Metropolis

Remaja Rentan jadi Korban

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN- Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi mencatat ada 26 kasus pelecehan seksual yang dialami anak-anak muda, atau kaum milenial dengan usia remaja dibawah usia 17 tahun.

Hal tersebut diungkapkan Komisioner Bidang Data dan Informasi Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Firli Zikrillah.

“Jadi, saya perkirakan umur dari para korban pelecehan seksual di Kota Bekasi itu berkisar antara usia 12-15 tahun, atau masuk dalam masa pubertas yang diluar kontrol orangtua,”  kata Firli, Selasa (23/11).

Dikatakan Firli, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi terhitung sejak 1 Januari 2021 hingga 25 Oktober 2021 ada 26 laporan terdiri dari kasus pelecehan seksual, pencabulan, serta pemerkosaan. “Karena kita belum tutup buku, maka kami perincian yang dimana ada 12 kasus pelecehan seksual, pencabulan 2 kasus, pemerkosaan 3 kasus, persetubuhan 9 kasus,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, KPAD sudah melakukan proses recovery mental serta psikis yang dialami korban. Adapun untuk proses pencegahan, pihaknya pun memiliki program yang sudah dilakukan, diantaranya program rumah layak anak yang merupakan salah satu masterpiece, ada juga itu sekolah layak anak,serta sosialisasi di berbagai media cetak maupun elektronik.

“Jadi, sejauh ini kita terus kampanyekan soal pencegahan terkait kasus kekerasan seksual pada anak,” tegasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Rudy Heriansyah mengaku miris dengan kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak remaja yang merupakan para generasi penerus bangsa, khususnya itu di Kota Bekasi. Dia mendorong seluruh pihak baik pemerintah Kota Bekasi, aparat penegak hukum, khususnya masyarakat umum untuk bisa sama-sama memberikan perhatian yang ekstra bagi anak-anaknya.

“Mereka ini adalah para generasi penerus bangsa, dan kasus semacam itu tentu jadi bagian yang merusak moral bangsa juga ya. Artinya, menurut saya pribadi tentunya minta seluruh pihak baik pemerintah aparat hukum dan juga seluruh masyarakat dapat bersama memberi pengetahuan kepada anak-anak nya supaya bisa terhindar dari kasus seperti itu,” kata Rudy.

“Dan menurut saya yang paling kuat ini tentu adalah kehangatan dalam keluarga, karena apabila kita sudah betul dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada keluarga, maka perilaku-perilaku menyimpang seperti pelecehan seksual bisa dihindari,” sambung politisi PDI Perjuangan ini.

Selain itu, diakui Rudy, peran seorang guru juga sangat penting dan dibutuhkan dalam membangun mental dan kepribadian anak-anak didiknya, terlebih ditengah berkembang dunia teknologi yang semakin luarbiasa. Dan hal itu tak mungkin bisa dihindari, tapi harus bisa disiasati. Pasalnya dunia teknologi itu juga bisa bermanfaat terhadap perkembangan anak-anak.

 

“Terpenting, bagaimana orangtua dan guru-guru kita mengarahkan anak supaya dapat menjadikan teknologi ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan menjadi hal-hal yang positif dan kreatif tentunya bagi generasi penerus kita tersebut. Sekali lagi, bimbingan, arahan orang tua di keluarga dan guru di sekolah itu yang paling dibutuhkan terlepas juga peran pemerintah baik eksekutif, legislatif dan juga aparat penegak hukum,” tegasnya. (mhf)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button