Bertemu Komodo Diam Kecewa, Dikejar yang Agresif Terbirit-birit

MIFTAH/RADAR BEKASI DIAM : GM Radar Bekasi Andi Ahmadi berpose dengan Komodo yang dijumpai rombongan GAN Radar Bogor Grup di Kampung Loh Liang Pulau Komodo,(kiri). Se ekor Komodo agresif yang dijumpai Kampung Komodo yang sempat mengejar rombongan.

RADARBEKASI.ID, – PUAS menjelajahi Bukit Padar, Tim Gerakan Anak Negeri (GAN) Radar Bogor Group bersiap ke Pulau Komodo. Di pulau inilah, hewan predator kebanggaan Indonesia dan dunia itu berada. Seperti apa dan bagaimana keadaan tempat habitat hewan purba ini?

Laporan : Miftah
Nusa Tenggara Timur


Berkunjung ke Labuan Bajo, tidak lengkap jika tak mampir ke Pulau komodo. Taman nasional Komodo (TNK) pada tahun 2012 resmi ditetapkan menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia atau New 7 Wonders of Nature oleh New 7 Wonders Foundation.

Waktu menunjukan pukul 07.45 WITA, sebagian rombongan GAN sedang menikmati makan pagi di bagian belakang kapal. Sementara lainnya ada yang mandi, ada juga yang bercengkrama sembari menikmati kopi dan memandang keindahan laut Fores.


Mesin kapal Pinisi Sipakatau mulai menderu. Kapten kapal, Alvian menarik tuas gas dengan pelan-pelan. Kapal dengan mesin 6 silinder tersebut mulai meninggalkan kepulauan Padar, menuju Pulau komodo,”Jika lancar perjalanan sekitar 2,5 jam,”kata Alvian, sembari mengamati kompas penunjuk arah.

Tujuan rombongan GAN kali ini menuju pulau komodo. Jarak antara Pulau Padar dan Pulau Komodo 17,2 kilo meter. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Cuaca pagi itu cukup cerah. Mata bebas memandang keindahan gugusan pulau disepanjang perairan Flores dengan air yang jernih. Indahnya pemandangan pagi itu, membuat mata enggan berpaling. Ombak tak terlalu tinggi, kapal melaju tenang, kecepatan 15km/jam.

Sekitar pukul 10.10 WITA, kapal mulai melambatkan lajunya. Dari kejauhan, kepulauan komodo sudah terlihat. Belasan kapal dengan berbagai ukuran yang membawa wisatawan berlabuh di pantai.

Terlihat juga sejumlah kapal cepat (speed boat) di antara kapal Pinisi. Jenis kapal cepat ini biasanya membawa penumpang yang hanya berwisata sehari.

Satu persatu, rombongan GAN menaiki kapal sekoci menuju bibir pulau. Tepat pukul 10.30 WITA, seluruh rombongan sudah di pulau Komodo. Sebagian tim langsung mengabadikan pintu masuk pulau komodo untuk keperluan konten yang akan dibuat. Didepan pintu gerbang, banyak wisatawan yang berfoto ria. Tak ketinggalan tim GAN yang saat itu mengenakan seragam warna merah.

“Tolong saya fotokan di sebelah sini dong,”kata GM Radar Bekasi Andi Ahmadi, sembari menunjukan patung komodo di pintu masuk.

Begitu melewati gerbang selamat datang, kami langsung disambut oleh seorang ranger (semacam guide atau pawang) yang akan memandu kami bertemu Komodo secara langsung di habitatnya.

Sebelum memulai perjalanan, sang pawang memberikan arahan kepada kami, apa saja yang akan dilalui selama perjalanan.

Ada tiga tipe trekking yang ditawarkan kepada kepada kami dan wisatawan yang datang, yakni Short, Medium dan Long Tracking. Karena waktu kami tidak banyak, kami pilih yang Medium.”Nanti kita akan melewati jalan yang sebelah sini,”kata pemandu kami, Akbar Setiawan sembari menunjukan peta yang akan dilalui.

Secara singkat, dia menjelaskan sifat Reptilpurba bernama Varunas Komodiensi yang selalu menyendiri. Di Pulau Komodo ada sekitar 1.500 ekor sedangkan di Pulau Rinca sekitar 1.100 ekor,”Dia mengkuti suaca alam. Jika musim penghujan, biasanya akan berjemur. Saat panas, Komodo akan mencari tempat teduh,”katanya.

Dia menjelaskan, binatang reptil ini mengalami fase perkembangbiakan di bulan tertentu. Musim kawin komodo biasanya pada bulan Juli-Agustus. Sebelumnya komodo jantan saling berkelahi memperebutkan komodo betina. Berikutnya, komodo bertelur. Ia sanggup bertelur 15-30 butir.

Telur ini disembunyikan di dalam tanah, kira-kira sedalam 2 meter. Delapan bulan kemudian, komodo ini menetas. Komodo tidak mengerami telurnya. Ia dimeninggalkannya di dalam tanah, tapi terus berjaga dari gangguan komodo lain. nah, bisanya 8-9 bulan kemudian, telur ini menetes. “Biasanya 80 persen dari telur yang ada jadi anak,”kata pria berambut cepak ini.

“Kita lewat sini saja ya, semoga bisa bertemu komodo dijalan. Berdoa saja, karena ini habitat liar. Tidak seperti di kebun binatang yang memang sudah ada hewan nya,”sambungnya sembari mengingatkan ke rombongan agar tidak berpencar.

Rombongan mulai memasuki hutan. Jalan tanah yang dilalui sedikit lembab, bahkan sebagian ada yang becek. Sepertinya pulau tersebut baru saja diguyur hujan deras. Udara cukup lembab siang itu, sejumlah pohon menjulang tinggi. Beberapa diantaranya ada yang sengaja ditanam oleh warga sekitar. Sementara itu, ada beberapa pohon langka yang diberi nama.

Jalan setapak selebar 2 meter tersebut cukup nyaman dilalu. Untuk memperindah, kanan kiri jalan disusun batu,”Ini petugas kehutanan yang merapikan jalan ini,”kata salah seorang pemandu sambil menununjukan barisan batu yang terususn rapi.

Seluruh peserta rombongan terlihat wasapada saat melintasi hutan. Mereka khawatir komodo bisa datang tiba-tiba,”Kalau di sini mata kita harus waspada. Karena Komodo ada dimana-mana,”kata pemandu kembali mengingatkan kami.

Setengah jam perjalanan, kami belum bertemu Komodo. Kami menemukan tanah lapang dengan aliran air kecil,”Biasanya mereka ada di sini untuk minum. Tapi ini tidak ada. Semoga didepan sana nanti kita bertemu. Aliran air ini sengaja kami buat.”lanjutnya.

Rasa penasaran Tim GAN ingin bertemu komodo terus menggelayut dalam benak. Sebagian rombongan mulai curiga di sini tdak ada komodo,”Jangan-jangan memang tidak ada komodo di sini, kita Cuma diajak berputar saja,”kata Imam, Manager Keuangan Radar Bekasi.

Keringat bercucuran sudah membasahi sebagian tubuh. Namun si empunya, tak juga terlihat. Cukup lama juga rombongan berjalan. Setelah kurang lebih setengah jam, perjalanan rombongan berbelok ke kiri, kembali menuju bibir pantai .

Dari kejauhan, nampak puluhan orang bergerak ke sisi sebelah Barat. Nampaknya ada sesuatu di sana

Benar saja, ternyata wisatawan yang bergegas itu, menuju objek yang selama ini kami cari

. Lokasinya sekitar 40 meter dari bibir pantai. Mereka ternyata sedang bergantian ingin berfoto dengan Komodo.

“Kalau ada komodo di sini, ngapain kita harus jalan jauh berputar-putar,”sambung Imam dengan nada kesal.

Ya, disitu ada seekor komodo, panjangnya sekitar 2,5 meter.

Komodo ini menghadap pantai. Sementara di samping, belakang dan depan, tampak banyak orang. Menonton sang predator yang terdiam .

Tentu saja, pemandangan ini tak biasa. Kenapa, karena sang komodo seperti lelah, dan malas bergerak.

“Kok diam saja ya, lidahnya juga tak menjulur, terus matanya sayu. Sepertinya komodo ini kekenyangan. Lihat perutnya buncit dan melebar,” ujar Andi Ahmadi sambil memainkan hape untuk bersiap memotret.

Awas-awas! Jangan dekat, jangan dekat,,” teriak pemandu dengan nada keras.

Teriakan pemandu, kerumunan wisatawan dari jarak dua meter ke komodo, seperti tak digubris sang hewan pemangsa ini

Tentu, tak satupun wisatawan yg bertanya kenapa komodo nya diam. Justru wisatawan sibuk berebut memfoto dan meminta untuk segera bersekfi ria di belakang komodo .

”Tolong- tolong itu, jangan di belakang, ini lagi foto, gantian, bergiliran ya,” teriak pemandu yang lain mengingatkan agar wisatawan tidak berada di belakang komodo karena bisa membuat hasil foto jelek dan tak eklusif.

 

Akhirnya, Satu persatu wisatawan bergantian berfoto dengan komodo lemah tersebut. Yang lainnya antri di samping. Pemandu wisatawan menjadi fotografernya.

”Pakai satu kamera saja ya. Nanti fotonya dibagikan.”kata salah seorang pemandu.

Tiba juga giliran kami untuk berfoto dengan komodo tersebut. Meskipun sudah berfoto, namun rombongan Tim GAN merasa kecewa dengan komodo yang ditemui,

“”Sepertinya komodo ini memang sudah disiapkan untuk berfoto dengan wisatawan,”kata Pimred Radar Sukabumi, Rahmad Yanadi.

Puaskah kami? Tentu tidak.Rasa kecewa juga ada. Karena tidak menemukan komodo yang sering dilihat di cana-l canal YouTube. Agresif, cekatan dan menyeramkan saat memangsa buruannya.

Setelah dua jam berada di pulau Komodo, kami langsung melanjutkan perjalanan ke desa Kampung Komodo,Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Jaraknya memakan waktu 30 menit perjalanan kapal. Disana tujuan kami membagikan setengah ton beras kepada warga.

Kedatangan kami langsung disambut beberapa pengurus RT dan RW serta Kepala Dusun (Kadus) Komodo, Muhamad Sidik.

Kepada rombongan, Sidik menjelaskan, di desa tersebut ada sekitar 2000 Jiwa. Sebagian besar mata pencahariannya sebagai nelayan, selebihnya lagi menjadi pengrajin.

Sebelum kedatangan CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu,, Sidik sempat menjelaskan bahwa di desanya juga banyak Komodo. Tentu saja, ucapan Sidik ini membuat kami semangat. Ingin bertemu dengan sang predator yang sesungguhnya. Tidak diam seperti yang kami temui sebelumnya.

”Benar banyak, sekitar 20 komodo. Dan kami juga sudah mengajukan kampung ini menjadi tujuan wisata komodo,” urainya.

Sidik mengungkapkan, pihaknya melalui Bumdes direstui membuat tracking wisata komodo.

”Sudah mendapat izin dari Balai Konservasi dan jalurnya sudah kami buat di belakang kampung ini,’,’ terang Sidik.

Sebelum kami mengikuti Sidik ke belakang kampung untuk melihat komodo, dilakukan serah terima beras oleh CEO Radar Bogor Grup.

”Semoga bantuan beras ini bermanfaat untuk warga disini,”kata Hazairin sembari menyerahkan beras secara simbolis. Tiap jaring beras dipanggil tim menuju gerobak yang sudah disiapkan.

“Ayo kalau mau lihat, di lapangan bola di belakang biasanya suka ada komodo,”sambungnya mengajak tim GAN untuk melihat komodo.

Tanpa banyak pertanyaan, kami menyetujui ajakannya. Kami melintasi rumah warga yang berdempetan. Tepat di belakang kampung berdiri bangunan Sekolah Dasar (SD), didepannya terbentang lapangan yang setiap sore selalu dimanfaatkan pemuda setempat untuk bermain sepak bola. “Ayo sebelah sini,”katanya melanjutkan.

Benar saja, dibalik tembok bangunan Sekolah Dasar terdapat pemakaman umum warga sekitar. Disitu terlihat seekor komdo. Ukurannya lebih kecil dibandingkan yang dilihat di pulau komodo, yakni sekitar 2 meter. komodo ini sedang mencari makanan di tumpukan sampah. Komodo yang dijumai kali ini lebih agresif. Bahkan sempat mengejar Redpel, Fahmi serta Redpel Metrolopitan, Aripin. Fahmi lari terbirit-birit menjauh dari selokan yang memisahkan areal TPU dengan lapangan bola. Beruntung, Kadus Sidik sigap dan menenagkan komodo tersebut, sembari memegang tongkat bercabang.”Tidak apa-apa. Dia sedang mencari makanan sisa ikan,”katanya.

Dia menceritakan, selama bertahun-tahun penduduk Kampung Komodo hidup berdampingan dengan Naga Purba itu. Mereka membangun rumah panggung agar komodo tidak naik dan masuk ke dalam rumah

Warga setempat hidup damai dengan komodo. Jika tidak diganggu, komodo tidak akan menyerang. Mereka juga menjaga kelestarian komodo, tidak berburu komodo untuk dimakan. Malah kadang warga membiarkan ikan hasil tangkapannya dimakan sang naga purba.

Dalam keyakinan penduduk setempat, komodo terlahir dari rahim seorang manusia. Mereka lahir kembar, yang satunya berwujud manusia, yang satunya berwujud komodo. Oleh karena itu, suku Komodo dan hewan komodo hingga kini tetap hidup berdampingan.

“Percaya tak percaya, tapi warga kami di sini mempercayainya seperti itu. Jadi sebenarnya komodo dan warga sudah bersahabat. Bahkan dulu ada bayi yang dijaga oleh komodo. Kami di sini hidup berdampingan,”kata Sidik menceritakan.

Penasaran kami disini terhadap komodo sedikit terobati, setelah melihat komodo lebih aktif dibandinghkan dengan yang dijumpai di Pulau Komodo. (bersambung)