RADARBEKASI.ID, BEKASI — Isu kesehatan kembali membayangi penyelenggaraan ibadah haji 2026. Di tengah tingginya jumlah jemaah kategori Risiko Tinggi (Risti), ancaman penyebaran Hantavirus ikut menjadi perhatian menjelang puncak haji di Arab Saudi.
Minggu (17/5) sore, jemaah Kloter 25 mulai memasuki Asrama Haji Bekasi. Mereka langsung menjalani pemeriksaan kesehatan, menerima perlengkapan medis, hingga mengaktifkan kartu nusuk. Dari Embarkasi Jakarta-Bekasi, hampir seluruh jemaah sudah diberangkatkan. Tersisa tiga kloter hingga akhir gelombang kedua.
Di Arab Saudi, jemaah gelombang pertama telah berada di Makkah. Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI mengingatkan jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru.
“Jemaah haji hari ini harus lebih waspada karena ada Hantavirus, terutama yang punya penyakit paru-paru. Oleh karena itu, kesehatan menjadi yang utama agar ibadah haji bisa berjalan dengan baik dan mabrur,” kata Anggota Timwas Haji DPR RI, Eem Marhamah Zulfa Hiz.
Jemaah diminta menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menggunakan masker di ruang publik. Meski disebut tidak seganas Covid-19, potensi penularan tetap diwaspadai.
Hal serupa disampaikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Jakarta-Bekasi kepada seluruh jemaah sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Jumlah jemaah kategori Risti di Embarkasi Jakarta-Bekasi tergolong tinggi, namun kondisi mereka disebut lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Jemaah yang ada di JKS sampai dengan saat ini yang Risti cukup tinggi. Tapi memang tahun ini jemaahnya jauh lebih baik, jauh lebih siap dibanding tahun-tahun kemarin,” ujar Kabid Kesehatan PPIH Embarkasi Jakarta-Bekasi, Sedya Dwisangka.
Mayoritas jemaah kategori Risti diketahui memiliki riwayat hipertensi dan diabetes. Untuk mengantisipasi risiko yang tidak diinginkan, pihaknya melakukan pemeriksaan ulang di embarkasi.
Selain itu, perbedaan suhu antara Indonesia dan Arab Saudi juga menjadi perhatian. Suhu di Arab Saudi tahun ini diperkirakan mencapai 46 hingga 50 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah.
“Ini yang perlu diantisipasi oleh jemaah kita, apalagi saat ini gelombang dua, artinya akan berangkat menggunakan kain ihram dan setibanya di sana langsung melaksanakan umrah wajib. Tentunya ini membutuhkan fisik yang lebih baik,” ucapnya.
Sedya menuturkan pihaknya telah mengedukasi jemaah agar memanfaatkan waktu istirahat di hotel, mengonsumsi makanan bergizi, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta memperbanyak minum untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kondisi tubuh.
Upaya tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi penularan berbagai penyakit, termasuk Hantavirus.
“Pasti, makanya jemaah mendapat paket berisi masker. Itu kita anjurkan untuk digunakan setiap keluar hotel,” katanya.
Berdasarkan data yang diterima, satu jemaah asal Embarkasi Jakarta-Bekasi dilaporkan meninggal dunia. Jemaah dari Kloter JKS 07 tersebut diduga meninggal akibat kelelahan.
“Berdasarkan pemeriksaan kita, riwayat penyakit jemaah yang meninggal ini sebenarnya tidak berat. Ada sedikit hipertensi, tapi tidak dalam kondisi berat,” tambahnya.
Hingga kemarin, sebanyak 23 kloter telah diberangkatkan dari Embarkasi Jakarta-Bekasi dengan total 10.185 jemaah. Khusus jemaah asal Kota Bekasi, tersisa satu kloter lagi yang akan diberangkatkan.
“Dari 12 kloter jemaah haji asal Kota Bekasi, 11 kloter sudah diberangkatkan, kurang lebih totalnya empat ribu jemaah,” kata Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Bekasi, Rian Fauzi.
Menurut laporan petugas kesehatan yang mendampingi jemaah, kondisi jemaah asal Kota Bekasi yang berada di Arab Saudi sejauh ini terpantau baik.
“Menurut informasi dari teman-teman petugas kesehatan yang menyertai jemaah, sampai saat ini Alhamdulillah mudah-mudahan tidak ada yang meninggal dunia dan keadaannya terus kami pantau,” ungkapnya.
Rian menambahkan, pihaknya telah mengimbau jemaah melalui KBIHU, ketua kloter, hingga ketua rombongan agar mengurangi aktivitas di luar ruangan demi menjaga kondisi fisik menjelang puncak haji.
“Karena cuaca di sana lumayan panas, sementara komposisi jemaah kita rata-rata berusia di atas 50 tahun. Oleh karena itu, menjaga kesehatan itu wajib,” tambahnya.

Kloter 25 dijadwalkan berangkat pada Senin (18/5). Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama istrinya, Wiwiek Hargono, masuk dalam kloter tersebut. Keduanya tampak berada di Asrama Haji Bekasi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan pengaktifan kartu nusuk.
“Alhamdulillah dalam kondisi stabil sesuai hasil pemeriksaan kesehatan pertama,” ujar Tri.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji guna mencegah potensi penularan berbagai penyakit, termasuk Hantavirus.
Tri mengaku telah menerima paket kesehatan berisi masker, hand sanitizer, serta perlengkapan lain untuk mencegah dehidrasi selama berada di Tanah Suci.
“Jadi saya kira proses itu yang harus dijaga konsistensinya, bukan hanya saya tetapi seluruh jemaah. Kemudian cukup istirahat, cukup tidur, cukup makan, dan yang lebih utama berdoa agar diberikan kemudahan,” ungkapnya.
Sejauh ini, Tri menyebut belum ada keluhan signifikan dari jemaah terkait pelayanan di Asrama Haji Bekasi. Menurutnya, kualitas pelayanan tersebut harus terus dijaga dan ditingkatkan. (sur)











