Berita Bekasi Nomor Satu

Ramadan Bulan Kemanusiaan

Oleh: Abah Iwan Suryawan (Wakil Ketua DPRD Jawa Barat)

RADARBEKASI.ID, BEKASI Setiap Ramadan tiba, wajah Jawa Barat terasa berbeda. Masjid-masjid hidup oleh tarawih dan tilawah, pasar-pasar ramai menjelang berbuka, dan keluarga berkumpul dalam hangatnya sahur. Ada optimisme yang tumbuh dari setiap doa yang dipanjatkan.

Namun di saat yang sama, kita tak menutup mata pada realitas sosial: kemiskinan yang belum terurai, gelombang PHK, harga kebutuhan pokok yang meningkat, bencana alam, serta ketimpangan desa dan kota. Di sinilah kita disadarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan momentum membangkitkan kepedulian sosial yang nyata.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Puasa tidak hanya membentuk kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial. Lapar dan dahaga yang kita rasakan sejatinya melatih empati terhadap mereka yang setiap hari bergulat dengan keterbatasan. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Iman yang sejati selalu berbuah kepedulian.

Karena itu, zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar amal sunah, melainkan sistem distribusi keadilan sosial. Dalam QS. At-Taubah: 60 dijelaskan delapan golongan penerima zakat. Ajaran ini menegaskan bahwa keberagamaan harus terhubung dengan keberpihakan kepada yang lemah. Ramadhan mengajarkan bahwa ibadah vertikal kepada Allah harus menghadirkan dampak horizontal bagi kemanusiaan. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, melainkan harus mengalir menjadi jembatan kesejahteraan bagi mereka yang membutuhkan.

Sejarah Islam memberikan teladan yang menggetarkan. Khalifah Umar bin Khattab pernah memikul sendiri gandum untuk keluarga yang kelaparan pada malam hari. Ia tidak hanya memerintah dari singgasana, tetapi turun langsung memastikan rakyatnya tidak tidur dalam keadaan lapar. Kepemimpinan seperti inilah yang lahir dari hati yang ditempa empati. Pemimpin bukan sekadar pengambil keputusan, melainkan pelayan yang merasakan denyut nadi kesulitan rakyatnya.

Tantangan kemanusiaan di Jawa Barat hari ini nyata: pengangguran, ketahanan pangan, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang belum merata. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58). Amanah dalam konteks kekinian berarti kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat kecil. Anggaran bukan sekadar deretan angka, tetapi instrumen untuk memuliakan manusia. Pengawasan yang kuat dan program sosial yang tepat sasaran adalah bagian dari tanggung jawab moral yang harus dituntaskan oleh para pemangku kebijakan.

Lebih jauh lagi, pemberdayaan ekonomi umat harus menjadi fokus utama pasca-Ramadhan. Transformasi sosial hanya bisa terjadi jika kemandirian ekonomi masyarakat desa ditingkatkan dan akses modal bagi UMKM dipermudah. Inilah bentuk nyata dari “Islam Rahmatan lil ‘Alamin” di tanah Pasundan, di mana keadilan akses menjadi hak bagi setiap warga tanpa terkecuali.

Ramadan juga melatih integritas dan kejujuran. Saat berpuasa, kita mampu menahan diri meski tak ada manusia yang melihat, karena sadar Allah Maha Mengawasi. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Jabatan publik bukan alat memperkaya diri, melainkan sarana menguatkan yang lemah dan memulihkan yang rapuh. Transparansi dan akuntabilitas adalah nafas dari kepemimpinan yang bertaqwa.

Semangat ini harus menjelma menjadi gerakan nyata. Dari masjid tumbuh solidaritas, dari pemerintah hadir kebijakan yang adil, dari masyarakat menguat gotong royong. Ramadhan adalah bulan kemanusiaan—saat iman diterjemahkan menjadi kebijakan dan ibadah diwujudkan dalam keberpihakan.

Semoga Jawa Barat tumbuh menjadi provinsi yang adil, makmur, dan berkeadaban, di mana tak ada warga yang merasa sendirian menghadapi kerasnya kehidupan. Mari kita jadikan sisa hari di bulan mulia ini sebagai batu loncatan untuk perubahan besar bagi Bumi Parahyangan yang kita cintai.(*)