Berita Bekasi Nomor Satu

Pemkab Bekasi Bakal Benahi 10 Titik Perlintasan Sebidang Buntut Tabrakan Kereta, Anggaran Rp15 Miliar

PERLINTASAN SEBIDANG: Sejumlah pengendara melintasi perlintasan sebidang yang dijaga oleh warga di Gang Walet, Tambun Selatan, Minggu (3/5). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi bakal membenahi sejumlah perlintasan sebidang. Langkah ini ditempuh untuk menekan risiko kecelakaan di titik rawan.

Kebijakan tersebut muncul setelah tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, pekan lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengungkapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memberikan dukungan anggaran sebesar Rp15 miliar. Dana tersebut diproyeksikan untuk membenahi 10 titik perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan.

BACA JUGA: Perlintasan Sebidang Dikuasai Ormas Bakal Dievaluasi Pascainsiden Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

“Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur dan kita akan mendapatkan bantuan provinsi. Satu titik itu sekitar Rp1,5 miliar, jadi totalnya Rp15 miliar untuk 10 titik,” kata Asep, Kamis (30/5).

Dengan anggaran itu, pihaknya berencana memasang palang pintu otomatis, memperbanyak rambu lalu lintas, mengoptimalkan penerangan jalan, serta memperketat pengawasan di lapangan.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan pemetaan prioritas untuk menentukan lokasi yang akan dipasangi teknologi tersebut.

BACA JUGA: Bukan Ditutup, Perlintasan Sebidang di Bekasi Timur Ini Malah “Dilegalkan”

“Sekarang lagi kita identifikasi titik-titiknya, mana saja perlintasan sebidang yang nanti akan kita buatkan penutup kereta yang mumpuni, lebih bagus, lebih canggih dari sebelumnya, bukan sekedar palang pintu manual,” tuturnya.

Asep juga menyoroti maraknya perlintasan liar di kawasan padat penduduk. Ia menyayangkan warga yang kerap membuka akses jalan di atas rel kereta demi kepraktisan tanpa mengindahkan risiko keselamatan.

“Biasanya karena ada perumahan-perumahan atau pemukiman penduduk. Agar dekat jaraknya ini (perlintasan liar) dibuka, ditutup dengan kayu seadanya. Itu yang bahaya,” tutur Asep. (ris)