RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pandemi Covid-19 membuat sebagian siswa terpaksa hanya bisa duduk terdiam di rumah. Hal tersebut berdampak pada minat baca siswa semakin menurun.
Perpustakaan sekolah yang menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan minat bacanya, sudah lama sepi tidak berpenghuni karena pandemi Covid-19.
Ketua Komunitas Pendidik Penulis Bekasi Raya Prawiro Sudirjo mengatakan, semangat literasi siswa sempat menurun karena pandemi. Tahun ajaran baru merupakan waktu yang sangat tepat untuk membangkitkan kembali semangat siswa dalam berliterasi.
“Semangat siswa dalam berliterasi memang sempat menurut karena adanya pandemi, tapi menurut saya tahun ajaran baru ini menjadi waktu yang tepat untuk kembali membangkitkan semangat siswa dalam berliterasi,” ungkapnya kepada Radar Bekasi, Kamis (7/7).
Menurutnya, literasi bukan lagi bercerita berapa banyak buku yang sudah dibaca. Namun lebih kepada berapa sering siswa memaksimalkan waktu untuk membaca.
“Transformasi literasi itu sekarang sudah bergeser, dari bacaan media cetak ke media digital. Jadi untuk mengukur perkembangan literasi saat ini, bukan lagi berapa banyak buku yang sudah dibaca. Akan tetapi lebih kepada berapa sering siswa bisa memaksimalkan waktu untuk membaca,” tuturnya.
Namun demikian, transformasi pergeseran literasi saat ini tentu tidak melupakan buku sebagai alat literasi pertama yang dimanfaatkan oleh hampir seluruh pelajar.
“Buku sebagai bahan literasi tidak akan hilang sampai kapanpun itu, jadi sekolah memiliki banyak cara untuk bisa meningkatkan keinginan siswa dalam berliterasi,” ungkapnya.
Prawiro mengungkapkan, banyak cara untuk bisa meningkatkan keinginan siswa dalam berliterasi. Salah satunya yaitu dengan cara bermain dengan buku.
“Pohon geulis dulu sangat populer sekali di sekolah, karena siswa bisa menempelkan review dari buku yang sudah dibaca. Nah, ini bisa dikembangkan kembali oleh sekolah karena membaca dengan cara bermain itu akan lebih mengasyikan dan tidak membuat bosan,” ungkapnya.
Selain itu, sekolah saat ini juga bisa lebih peduli kepada bahan bacaan siswa. Yaitu bisa dengan cara menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan minat siswa saat ini.
“Sekolah bisa lebih peduli dengan bahan bacaan yang ada di perpustakaan, mulai disortir yang mana yang sering dibaca dan yang mana yang menjadi kebutuhan minat baca siswa. Agar fungsi perpustakaan bisa lebih dimaksimalkan kembali,” terangnya.
Menurutnya, minat baca siswa harus terus terkontrol dengan baik, sehingga tidak muncul kemalasan siswa dalam berliterasi. “Literasi itu membutuhkan kontrol setiap saat, jadi bukan hanya sekali atau dua kali saja. Karena kemalasan berliterasi dapat timbul kapan saja,” tukasnya. (dew)











