Kudeta dan Tahanan Rumah Xi Jinping hanya Isu Jelang Kongres Partai Komunis Tiongkok

 

RADARBEKASI.ID, TIONGKOK – Isu liar kudeta terhadap Presiden Tiongkok Xi Jinping muncul di media sosial. Xi disebut sebagai tahanan rumah. Namun, kabar yang tak diverifikasi kebenarannya itu terbantahkan saat melihat daftar undangan Kongres Partai Komunis Tiongkok pada Oktober nanti. Xi dipastikan hadir.


Kongres Partai Komunis Tiongkok menegaskan kembali bahwa Xi Jinping sebagai intinya. Kongres telah menerbitkan daftar delegasi yang diundang untuk menghadiri pertemuan puncak pada 16 Oktober 2022.

Partai memilih 2.296 delegasi dari seluruh negara untuk menghadiri Kongres Partai ke-20. Pengumuman daftar tersebut membuat Xi selangkah lebih dekat untuk meraih masa jabatan ketiga.


Lantas, di mana Xi? Dia belum terlihat di depan umum sejak melakukan perjalanan luar negeri pertamanya ke Uzbekistan. Xi disebut masih dikarantina terkait pencegahan Covid-19. Ketidakhadirannya tersebut memicu spekulasi selama akhir pekan tentang apakah kepemimpinan Xi telah digulingkan. Namum, itu hanya merupakan rumor di medsos.

“Pasti ada lebih banyak rumor tentang posisi Xi menjelang kongres, tetapi kemungkinan tidak berdasar,” tulis analis Neil Thomas dan rekannya.

“Delegasi sekarang harus disetujui oleh komite kongres,” tulis Xinhua.

Daftar itu, yang mencakup Xi dan semua anggota politbiro pembuat keputusan tertinggi, juga memunculkan ilmuwan, pengacara, petugas kesehatan, bintang olahraga, dan tokoh budaya. Sekitar 620 dari 2.296 orang adalah perempuan, sementara sekitar 260 berasal dari etnis minoritas di Tiongkok.

Tantangan Xi Jinping

Di dalam negeri, perkiraan pertumbuhan ekonomi melambat karena kebijakan nol Covid-19 membebani laju pertumbuhan. Lesunya pasar properti telah menyebabkan penurunan harga selama 12 bulan dan protes di antara pemilik rumah yang dirugikan.

Di panggung internasional, Tiongkok menghadapi tekanan dari Amerika Serikat hingga Taiwan. Sementara itu, deklarasi Xi tentang persahabatan tanpa batas dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membuat posisi Tiongkok dipertanyakan. (jpc)