Puluhan Ritel di Bekasi Tumbang

RADARBEKASI.ID, BEKASI –¬†Sejumlah perusahaan ritel di Bekasi, kini kondisinya makin terpuruk akibat imbas dari pandemic Covid-19 tahun lalu. Bahkan puluhan gerai harus tumbang karena tak mampu bertahan di tengah persaingan pasar.

Radar Bekasi mencatat, akhir tahun 2021 terdapat 1.029 toko modern yang terdiri dari pusat perbelanjaan, perkulakan, supermarket, dan minimarket. Dalam tiga sampai empat tahun terakhir, ada 52 toko ritel yang tutup.


Beberapa pusat perbelanjaan yang tutup diantaranya, Ramayana Bekasi Junction yang harus pamit pada tahun 2020 lalu. Ditahun berikutnya disusul oleh Ramayana Pondok Gede pada septembe 2021. Diketahui bahwa PT Ramayana Lestari Sentosa menutup gerai lantaran kondisi bisnis pada masa pandemi Covid-19 sudah tidak memadai. Sementara di tahun ini, Borobudur Plaza yang berada di Jalan Ir H Juanda Bekasi Timur. Sejak beberapa bulan terakhir, pusat perbelanjaan tersebut sudah tidak beroprasi lagi.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi menyebut, toko ritel yang tutup diantaranya 12 gerai Giant dan 40 gerai minimarket. Untuk mengetahui alasannya, Disperindag telah bersurat kepada perusahaan ritel tersebut, namun beberapa diantaranya belum memberikan jawaban.


Diketahui, dengan kemudahan perizinan melalui online, tidak semua gerai ritel memberikan laporan saat menutup total gerai.”Karena kan perizinan sekarang sudah online, resiko (usaha)nya juga rendah, dimudahkan. Tapi tetap pengawasan pengendalian kita lakukan,” kata Analis Perdagangan pada Disperindag Kota Bekasi, Eko Wijatmiko.

Beberapa alasan tutupnya toko ritel besar ini kata Eko, diantaranya akibat tidak lagi sanggup menanggung beban biaya operasi pada masa pandemi Covid-19. Sementara pendapatan ritel menurun lantaran terjadi penurunan daya beli masyarakat, hingga pembatasan aktivitas yang dilakukan saat itu untuk mengendalikan penyebaran virus.

Adapun ritel besar yang masih beroperasi saat ini diantaranya Hari-hari swalayan, Superindo, Naga Swalayan, Ace Hardware, dan beberapa yang lain. Bisa diperhatikan ritel yang menutup seluruh gerainya adalah Giant.”Semua yang ada disini (gerai Giant) tutup, hanya PT Hero Supermarket yang di Lagoon saja yang masih buka,” ungkapnya.

Sedangkan ritel kecil, yakni minimarket, selama dua tahun terkahir ada 40 gerai yang berhenti beroperasi. Diluar situasi pandemi pun, gerai minimarket kata Eko, akan dihentikan operasinya jika target penjualan gerai tersebut tidak tercapai.

Sehingga dari total sebanyak 900 lebih gerai yang ada di Kota Bekasi, hanya 5 persen yang tercatat berhenti beroperasi, atau 40 gerai. Pada situasi pandemi selama dua tahun lalu, minimarket disebut masih bisa bertahan meskipun pendapatannya menurun hingga harus mengatur jadwal pekerjanya secara bergantian.”Minimarket yang ada di Kota Bekasi memang tidak signifikan yang tutup, karena pada saat pandemi juga kan kita tetap buka ya, walaupun dibatasi waktunya,” tambahnya.

Selama pandemi Covid-19 kata Eko, pihaknya menjaga agar tidak terjadi pengurangan karyawan oleh perusahaan ritel di Kota Bekasi, dikhawatirkan terjadi dampak sosial.

Beberapa situasi yang menjadi faktor tutupnya ritel diantaranya perubahan pola konsumen berbelanja di toko online, ritel besar pun nampak sudah memiliki toko di e-commerce. Situasi ini membuat Disperindag menyarankan pelaku industri kecil untuk memasarkan produknya secara online.

Situasi lain yang masih mengganggu pergerakan ekonomi adalah gejolak perekonomian global, memicu harga sejumlah komoditas merangkak naik.Situasi ini diakui oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), kondisi inflasi sangat diwaspadai oleh pengusaha ritel.

“Pada tahun 2022, saat kita menunggu pandemi menjadi endemi, masalah utamanya ritel adalah inflasi. Jadi perjuangan ritel sekarang itu berhadapan dengan inflasi yang meningkat,” kata Ketua Aprindo, Roy Nicholas Mandey.

Situasi ini berbeda dengan tahun 2020 dan 2021, dimana masalah utama saat itu adalah pembatasan mobilitas masyarakat, sehingga masyarakat mengurangi belanja di ritel.

Lebih lanjut, Roy mengatakan bahwa situasi ritel saat ini sama dengan situasi ekonomi Indonesia, situasinya masih relatif membaik bersamaan dengan membaiknya perkembangan perekonomian. Dimana pada kwartal pertama tahun ini perekonomian berada di 5,01 persen, meningkat di kwartal kedua menjadi 5,44 persen, salah satunya didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat.

Inflasi tahun ke tahun atau YoY dalam kondisi normal berada di angka 3 persen. Namun, saat ini YoY inflasi ada di angka 5,71 persen, sedikit membaik dibandingkan bulan September lalu sebesar 5,94 persen.”Bagi ritel sangat berpengaruh ketika kondisi (inflasi) terkoreksi membaik dari pada sebelumnya,” ungkapnya.

Menjelang akhir tahun, ritel mewaspadai kondisi perekonomian yang diramal gelap pada tahun 2023. Dampak situasi global mesti diwaspadai lantaran akan berpengaruh pada situasi perekonomian di dalam negeri.

Melemahnya nilai rupiah yang berdampak pada aktivitas ekspor dan impor kata Roy, tidak secara langsung berdampak pada perusahaan ritel. Pasalnya, produk impor yang dijual di ritel hanya berkisar satu sampai dua persen.

Namun, jika tidak diwaspadai maka akan memberikan pengaruh pada harga jual produk ritel ya g diproduksi dengan bahan baku impor. Terlebih, jika inflasi pada bulan-bulan berikutnya tidak bisa dikendalikan.”Harga jual (produk) meningkat, mau nggak mau ritel juga harus naik, ini yang berdampak pada ritel,” tandasnya. (Sur)