Ribuan Warga Kota Bekasi Diserang DBD

FOGGING : Warga melakukan fogging di Kawasan Perumahan Vida, Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi, belum lama ini. Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat ada sebanyak 1.910 kasus hingga Juli 2022. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi melonjak, seiring dengan peralihan musim dari musim kemarau ke musim penghujan atau pancaroba. Bahkan masuk dalam jajaran daerah dengan kasus tertinggi, baik di tingkat provinsi maupun nasional.

Tak hanya di Kota Bekasi, secara Nasional juga terjadi peningkatan Kasus DBD bulan ini. Total kasus DBD sebanyak 87.501 kasus, dengan 816 kematian. Kasus tertinggi ada di Kabupaten dan Kota Bandung, Kota Bekasi, Kabupaten Sumedang, dan Kota Tasikmalaya.


Hingga tanggal 23 September, kasus DBD di Kota Bekasi sebanyak 2.140 kasus, 13 diantaranya meninggal dunia. Catatan jumlah kasus DBD tahun ini telah melampaui kasus di dua tahun sebelumnya.

Sedangkan kasus kematian, ini merupakan yang tertinggi sejak enam tahun terakhir, disusul 11 kasus kematian pada tahun 2021. Kasus kematian tertinggi selama delapan tahun terakhir tercatat pada tahun 2016, dimana ada 50 kasus kematian.


Tahun ini, jumlah kasus tertinggi ada di wilayah Kecamatan Bekasi Utara dengan 466 kasus, 4 kasus meninggal dunia. Bulan september ini tercatat tambahan kasus DBD sebanyak 81 kasus, di dominasi rentang usia 15 sampai 44 tahun dengan 43 kasus.

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) pembantu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Nia Aminah Kurniati menyampaikan bahwa Kota Bekasi telah memiliki instrumen kebijakan pengendalian DBD. Mulai dari Instruksi Walikota sampai Surat Edaran (SE) yang diterbitkan oleh Dinkes Kota Bekasi, meliputi optimalisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), kewaspadaan dini dan Protap DBD, pembentukan Pokjanal DBD, hingga Pembentukan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J).

Kegiatan penanggulangan DBD tahun 2022 yang telah dilakukan oleh Dinkes Kota Bekasi kata Nia, dimulai dari percepatan koordinasi dan pelaporan kasus di Puskesmas dan Rumah Sakit (RS), melaksanakan gerakan serentak PSN di lingkungan masyarakat, monitoring tim DBD, sosialisasi, hingga evaluasi di pelayanan kesehatan. Upaya untuk menekan perkembangan jentik juga disebut telah dilakukan.

“Pemberian Larvasida Untuk Tiap Puskesmas Se-Kota Bekasi Supaya Bisa Menekan Jentik Nyamuk Aedes,” ungkapnya, Senin (26/9).

Kegiatan serupa juga disebut telah dilakukan di tingkat Puskesmas. Diantaranya mengoptimalkan Kelompok Kerja (Pokja) DBD tingkat kelurahan, G1R1J, hingga edukasi kepada mahasiswa.

Untuk menekan jumlah kasus pada peralihan musim ini, ia meminta masyarakat untuk menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, mewaspadai sumber DBD dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk, 3M plus,” tambahnya.

Catatan kasus hingga bulan ke sembilan ini dinilai mengkhawatirkan, terlebih data kasus sudah melampaui tahun sebelumnya oleh Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi, Heri Purnomo. Selain jumlah kasus, angka kematian juga menjadi alasan ia menyebut penyebaran kasus DBD di Kota Bekasi mengkhawatirkan. “Tinggi, iya kita cukup tinggi. Dan memang harus ada kehati-hatian dalam menanganinya,” katanya.

Melihat data dan fakta di lapangan, ia meminta Dinkes Kota Bekasi lebih serius menangani penyebaran kasus DBD. Belum lagi, cuaca akhir-akhir tidak bisa diprediksi dalam masa peralihan.

Disamping upaya Dinkes, peran serta masyarakat juga dinilai penting, salah satu cara yang paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan. Yang kerap terlupakan kata Heri, menguras genangan air, mulai dari dalam rumah dan lingkungan sekitarnya.

Contoh paling sederhana di dalam rumah, adalah di area dispenser atau alat penyimpan air, berpotensi menjadi genangan air bersih di sekitarnya, tempat favorit untuk nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak.

“Dan juga kita minta peran serta masyarakat, itu kader-kader Jumantik yang ada di tiap kelurahan, RW, agar juga menghimbau masyarakatnya dalam menjaga kebersihan,” ungkapnya.

Tepat pada tanggal 6 September lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah berkirim surat kepada seluruh kepala daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten atau kota. Isi surat tersebut meminta Dinkes untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pengendalian Dengue lebih dini salah satunya dilakukan melalui gerakan satu rumah satu Jumantik, termasuk di tempat-tempat umum dan lingkungan institusi untuk mencapai angka lebih dari 95 persen bebas jentik.

“Pelaksanaanya bisa dilakukan pada titik terendah untuk menekan peningkatan kasus atau Kejadian Luar Biasa (KLB) pada saat musim penularan atau musim penghujan,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu.

Cara berikutnya yang bisa dilakukan adalah memperkuat surveilans, memperkuat pengendalian vektor terpadu, melakukan penyelidikan epidemiologi, membentuk atau merevitalisasi kembali Pokjanal DBD, sampai penganggaran program yang memadai.

“Upaya pengendalian sejak dini ini, kami harapkan bisa dilaksanakan secara terpadu, masif, total, berkesinambungan dan tepat sasaran agar kasus DBD bisa kita tekan,” tambahnya.

Penyebarluasan informasi kepada masyarakat terkait dengan gejala Dengue disebut sangat penting agar tidak terjadi fatalitas, atau kematian.

Radar Bekasi menghimpun banyak cara untuk mencegah kembang biak nyamuk ini, mulai dari Menguras, Menutup, Mengubur atau Mendaur Ulang (3M), menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air yang sulit dijangkau, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah, hingga menggunakan obat semprot maupun oles anti nyamuk.

Masyarakat Kota Bekasi perlu mewaspadai jam-jam rawan nyamuk Aedes Aegypti beroperasi, yakni pagi dan sore hari. Data hasil penelitian yang pernah dilakukan di Universitas Hasanudin, menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi nyamuk menghisap darah manusia terjadi pada rentang waktu pukul 17:00 – 18:00 WITA, aktivitas terendah terjadi pada pukul 12:00 – 14:00 WITA, serta aktivitas pada malam hari pukul 18:00 – 20:00 WITA.

Umumnya setelah digigit dan dihisap oleh nyamuk betina, masa inkubasi virus terjadi selama 4 sampai 7 hari, gejala awal muncul setelah masa inkubasi. Setelah hari ketiga sampai ketujuh mengalami gejala awal, tubuh manusia akan merasa lebih baik dan demam mereda. Tapi, ini adalah masa-masa kritis.

Setelah masa kritis berakhir, tubuh akan merasakan gejala lebih berat, seperti sakit perut, muntah terus menerus, sesak napas, gusi berdarah, keluar darah dari hidung, tubuh terasa lemas, hingga muntah darah. (Sur)