Serapan Lulusan SLB Rendah, Pemerintah Perlu Dorong Industri

ILUSTRASI: Sejumlah siswa sekolah disabilitas terpadu SDLB dan SMPLB mengikuti praktik, kemarin. Tingkat serapan lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) di dunia kerja masih sangat rendah. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tingkat serapan lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) di dunia kerja masih sangat rendah. Pemerintah harus terus mendorong dunia industri maupun dunia usaha agar dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi lulusan SLB untuk bekerja.

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah III Asep Sudarsono mengatakan, tingkat serapan lulusan SLB di dunia kerja secara persentase di bawah 10 persen.


“Kalau untuk daya serap lulusan siswa SLB yang bekerja masih sangat rendah atau masih di bawah 10 persen persentasenya,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (30/11).

Berdasarkan data KCD Pendidikan Wilayah III, terdapat 21 SLB dengan jumlah 1.614 siswa. Rinciannya, 12 SLB di Kota Bekasi memiliki 1.121 siswa dan sembilan SLB di Kabupaten Bekasi memiliki 493 siswa.


Asep mengaku, pihaknya berupaya untuk membuat Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dengan dunia industri maupun dunia usaha agar dapat memfasilitasi lulusan SLB bekerja.

BACA JUGA: Guru SLB di Bekasi Masih Berupaya Tingkatkan Minat Belajar Siswa

“Saat ini kami melalui KCD sedang berupaya untuk membuat kerjasama melalui MoU agar lulusan SLB bisa melanjutkan bekerja, karena sebenarnya peluang itu besar,” katanya.

Saat ini, MoU tersebut masih dalam proses. Asep berharap, nantinya dunia industri maupun dunia usaha yang sudah MoU dengan KCD Pendidikan Wilayah III dapat menerima lulusan SLB untuk bekerja sesuai dengan kemampuan dan kekurangan yang ada.

“Kami berharap dengan adanya MoU nanti, mereka lulusan SLB dapat diterima bekerja sesuai dengan kemampuan dengan kekurangan yang dimiliki,” pungkasnya.

Sementara, Ketua Resource Center Kota Bekasi Fermita Guchany  mengungkapkan, daya serap lulusan SLB dalam melanjutkan bekerja masih terbilang rendah.

“Memang masih rendah. Sebenarnya kalau di SLB tujuannya kan justru melatih keterampilan vokasional yang tujuannya agar mereka bisa mencari nafkah. Syukur-syukur buka usaha, minimal bisa bekerja,” ucapnya.

Dikatakannya, lulusan SLB dapat bekerja di beberapa jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. “Jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kekurangan yang siswa punya, biasanya kalau hambatan mental itu bisa jadi office boy, kurir, pramusaji. Sementara jika hambatannya dalam pendengaran bisa menjahit, produksi makanan maupun salon,” tuturnya.

BACA JUGA: SLB Hanya Terima Tiga Siswa

Saat ini, beberapa cara tengah dilakukan oleh Resource Center Kota Bekasi agar lulusan SLB bisa bekerja maupun berwirausaha. Antara lain menjalin kerjasama dengan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Beberapa cara untuk mendongkrak meningkatnya daya serap siswa bekerja atau membuka usaha sudah dilakukan, tapi memang progresnya belum terlihat signifikan saat ini,” ucapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap, pemerintah dapat mendukung lulusan SLB agar memiliki semangat serta peluang dalam melanjutkan bekerja maupun membuka usaha.

“Kami harap ada terus dorongan dari pemerintah (ke dunia industri maupun dunia usaha,Red) agar lulusan SLB ini memiliki peluang yang tinggi dalam melanjutkan bekerja atau membuka usaha,” pungkasnya. (dew)