Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Varian Omicron Masuk Bekasi

Illustrasi : Petugas medis melakukan swab test di Pasar Tambun, beberapa waktu lalu. Swab Test masih menjadi alat deteksi dini untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Lonjakan kasus tinggi covid-19 kembali terjadi lagi di Kota Bekasi. Sepekan terakhir ribuan kasus ditemukan bergejala ringan atau tanpa gejala, akibatnya ada lebih dari 3.800 kasus menjalani Isolasi Mandiri (Isoman) di rumah masing-masing. Sementara itu, Satu warga Cikarang Utara terpapar varian Omicron setelah melakukan perjalanan dari Uni Emirat Arab.

“Warga tersebut merupakan pekerja profesional, habis melakukan perjalanan ke luar negeri, dari Uni Emirat Arab, kemudian pulang terpapar. Tapi alhamdulilah pasiennya sudah sembuh, kemarin tanggal 28 Januari sudah pulang,” ujar Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bekasi, Alamsyah sembari menambahkan, pasien tersebut sudah menjalani perawatan sejak 11 Januari lalu.

Menurutnya, peningkatan kasus ini terjadi pada Minggu kedua di bulan Januari 2022. Akibatnya, Kabupaten Bekasi masuk kembali ke Level 2. Padahal, sebelumnya sangat landai, dari sekitar bulan Agustus sampai sebelum Natal dan Tahun Baru masih berada di Level 1.

“Per hari ini (kemarin) kasus positif 1.700, sebelumnya hanya dibawah 100. Sekarang Kabupaten Bekasi masuk kembali ke Level 2, saya bisa pastikan bahwa varian Omicron hanya satu, sementara yang lainnya varian biasa,” ucapnya.

Peningkatan lonjakan kasus ini tentunya efek dari mobilitas masyarakat yang meningkat pada saat akhir tahun kemarin. Selain itu, faktor Kabupaten Bekasi ini dekat dengan episentrum DKI Jakarta. Kemudian, di DKI itu kebanyakan kasus varian baru Omicron. “Klaster ini ada dua, pertama klaster keluarga dan kedua ada memang beberapa perusahaan dengan klaster kecil yang terpapar,” tuturnya.

Pria yang juga sebagai Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD Kabupaten Bekasi memastikan, sudah menyiapkan skenario terburuk apabila kasus aktif terus melonjak. Kata Alamsyah, sudah menyiapkan 200 Beat, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM), ruangan, sarana dan prasarananya, oksigen, kemudian obat-obatannya.

“Kita sudah pernah melewati lonjakan kasus yang luar biasa di gelombang kedua, kita sudah siapkan antisipasi. Sekarang yang terpakai ada 13, tiga yang dirawat di ICU, kemudian sepuluh di rawat di isolasi biasa,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi diminta untuk kembali membuka dan memfungsikan Tempat Isolasi Terpusat (Isoter) bagi pasien bergejala ringan, terutama bagi kelompok ringan.Pasalnya, Kota Bekasi pernah mencatat kabar duka tertinggi pasien meninggal di luar Fasilitas Kesehatan (Faskes).

Hasil analisis Laporcovid-19 awal bulan Juli tahun 2021 lalu, kabar duka pasien Covid-19 meninggal di luar Faskes tertinggi, ada 77 pasien meninggal dunia lantaran Faskes kewalahan menangani pasien Covid-19 varian delta, saat itu kasus aktif berada di angka 3.763 kasus. Awal bulan Februari ini, kasus aktif di Kota Bekasi menyentuh 4.013 kasus, 3.874 diantaranya menjalani isolasi mandiri di rumah, setelah dipastikan lingkungan dan kesehatan memungkinkan pasien melakukan Isoman, sebagian besar kasus aktif tidak bergejala.

Keterisian tempat tidur Faskes atau Bed Occupancy Ratio (BOR) masih aman, meski perlahan pasien yang membutuhkan perawatan RS meningkat. Total ada 271 pasien menjalani perawatan di ruang rawat khusus pasien Covid-19, di ruang ICU ada 8 pasien.

Merespon situasi ini, Pemkot Bekasi menyampaikan bahwa pemerintah menggenjot vaksinasi dan testing sebagai upayanya. Pemeriksaan rencananya menyasar area publik, diantaranya stasiun dan terminal sebagai prioritas.

“Kemudian kita juga berharap kepada masyarakat yang memang hari ini tidak memiliki gejala, silahkan isolasi mandiri di rumah,” kata Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto, Selasa (1/2).

Ruang isolasi di RS hanya diperuntukkan bagi kasus yang memiliki latar belakang penyakit atau komorbid. Terakhir, Pemkot Bekasi berupaya untuk memastikan tempat tidur RS dan obat sudah siap, total ada 200 tempat tidur di RSD Stadion Patriot Candrabhaga mengantisipasi lonjakan kasus yang dinilai membutuhkan perawatan.

Pengawasan terhadap pasien Isoman dimaksimalkan mulai dari perangkat RT dan RW, dibantu oleh petugas Pamor. Pantauan Radar Bekasi di beberapa akun media sosial perangkat pemerintah, didapati berbagai unggahan pengawasan pasien Isoman, berikut dengan penyerahan obat-obatan.”Karena di setiap RW kita punya dua, tiga petugas yang akan memantau secara berkala,” tambahnya.

Selama ini, tempat Isoter pasien bergejala ringan berada di RSD Stadion Patriot Candrabhaga, saat ini pasien di RSD masih nol. Desakan kepada Pemkot Bekasi untuk kembali menyediakan dan memfungsikan tempat Isoter datang dari Lembaga Kesehatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LK-PCNU) Kota Bekasi, langkah ini dinilai mendesak seiring jumlah kasus aktif terus meningkat dalam jumlah besar.

Kegelisahan datang dari masyarakat, informasi didapat dari 150 relawan LK-PCNU Kota Bekasi serta anggota yang tersebar di banyak Faskes di Kota Bekasi. Kenyataannya, kasus yang ditemukan dengan gejala ringan, sedang, hingga tanpa gejala atau OTG diarahkan untuk lapor kepada RT RW dan menjalani isolasi di rumah.

Bahkan saat ini, kebutuhan tempat Isoter makin mendesak, diusulkan lokasi Isoter bisa disediakan di tiap lingkungan kelurahan. Sehingga, tidak lagi ada cerita pasien meninggal dunia di luar RS atau di rumah, jumlah pasien dengan tempat Isoter yang saat ini ada di RSD Stadion Patriot Candrabhaga dinilai sudah tidak bisa lagi menampung jumlah kasus aktif.

“Ini sekarang lebih mendesak lagi, karena ini tidak bisa dipusatkan hanya di satu dua titik gedung, karena ini sudah lokal. Isolasinya sudah harus bisa level kelurahan bahkan,” kata ketua LK-PCNU Kota Bekasi, Wildan Fathurrahman.

Pihaknya mengkhawatirkan kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk Isoman, tingkat penularan virus varian Omicron yang tinggi, hingga potensi dampak long covid akibat terinfeksi Omicron. Pemerintah mesti mulai memisahkan antara masyarakat yang terinfeksi dengan yang tidak, Isoter dinilai mampu mencegah infeksi berat pada kasus aktif.

Bahkan solusi pemanfaatan telemedicine dianggap tidak sepenuhnya meminimalisir tingkat fatalitas. Beberapa kendala yang ditemukan, adanya masyarakat yang belum mahir mengakses kesehatan secara online, hingga lambannya obat diterima oleh masyarakat.

“Yang paling pertama tentu kita punya infrastruktur GOR yang memadai, itu saya kira difungsikan dulu, sambil melihat fluktuatif kasus, saya kira tidak sampai satu hari ketika GOR dibuka langsung penuh kok itu. Sehingga saya pikir sambil Pemerintah mempersiapkan di level kelurahan,” ungkapnya.

Epidemiolog juga mewanti-wanti agar infeksi virus kali ini tidak dianggap remeh. Ringannya gejala membuat banyak orang tidak menyadari telah terinfeksi, hasil yang timbul dari infeksi virus tidak boleh dianggap biasa-biasa saja, namun juga mempertimbangkan dampak jangka panjangnya, diantaranya penurunan kesehatan seseorang hingga kualitas SDM suatu wilayah.

Isoman menjadi salah satu strategi tepat untuk tidak membebani RS. Potensi kematian di rumah tetap ada jika tidak disiapkan oleh pemerintah daerah, mesti dilakukan pemilahan kasus kategori aman dan rawan untuk melakukan Isoman.

“Nah oleh karena itu, selain opsinya mandiri dalam arti di rumah-rumah, juga harus ada tetap pemerintah daerah menyiapkan yang terpadu, misalnya di tingkat kecamatan, mau itu di sekolah, bangunan atau fasilitas publik dijadikan Isoter,” papar Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman.

Sangat penting memilah pasien rawan dalam menjalani Isolasi Mandiri, diantaranya adalah Lansia, masyarakat dengan Komorbid, masa vaksinasinya sudah melebihi enam bulan dan belum mendapat booster, termasuk masyarakat yang belum divaksin. Sementara bagi anak-anak tidak dianjurkan menjalani isolasi di tempat Isoter, hanya saja pemantauan harus dilakukan serius.

Lonjakan kasus saat ini kata Dicky masih awal gelombang ketiga, massa kritis akan terasa saat mendekati puncak, puncak, bahkan setelahnya.

“Saya sarankan dalam hal ini kita tidak bisa oh ini (menganggap ringan), jangan anggap sama sekali, ini bukan ringan ya. Omicron ini sudah terbukti di banyak negara menunjukkan kematian, bahkan bisa lebih tinggi dari pada delta, ini saya ingatkan,” tukasnya.

Hasil evaluasi data penularan virus terakhir, 897 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 baru yang ditemukan tidak menunjukkan gejala menyerupai Covid-19. Analisis kesehatan, rumah, dan lingkungan kasus telah dipastikan memenuhi syarat untuk Isoman, pasien Isoman dirujuk setelah di dapat menunjukkan gejala. (Sur/Pra)