Komunitas Kopel Olah Sampah jadi BBM

TAMPUNG BBM: Salah seorang pegiat lingkungan, Andre, menampung Bahan BakarMinyak (BBM) jenis solar dan minyak tanah, dari hasil sulingan yang diolah dari sampah menjadi BBM, di Desa Danau Indah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Rabu (10/8). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sebagai bentuk partisipasi untuk menjaga lingkungan, sekelompok pegiat lingkungan berinovasi mengolah sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan minyak tanah. Salah satu anggota Komunitas Peduli Lingkungan (Kopel), Andre berharap, apa yang mereka lakukan dapat mengurangi penumpukan sampah yang saat ini sudah kepenuhan (overload), di Tempat Pembuangan Askhir (TPA) Burangkeng, Kabupaten Bekasi.

“Banyaknya tumpukan sampah diKabupaten Bekasi, mungkin karena pengangkutan yang tidak terlayani, ditambah TPA Burangkeng juga sudah kepenuhan,” kata Ander, saat ditemui di tempat pengolahannya, di Desa Danau Indah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Rabu (10/8).


Ia menjelaskan, pengolahan sampah menjadi BBM ini, menggunakan teknik pirolisis, dan berdasarkan laman resmi Pertamina. Pirolisis merupakan proses dekomposisi suatu bahan pada suhu tinggi, yang berlangsung dengan kedap udara atau terbatas.

Proses dekomposisi pada pirolisis ini, juga sering disebut dengan devolatilisasi.


Sesuai dengan teknik tersebut, Andre bersama empat rekannya, memilah sampah berbahan plastik. Sampah itu lantas dimasukkan ke tabung reactor, kemudian dipanaskan. Nantinya, hasil dari pemanasan itu akan menguap, sehingga menghasilkan BBM.

Adapun proses dekomposisi dilakukan, dengan menggunakan bahan-bahan seadanya, dan cenderung daur ulang. Tabung reaktor dibuat dengan memanfaatkan seng bekas, lalu pemanas pun didesain menggunakan drum bekas. Sedangkan pemanasnya menggunakan kompor, yang juga bekas.

“Karena bahan utamanya sampah dari lingkungan sekitar. Peralatannya juga menggunakan bahan-bahan seadanya,” terang Andre.

Lanjutnya, dari hasil pemanasan sampah tersebut, akan menghasilkan uap yang kemudian disalurkan menggunakan pipa hingga akhirnya menjadi BBM.

Filter pun turut dipasang untuk mencegah residu mencemari kualitas produk.

Andre mengaku, inovasi yang dilakukan itu, didapat dari hasil observasi serta mencari sejumlah referensi, baik melalui video di internet maupun bertanya ke sejumlah pihak.

Dengan bekal pengetahuan yang dirasa cukup, mereka pun coba mempraktekannya. Namun, pembuatan instalasi pengolahan sampah rupanya tidak mudah. Perlu sedikitnya lima sampai enam kali percobaan hingga akhirnya berhasil.

“Dari mulai percobaan, lima sampai enam kali, selama sebulan akhirnya bisa juga,” bebernya.

Setelah berhasil, kini mereka rutin mengolah sampah yang berada di sekitarnya. Dalam sekali pengolahan, mereka bisa menghabiskan sampah hingga 10 kilogram. Mayoritas sampah berjenis plastik sisa makanan.

Kemudian dari hasil pembakaran tersebut, mereka bisa menghasilkan sedikitnya enam liter BBM, baik berjenis solar, minyak tanah sampai bensin.

“Tahunya itu BBM jenis solar dan minyak tanah, dari baunya kadar oktannya. Jadi, pada pembakaran pertama, jadinya itu solar, pembakaran kedua bensin, yang ketiga jadi minyak tanah,” ucapnya.

Seluruh hasil bahan bakar tersebut, lanjut Andre, telah diujicobakan pada korek api dan terbilang baik.

Hanya saja, karena keterbatasan alat dan modal, proses pembakaran tidak bisa dilakukan secara masif. Padahal, harapan mereka ingin menjadikan proses tersebut bisa mengatasi persoalan penumpukan sampah di Kabupaten Bekasi.

“Saya harap, ini bisa dijadikan opsi bagi pemerintah agar sampah itu tidak sekadar dibuang, tapi juga diolah. Ini menjadi potensi perbaikan,” pungkas Andre. (and)