Berpulangnya Kiper Potensial Taufik Ramsyah Akibat Benturan di Kepala

TRAGEDI LAPANGAN HIJAU: Taufik Ramsyah semasa membela Tornado FC. Dia memperkuat tim tersebut sejak 2019, (kanan). Taufik Ramsyah (kanan) bersama rekan-rekannya yang mengikuti seleksi Persebaya U-18 saat menonton laga Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. (Jossa Andika untuk Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, Taufik Ramsyah tak sadarkan diri sejak kepalanya terbentur kaki lawan dalam laga Liga 3 Riau. Pernah ikut seleksi di Persebaya U-18, dia sebenarnya ditawari membela klub Liga 2 pada musim ini.

AFIAT ANANDA, Pekanbaru – FARID S. MAULANA, Surabaya


DETIK-DETIK menegangkan itu terus terperam dalam benak Muflihun. Dari sana kesedihan sekaligus kemarahan atas apa yang dialami Taufik Ramsyah berhulu.


”Saat adik kami, Taufik, jatuh dengan kondisi hidung berdarah, ambulans lambat masuk ke lapangan. Bahkan, setelah ambulans datang, penanganan medis tidak maksimal,” ungkap pembina Tornado FC, klub Liga 3 Riau, tersebut kepada Riau Pos.

Taufik meninggal pada Selasa (21/12) malam setelah dirawat di rumah sakit sejak Sabtu (18/12). Kiper 20 tahun itu harus dilarikan ke rumah sakit setelah bertabrakan dengan pemain Wahana FC dalam laga Liga 3 Riau di Stadion Universitas Riau.

Kiper kelahiran Kuantan Singingi, Jambi, tersebut mengalami cedera di kepala. Jebolan PPLP Kuantan Singingi itu dimakamkan di kampung halamannya kemarin (22/12).

”Dia tidak sadarkan diri sejak (setelah tabrakan, Red) itu,” ujar Sekretaris PSPS Riau M. Teza kepada Riau Pos (Radar Bekasi Group).

Kepergian Taufik ini menambah panjang daftar kiper yang mengalami cedera yang mengancam nyawa di tanah air. Penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda bahkan harus kehilangan nyawa setelah berbenturan dengan rekan sendiri dalam laga Liga 1 empat tahun lalu di Stadion Surajaya, Lamongan.

Bagi Muflihun, yang lebih mengecewakan lagi, saat Taufik dirawat di rumah sakit, tak ada seorang pun panitia pelaksana (panpel) Liga 3 yang datang membesuk. ”Bahkan, saat penyelenggaraan jenazah, panpel tidak menunjukkan rasa empati sama sekali,” ungkapnya.

Taufik sebenarnya kiper potensial. Musim ini dia bahkan berkesempatan memperkuat PSPS Pekanbaru. Namun, karena masih ingin menambah jam terbang, dia memilih bertahan di Tornado FC yang diperkuatnya sejak 2019.

”Dia (Taufik) selalu memberikan seluruh kemampuannya di setiap pertandingan. Apa pun itu dia akan memberikan segalanya untuk tim. Almarhum sosok yang totalitas dan loyalitasnya luar biasa,” ujar Febriko Zulkarnain, pelatih Tornado FC.

Duka mendalam juga dirasakan pemain klub Liga 3 Jawa Timur Deltras Sidoarjo, Jossa Andika. Taufik adalah rekan sekamarnya selama seminggu saat mereka sama-sama mengikuti seleksi Persebaya U-18 di Sidoarjo pada 2018.

”Nggak nyangka. Orangnya baik banget, supel, dan ramah,” kenangnya kepada Jawa Pos.

Taufik gagal lolos seleksi Persebaya U-18 ketika itu dan harus pulang kembali ke Riau. ”Dia cedera saat itu. Padahal, kemampuannya bagus sebenarnya. Di atas rata-rata kiper (yang ikut seleksi saat itu),” ungkapnya.

Meski tak pernah lagi bertemu langsung, Jossa dan Taufik tetap berkomunikasi. Baik melalui media sosial maupun WhatsApp. ”Terakhir komunikasi Agustus kemarin. Dia nanyakan soal Liga 3 di Jatim apakah sudah main atau belum,” ujarnya.

Jossa hanya berharap tak ada lagi peristiwa seperti yang dialami Taufik. Bagi dia, cukup sudah kehilangan sahabat, saudara, dan rekan di lapangan. ”Semoga peristiwa ini jadi yang terakhir,” tuturnya.

Bagi pelatih kiper Persebaya Benny van Breukelen, apa yang dialami Taufik kian membuka sebuah luka yang tak kunjung disembuhkan. Khususnya soal penanganan tim medis di lapangan.

”Itulah yang masih harus ditingkatkan. Saya masih prihatin masalah dokter palsu yang baru terbongkar di sepak bola Indonesia,” ujarnya merujuk pada kasus Elwizan Aminudin, eks kepala tim medis PSS Sleman yang belakangan diketahui ternyata dokter gadungan.

Di luar itu, Benny menekankan pentingnya pemahaman mengenai teknik dasar sepak bola. Khususnya untuk para pemain muda. ”Dulu saya pernah cedera patah gigi waktu ambil bola di kaki lawan. Ya, karena dulu masih polos-polos saja ambil bolanya,” kata mantan kiper NIAC Mitra dan tim nasional tersebut.

Menurut Benny, pemahaman dalam mengambil bola bisa meminimalkan kejadian seperti yang dialami Taufik. Artinya, seorang kiper harus mengerti kapan bola harus ditangkap dengan kedua tangan atau hanya cukup ditendang dengan kaki.

”Kalau memang lawan datang dengan kecepatan tinggi, ya kiper harus bisa ambil dengan kaki saja, kan tidak selalu bola harus ditangkap,” jelasnya.

Dari rekaman video kejadian yang dialami Taufik, Benny menganalisis kepalanya kurang sejajar dengan tangan ketika mengambil bola dalam pertandingan tersebut. Kepalanya masih di atas tangan yang mengakibatkan terkena benturan sangat keras.

”Peristiwa ini biasanya sering terjadi kalau striker lawan tidak mau lompat sewaktu bola sudah 100 persen dipegang kiper. Apalagi kalau lawan kalah, terkadang jadi lupa fair play,” paparnya. (*/dof/c14/ttg)