Ramai-ramai Jual SPBU

ILUSTRASI: Sejumlah kendaraan mengantre mengisi BBM di salah satu SPBU di wilayah Kota Bekasi. Migrasi kendaraan hingga persaingan diduga mendorong banyaknya SPBU dijual secara daring atau online oleh pemiliknya. RAIZA SEPTIANTO/ RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Selain di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia, fenomena menjual Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) juga nampak di Kota Bekasi. Kabar migrasi kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan berbahan listrik diduga membuat pemilik SPBU mulai berfikir panjang tentang nasib bisnis mereka.

Dijumpai sederet SPBU dipasarkan di toko daring, berlokasi di Kota Bekasi. Puluhan iklan pemasaran SPBU tersebut nampak sejak pertengahan tahun 2022 lalu, harganya puluhan hingga ratusan miliar.


Beberapa diantaranya adalah SPBU di kawasan Bekasi Timur, SPBU dipasarkan Rp 38 miliar. Berikutnya, SPBU berada di kawasan Jatiasih, iklan terdaftar dua bulan yang lalu, dijual seharga Rp100 miliar. Beberapa SPBU yang dipasarkan secara daring ini masih berstatus aktif.

Ada beberapa faktor yang dianalisa membuat para pengusaha menjual SPBU. Faktor yang pertama, biaya operasional yang dikeluarkan cenderung besar, sementara margin keuntungan penjualan bahan bakar kecil. Meskipun, secara kasat mata kepastian pasar pada bisnis ini cukup tinggi.


Biaya tetap yang harus dikeluarkan selain gaji karyawan, diantaranya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Pajak Penjualan (Ppn) juga diduga menjadi persoalan.

“Sehingga, saya menduga biaya operasional tadi itu lebih tinggi dari pada margin (laba), sehingga itu menimbulkan kerugian,” kata Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, Minggu (8/1).

Faktor yang kedua kata Fahmi, SPBU Pertamina kalah saing dengan SPBU Asing. Diketahui, ada sejumlah SPBU non Pertamina di Kota Bekasi, diantaranya Shell, Vivo, dan BP-AKR.

Diantara SPBU tersebut, yang mudah dijumpai di pusat kota, atau di jalan-jalan utama adalah Shell dan Vivo.

Faktor yang terakhir, Fahmi menyebut ini sebagai fenomena jangka panjang. Program peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan berbahan bakar listrik yang semakin nyaring terdengar diduga menjadi salah satu penyebab pengusaha menjual SPBU mereka.

“Nah yang ketiga, jangka panjang, saya menyebutnya (SPBU) sunset industri, pada saatnya dia akan tenggelam,” ungkapnya.

Bahkan, akhir-akhir ini konversi kendaraan listrik nyaring terdengar, belum lagi ada kompensasi hingga subsidi bagi masyarakat yang beralih ke kendaraan listrik. Ancaman SPBU bergerak seiring dengan semakin besarnya potensi konversi ke kendaraan listrik.

“Bahkan, ada Perpres yang mengharuskan bagi pejabat pemerintah, pusat maupun daerah menggunakan kendaraan listrik,” tambahnya. (sur)