Berita Bekasi Nomor Satu

Jajanan Anak di Sekolah Tak Penuhi Standar Kesehatan

JAJAN DI KANTIN: Sejumlah siswa SMPN 29 Kota Bekasi jajan di kantin sekolahnya, kemarin. Jajanan anak di sekolah tak memenuhi standar kesehatan. Dewi Wardah/Radar Bekasi

RADARBEKASI.ID, BEKASIJajanan anak di sekolah tak memenuhi standar kesehatan. Pasalnya, sebagian besar pedagang di sekolah masih minim pengetahuan dalam membuat olahan makanan sesuai standar kesehatan. Hal tersebut berdasarkan temuan Komisi Perlindungan Anak (KPAD) Kota Bekasi. “Masih banyak pedagang di dalam sekolah (kantin) maupun di luar sekolah yang menjual makanan tidak sesuai dengan standar kesehatan,” ujar Komisioner Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif KPAD Kota Bekasi Hadyan Rahmat Hadyan kepada Radar Bekasi, Senin (31/10).

Selama ini, kata dia, pihak sekolah hanya memberikan peringatan kepada pedagang tentang sewa lapak jualan. Bukan edukasi mengenai makanan yang sesuai standar kesehatan.

“Biasanya kalau sekolah itu cuma ngingetin uang sewa, bukan kepada edukasi yang diberikan kepada pedagang terkait makanan yang harus sesuai dengan standar kesehatan,” jelasnya.

Jajanan yang ada di sekolah seperti olahan makanan, gorengan, maupun es. Hadyan mencontohkan, makanan yang tidak sesuai standar kesehatan berbahaya bagi anak.

“Misal siswa beli es tapi es batunya bukan dari air yang matang atau gula biangnya berlebihan itu yang berbahaya, contoh lain misal siswa beli gorengan cimol terus kasih bumbu rasanya tidak sesuai takaran itu berbahaya. Nah, edukasi seperti itu yang saya rasa kurang sekali disampaikan kepada para pedagang,” terangnya.

Diakui, sebelum masa pandemi KPAD rutin sidak para pelaku usaha makanan yang berada di dalam maupun luar sekolah. Saat sidak, ditemukan pedagang yang memberi bumbu makanan melebihi takaran.

“Saat ini untuk sidak seperti itu belum kami lakukan kembali,” katanya.

Hadyan mengatakan, edukasi berupa makanan yang sesuai dengan standar kesehatan harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan kepada para pedagang di lingkungan sekolah.

“Harus diberikan secara berkala edukasi tersebut, kalau satu kali doang mah mana inget. Kadang manusia kan suka lupa sama hal-hal yang seperti itu, karena yang penting jualannya laku aja,” katanya.

Selain makanan yang dijual, menurutnya tempat dan kondisi kantin juga dinilai harus diperhatikan kebersihannya. Sebab menurutnya tempat yang lembab akan menimbulkan banyak sarang kuman.

“Posisi dan kondisi kantin juga harus diperhatikan, karena kalau tempatnya lembab akan banyak kuman yang timbul dan bisa hinggap di makanan ataupun minuman,” katanya.

Dari makanan dan minuman yang tidak sehat, kata dia, penyakit akan timbul seperti batuk ataupun diare. “Kebanyakan pasti batuk ataupun diare, karena makanan dan minuman yang tidak sesuai dengan standar kesehatan akan menimbulkan penyakit-penyakit tadi,” terangnya.

Sementara, Kepala SMPN 28 Kota Bekasi Jajang mengatakan, pihaknya telah memberikan edukasi dan mengimbau kepada siswa maupun pedagang di luar sekolah agar menjual makanan maupun minuman yang sehat dan bersih.

“Untuk pedagang kami minta makanan yang dijual higienis dan sehat, sementara untuk siswa kita imbau agar bisa memilih makanan yang sehat,” ucapnya.

Senada, Kepala SMPN 29 Kota Bekasi Endang Koswara mengatakan, pihaknya sudah memberikan edukasi kepada pedagang kantin di sekolah agar menyediakan makanan sehat..

“Kantin kan sempat vakum ya karena pandemi, jadi sebelum mulai dagang lagi kami berikan edukasi agar menjaga kebersihan dan menjaga kualitas makanan serta minuman yang akan mereka jual,” ucapnya.

Selain itu kantin dilakukan perbaikan agar lebih bersih dan aman untuk siswa. “Kami pas pandemi memperbaiki kantin agar lebih bersih dan nyaman untuk siswa,” tukasnya.

Sementara, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi Nia Aminah Kurniati menyampaikan, pihaknya telah memberikan edukasi dan pengawasan penjualan makanan di lingkungan di sekolah.

“Kami berikan pengawasan berupa pembinaan dan inspeksi kesehatan di lingkungan kantin sekolah,” ucapnya. Pengawasan yang dilakukan berupa pembinaan, kata dia, dilakukan oleh tim kesehatan lingkungan dari puskesmas di masing-masing wilayah sekolah. (dew)

 

 

 

 

Solverwp- WordPress Theme and Plugin