Dari Luar Negeri Positif Covid

Ilustrasi warga Singapura beraktivitas di tengah pandemi Covid-19 dengan mengenakan masker. Covid-19 di masa mendatang disebut bakal seperti penyakit flu (MARK CHEONG/ST)

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN –Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, saat ini sedang melakukan pemeriksaan secara periodic kepada salah seorang warga yang baru saja pulang dari turki. Hasil pemeriksaan metode polymerase chain reaction (PCR), warga tersebut positif Covid-19. Pemerintah saat ini tengah mengantisipasi masuknya varian virus Omicron, diantaranya dengan menambah panjang masa karantina bagi pelaku perjalanan internasional, hingga menutup pintu masuk Warga Negara Asing (WNA) dari belasan negara.

 


Aturan ketat bagi pelaku perjalanan internasional tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menteri Perhubungan (Menhub) nomor 106 tahun 2021, mengatur masa karantina menjadi lebih panjang, 10 sampai 14 hari. Sementara itu, pintu masuk ditutup bagi WNA dari 11 Negara, WNI diperbolehkan dengan syarat yang ketat untuk mengantisipasi masuknya Omicron.

 


Hingga awal Desember kemarin, jumlah negara yang telah mengkonfirmasi varian Omicron di wilayahnya mencapai 20 negara. Epidemiolog menyebut Omicron berpotensi menular lima kali lebih cepat, organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengklasifikasikan Omicron ke dalam Variant Of Concern (VOC), yakni varian virus yang menyebabkan peningkatan penularan dan angka kematian sehingga mesti diwaspadai.

 

Upaya dan penanganan masuknya Omicron ini juga tengah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Belakangan didapati satu warga yang datang dari luar negeri positif Covid-19, meski belum diketahui apakah yang bersangkutan terpapar Omicron atau varian virus Covid-19 yang lain.

 

“Ada kemarin yang dari Turki di cek, terus ada yang positif satu. Nah ini sedang kami tangani,” kata Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, Senin (6/12).

 

Salah satu warga tersebut diketahui berusia 71 tahun, yang bersangkutan tengah menjalani isolasi. Rahmat menyebut kehati-hatian kepada warga yang lepas melakukan perjalanan internasional menjadi perhatian saat ini sehingga tidak kecolongan.

 

Sebelum dipastikan jenis varian virus yang menjangkit pelaku perjalanan tersebut, wilayahnya sejauh ini masih aman karena pemerintah pusat telah melakukan antisipasi di pintu masuk Indonesia.

“Omicron itu kan antisipasinya ada di pintu gerbang masuk republik (Indonesia), kalo di kita (Kota Bekasi) belum, karena itu masuknya antar negara, bukan di dalam. Jadi kita aman,” tambahnya.

 

Lebih detail mengenai satu kasus yang ditemukan pada pelaku perjalanan internasional ini, Dinkes Kota Bekasi memastikan telah melakukan tracing pada belasan orang yang melakukan kontak erat selama sepekan berada di Kota Bekasi.

 

Dari tracing yang dilakukan, sedikitnya kepada 15 orang terdekat menunjukkan hasil negatif. Dipastikan salah satu warga tersebut dalam pemantauan kesehatan secara periodic.”Kontak eratnya sudah di tracing teman-teman yang ada di wilayah, dan hasilnya yang pernah melakukan kontak dengan yang bersangkutan itu negatif,” terang Kepala Dinkes kota Bekasi, Tanti Rohilawati.

 

Dipaparkan bahwa yang bersangkutan kini tengah menjalani isolasi mandiri, secara umum gejala yang dialami tergolong ringan.

 

Mengenai kesan bahaya varian virus yang baru ini, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyampaikan bahwa terlalu dini untuk melihat tingkah kematian. Ia menekankan bahwa membahas Covid-19 tidak hanya tentang kematian dan banyaknya orang yang dirawat di RS, melainkan juga fenomena long Covid.

 

Akibat gejala long Covid, ada empat organ vital berpotensi rusak, yakni jantung, paru, ginjal, dan hati, sehingga kualitas hidup masyarakat menurun.”Dan apalagi nanti dalam jangka panjang, jadi bicara dampak bukan hanya bicara kematian, sehingga prinsipnya mencegah harus diutamakan daripada terinfeksi,” paparnya.

 

Sejumlah langkah mitigasi harus dilakukan saat muncul varian virus yang lebih menular, kemunculan varian ini dinilai alarm sangat serius. Sama dengan penanganan pada varian Covid-19 lain, memberikan perlindungan melalui vaksinasi, kemudian deteksi dini dengan cara menemukan kasus, hingga konsistensi terhadap Protokol Kesehatan (Prokes).

 

Dicky mengingatkan dua hal dalam penangannya pandemi, kecepatan penularan virus, dan keparahan. Penanganan akan menjadi lebih sulit jika kecepatan penularan tinggi dan mudah, serta didominasi oleh gejala ringan bahkan tidak bergejala.

 

“Nah ini yang repot seperti Covid-19, dan ini seperti seperti yang 100 tahun lalu, artinya akan sangat menyulitkan untuk pengendaliannya,” tukasnya. (mif/Sur)