Berita Bekasi Nomor Satu

Menjaga Langkah di Armuzna  

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suasana Kota Makkah perlahan berubah semakin padat. Jalan-jalan utama mulai dipenuhi lautan manusia berpakaian ihram dari berbagai negara. Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam. Ada yang berbicara Arab, Turki, India, hingga Afrika. Namun tujuan kami sama, memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Seluruh calon jemaah haji asal Kota Bekasi kini sudah berada di Tanah Suci. Termasuk saya bersama rombongan haji mandiri Kota Bekasi yang tengah bersiap menghadapi fase paling menentukan dalam ibadah haji, yakni Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Puncak haji akan dimulai pada 8 Zulhijjah atau Senin, 25 Mei 2026. Hari itu, saya dan ribuan jemaah lainnya asal Bekasi dijadwalkan bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani wukuf.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, suasana hotel tempat kami menginap mulai terasa berbeda. Lorong-lorong hotel tidak lagi seramai biasanya. Banyak jemaah memilih beristirahat di kamar demi menjaga kondisi tubuh. Cuaca di Makkah saat ini sangat panas, mencapai 46 derajat celcius. Bahkan, sebagian jemaah mulai mengalami batuk dan pilek akibat kelelahan.

Sebagai ketua regu, saya hampir setiap saat mengingatkan anggota rombongan untuk menjaga kesehatan. Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa haji bukan hanya ibadah batin, tetapi juga ibadah fisik dan kesabaran.

Dokter kloter juga terus memberikan imbauan agar jemaah rutin minum air putih setiap 10 menit sekali dan tidak menunggu haus. Dalam kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang, dehidrasi bisa datang sangat cepat.

Selain kesehatan, kami juga mulai mempersiapkan barang bawaan yang akan digunakan saat Armuzna. Para jemaah pria menyiapkan kain ihram, sementara jemaah perempuan mulai merapikan pakaian ganti, obat-obatan pribadi, masker, payung, hingga alat pelindung diri lainnya.

Di tengah kesibukan itu, kami menyadari satu hal penting. Saat puncak haji nanti, jutaan manusia akan berkumpul di tempat yang sama. Risiko terpisah dari rombongan sangat besar. Karena itulah, kami mulai menyusun berbagai strategi.

Kami membuat tanda khusus berupa bendera dan sal berwarna mencolok yang akan dipakai seluruh anggota rombongan. Sal itu sengaja dipilih dengan warna terang agar mudah dikenali di tengah kerumunan manusia.

Tak hanya itu, kami juga mengatur pola perjalanan saat berada di Mina, tawaf, maupun sai. Dalam kesepakatan rombongan, jemaah pria ditempatkan di barisan pinggir, sementara jemaah perempuan berada di tengah agar lebih aman. Kami juga membentuk tim khusus, mulai dari pemandu di bagian depan, tim medis di tengah, hingga penyapu atau sweeper di bagian belakang.

Kesepakatan sederhana itu dibuat demi satu tujuan, tidak ada jemaah yang tertinggal atau terpisah dari rombongan.

Hal kecil lain yang ikut kami perhatikan adalah identitas WhatsApp. Seluruh jemaah diminta menggunakan foto profil asli dan nama asli. Sebab, tidak sedikit jemaah yang sebelumnya menggunakan nama samaran atau foto lain di akun WhatsApp mereka.

Selain itu, kami juga mulai mendata jemaah lansia dan mereka yang masuk kategori risiko tinggi atau risti. Para jemaah tersebut nantinya tidak menjalani mabid di Muzdalifah. Mereka akan menggunakan skema murur, yakni hanya melintas di Muzdalifah menggunakan bus sebelum langsung menuju Mina.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyiapkan pola pergerakan jemaah secara ketat untuk mengantisipasi kepadatan massa selama puncak haji berlangsung.

Pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah dibagi menjadi tiga gelombang pada Senin, 25 Mei 2026. Gelombang pertama dimulai pukul 06.00 WAS, gelombang kedua pukul 11.30 WAS, dan gelombang ketiga pukul 17.30 WAS. Pemerintah menargetkan seluruh jemaah sudah berada di Arafah sebelum pukul 24.00 WAS.

Jemaah juga diminta tidak berkumpul di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan masing-masing. Setelah tengah malam, petugas akan melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal di Makkah.

Usai menjalani wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah, perjalanan akan berlanjut menuju Muzdalifah dan Mina. Jemaah non-murur akan turun dan mabid di Muzdalifah, sedangkan jemaah murur langsung bergerak ke Mina tanpa turun dari bus.

Setibanya di Mina, jemaah dijadwalkan melaksanakan lontar Jumrah Aqobah pada 10 Zulhijjah. Selanjutnya, pada 11 hingga 13 Zulhijjah, jemaah menjalani mabid dan melontar Jumrah Ula, Wusta, serta Aqobah sesuai jadwal kloter masing-masing.

Di sela semua persiapan itu, saya terus mengingatkan rombongan agar selalu membawa identitas diri, menjaga kekompakan, dan tidak bepergian sendirian selama fase Armuzna berlangsung.

Di Tanah Suci ini, jutaan manusia memang datang dengan pakaian yang sama. Namun di balik ihram putih itu, setiap orang membawa harapan, doa, dan perjuangan masing-masing.

Kini, kami hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin sambil menunggu hari besar itu tiba. Hari ketika jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah, mengangkat tangan, dan memohon ampunan di hadapan Allah.(*)