Sekolah Penggerak Angkatan Kedua Lebih Banyak

BELAJAR: Sejumlah siswa SDN XVI Kayuringin Jaya saat mengikuti pembelajaran tatap muka secara  terbatas. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
BELAJAR: Sejumlah siswa SDN XVI Kayuringin Jaya saat mengikuti pembelajaran tatap muka secara  terbatas. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jumlah satuan pendidikan berbagai jenjang di Kota Bekasi yang ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak angkatan kedua lebih banyak dari sebelumnya.

“Angkatan pertama hanya ada 30 Sekolah Penggerak, sementara angkatan kedua menjadi 55 sekolah penggerak. Tentu menjadi sebuah PR juga bagi Kota Bekasi untuk bisa menjalankan program ini dengan baik,” ujar Pelatih Ahli Sekolah Penggerak Supyanto kepada Radar Bekasi, Kamis (20/1).


Rinciannya, 15 TK/PAUD, 29 SD dan 11 SMP. Puluhan sekolah itu sudah mendapatkan surat keterangan (SK) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Menurutnya, satuan pendidikan yang terpilih sebagai Sekolah Penggerak angkatan kedua akan mendapat arahan dan pelatihan secara langsung dari Kemendikbudristek.


Lebih lanjut dikatakan, Sekolah Penggerak angkatan pertama diharapkan dapat belajar dari Sekolah Penggerak angkatan kedua. “Bagi sekolah yang sudah terpilih menjadi Sekolah Penggerak angkatan kedua bisa sharing kepada beberapa sekolah yang sudah menjalani program sekolah terlebih dahulu. Sehingga nantinya setelah diberikan arahan dan pelatihan sekolah dapat lebih matang untuk menjalankan program Sekolah Penggerak,” jelasnya.

Melalui program Sekolah Penggerak yang terus digulirkan di Kota Bekasi, diharapkan perkembangan pendidikan di wilayah ini dapat lebih meningkat dari sebelumnya.

“Semakin banyak Sekolah Penggerak, maka diharapkan perkembangan pendidikan di Kota Bekasi lebih baik lagi,” tukasnya.

Sementara itu, Dikutip jawapos.com (Grup Radar Bekasi), Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek, Praptono, meminta agar kepala daerah menjadikan guru penggerak sebagai kepala sekolah. Hal ini dilakukan agar sekolah memiliki ekosistem belajar yang nyaman, aman, menyenangkan, dan inklusif.

“Saya mohon kepada Bapak/Ibu Gubernur, para Bupati dan Wali Kota untuk memberikan kesempatan kepada guru-guru hebat ini agar bisa menjadi kepala sekolah,” ujar Praptono dalam Penutupan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan II secara daring, Kamis (20/1).

Untuk mendorong guru penggerak menjadi kepala sekolah, Kemendikbudristek juga telah menerbitkan Permendikbudristek terkait hal tersebut, yakni melalui Permendikbudristek nomor 40 tahun 2021 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah.

“Itu merupakan wujud komitmen Kementerian untuk menempatkan guru penggerak ini sebagai pemimpin-pemimpin pembelajaran,” tuturnya.

Praptono juga menekankan kepada guru penggerak untuk terus berpihak kepada peserta dalam proses belajar mengajar. Perlu adanya semangat kolaborasi antar guru untuk menghadirkan pendidikan yang lebih baik di Indonesia.

“Teruslah semangat belajar dan berbagi, kuatkan budaya refleksi dan kolaborasi, serta terus bergerak demi mewujudkan profil pelajar Pancasila. Kini Bapak dan Ibu memiliki rekan-rekan perjuangan, yang siap untuk saling bersinergi menggerakkan ekosistem pendidikan di Indonesia, di wilayah daerah masing-masing,” pungkasnya. (dew/jpc)