Radar Bekasi, Kamis malam (18/6).
Terkait kekhawatiran bahwa pengumuman tersebut dapat menimbulkan kesan diskriminatif terhadap pengguna sepeda motor Thunder, Satria akan menyampaikan masukan itu kepada pengelola SPBU.
“Kami akan sampaikan masukan ini ke pengelola SPBU,” ucapnya.
Ia menegaskan, pembelian BBM subsidi harus dilakukan secara wajar dan bijak agar penyalurannya tepat sasaran dan tidak mengganggu ketersediaan pasokan
“Beli itu yang wajar dan bijak, supaya BBM-nya bisa dipergunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan masyarakat dan tidak menjadi kesulitan dalam rantai pasokannya nantinya,” jelasnya.
Satria menjelaskan, pemasangan pengumuman tersebut tidak diterapkan di seluruh SPBU. Menurutnya, pemasangan itu dilakukan oleh pengelola SPBU. Kebijakan itu dilakukan berdasarkan pengalaman masing-masing SPBU dalam menghadapi potensi penyalahgunaan BBM subsidi.
“Ada SPBU yang menemukan motor Thunder tangki modifikasi atau tangki hamil bolak-balik mengisi BBM subsidi, sehingga dibuat pengumuman seperti itu. Kalau di SPBU tersebut tidak ditemukan pengalaman seperti itu, tentu tidak dipasang oleh pihak SPBU,” tuturnya.
Satria mengakui, setelah penyesuaian harga Pertamax terjadi perubahan pola konsumsi pada kendaraan roda dua yang berdampak pada meningkatnya penggunaan Pertalite. Kondisi tersebut membuat penyerapan Pertalite di sejumlah SPBU berlangsung lebih cepat dibandingkan biasanya.
Ia memastikan, pasokan Pertalite di wilayah Bekasi saat ini dalam kondisi aman. Pertamina telah mengantisipasi kebutuhan berdasarkan evaluasi di lapangan.
“Aman (pasokan,red). Sudah diantisipasi dan berdasarkan studi dari pengalaman sehari dua hari (setelah penyesuaian harga Pertamax,red),” tegasnya. (ris/oke)











