TPA Burangkeng Overload, Bekasi Krisis Lahan

RATAKAN SAMPAH : Sebuah alat berat meratakan sampah yang sudah melebihi kapasitas (overload), di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Selasa (25/10). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH), mengalami krisis lahan dan kekurangan alat berat untuk menata sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi.

Selain itu, dengan kondisi TPA yang sudah melebihi kapasitas (overload), keterbatasan lahan juga menjadi kendala bagi DLH untuk membuang sampah dari berbagai wilayah yang mencapai 600 hingga 700 ton per hari.


“Kami dari DLH harus bergantian berjaga di TPA Burangkeng, untuk mengantisipasi terjadinya longsor. Dan bisa mengambil tindakan,” ucap Kepala Bidang Kebersihan DLH Kabupaten Bekasi, Khoirul Hamid.

Ia menyampaikan, terkait pelayan sampah memang ada hambatan. Salah satunya keterlambatan dalam pengangkutan. Namun pihaknya tetap memberikan pelayanan secara maksimal, untuk menghindari tumpukan sampah di sumbernya.


”Kami juga berusaha menghindari adanya keterlambatan pengangkutan yang membuat tumpukan sampah terjadi di sumbernya,” terang Hamid.

Diberitakan sebelumnya, antrean truk sampah menuju TPA Burangkeng, membuat para sopir harus menginap di truk sampah untuk menunggu giliran.

Hal ini merupakan kesekian kali proses pembuangan sampah ke TPA Burangkeng bermasalah. Meski sudah bertahun-tahun lokasi tersebut dinyatakan sudah overload, namun Kabupaten Bekasi tidak memiliki tempat pembuangan sampah selain TPA Burangkeng.

Penyebab utama antrean truk hingga berjam-jam menuju TPA Burangkeng, karena lahannya tidak lagi memadai untuk menampung sampah, dan kurangnya alat berat.

Salah seorang supir truk sampah, Andi (43), mengaku sudah sampai ke TPA Burangkeng sejak pukul 09.00 WIB. Namun, hingga sore hari, truk yang dikemudikannya tak kunjung beranjak dari antrian.

“Ngantri dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, masih antre dan belum bisa masuk.

Badan rasanya sudah nggak enak, pada bau. Tapi mau balik lagi tidak bisa, karena di belakang sudah banyak yang ngantri,” bebernya.

Sopir yang mengangkut sampah dari Kecamatan Karangbahagia ini menuturkan, proses bongkar muat biasanya tidak butuh waktu lama. Ketika datang, sampah lebih dulu ditimbang sebelum dibuang. Kini, dia terpaksa harus mengantri sepanjang hari demi menjalankan tugas.

“Biasanya cuma ditimbang, buang, abis itu pulang lagi, angkut lagi. Sekarang dapat satu rit saja bisa seharian. Malah teman saya ada yang nginap di TPA Burangkeng,” terang Andi.

Pria yang sudah puluhan tahun mengemudikan truk sampah ini, tidak mengetahui secara pasti apa penyebab antrean panjang di TPA Burangkeng. Tapi, ini bukan kali pertama terjadi.

Dia berharap bisa segera dibenahi, karena berkaitan dengan pelayanan sampah masyarakat.

“Kabarnya sih, ini antre karena alat beratnya kurang, terus ada longsor juga. Harapan saya, semoga kembali normal lagi biar para sopir truk tidak antri seharian. Soalnya kan banyak sampah yang harus diangkut,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat lebih dari 30 truk sampah yang mengantri untuk masuk ke TPA Burangkeng. Hampir seluruh truk sudah ditinggal sopirnya yang memilih keluar, akibat kendaraan yang tidak bisa bergerak sama sekali.

Sementara itu, beberapa ekskavator terlihat bekerja di atas sampah yang menggunung. Petugas memindahkan berton-ton sampah dari satu gundukan ke lokasi lainnya, agar bisa menampung sampah lainnya. Bahkan terdapat beberapa sisi gunung yang longsor dan membuat sampah meluber hingga menutupi akses jalan masuk truk.

Dalam sebulan terakhir, sedikitnya tiga kali longsor sampah terjadi di TPA Burangkeng. Akibatnya, proses pembuangan sampah ke lokasi tersebut terhambat, sehingga terjadi penumpukan di sejumlah lokasi penampungan. (and)