Suhartono Pejuang Rehabilitasi ODGJ Kota Bekasi, Sebulan Sembuhkan Enam Pasien

Suhartono

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jika ada pertanyaan, “Siapa peduli ODGJ?” Maka Suhartono (46) pasti akan langsung mengacungkan tangan. Ya, pria asal Mustikasari ini telah mendedikasikan setengah hidupnya untuk mengurusi ODGJ di Bekasi. Saat ini, Suhartono dengan Yayasan Zamrud Biru yang ia bentuk masih gigih memperjuangkan hal yang jarang orang pikirkan; kesembuhan bagi para ODGJ Bekasi.

Ari Ardiansyah tampak semringah, kemarin (18/1). Ia baru saja menemui para perawat dan sejumlah pasien yang sedang beraktivitas di bangsal yang dimiliki Yayasan Zamrud Biru. Bangsal yang menampung 125 pasien ODGJ itu berada di bagian belakang kantor yayasan. Kedatangan Ari kemarin untuk melepas rindu setelah lima bulan ia keluar dari perawatan.


Pria yang dengan tangan penuh tato itu mengaku sempat mendapatkan perawatan mental dari Bang Haji Tono- sapaan Suhartono- selama dua bulan. Ari dibawa keluarganya ke Yayasan Zamrud Biru yang berada di Jalan Asem Sari II, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, pada tahun lalu karena mengalami depresi.

“Ia belajar ilmu hitam disatukan dengan pelajaran Alquran tapi tidak ada guru yang mendampingi. Ia pun ga mampu menguasai itu. Akhirnya Ia pegang jimat. Jimatnya itu saya ambil dan saya coba obatin dengan cara saya, dengan cara metafisika. Dan Alhamdulilah beberapa bulan ia sembuh,” papar Suhartono kepada Radar Bekasi, kemarin.


AKTIVITAS ODGJ: Sejumlah pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) beraktivitas di Yayasan Zamrud Biru, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Rabu (18/1). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

Tono lahir dan besar di Mustikajaya. Kepeduliannya terhadap ODGJ tak datang begitu saja. Seusai menamatkan sekolah, ia bekerja di sebuah panti rehabilitasi jiwa sebagai salah satu perawat. Selama 11 tahun bekerja, Tono juga diberi kesempatan menimba ilmu rehabilitasi jiwa di Balai Pelatihan Pekerja Sosial Bandung. Namun karir Tono berakhir kurang mengenakan di panti rehabilitasi tersebut.

“Saya keluar setelah pimpinan yayasan yang lama meninggal dunia dan saat itu saya ada sedikit persoalan dengan keluarga pemilik yayasan tersebut,” jelasnya.

Tono tak mau menyerah dengan keadaan. Berbekal pengalaman dan pengetahuan dalam merehabilitasi ODGJ, Tono mengambil langkah berani dengan membangun panti rehabilitasi jiwa miliknya sendiri pada 2009. Panti itu kemudian ia beri nama Yayasan Zamrud Biru.

“Saya modal sekitar Rp300 juta. Itu untuk biaya kontrak kantor dan operasional,” cetusnya.

Pada awal pendiriannya, Tono tak hanya menerima pasien dari keluarga. Ia pun beberapa kali menjemput ODGJ yang tak terurus di jalanan. Sistem rehabilitasi yang dijalankan Tono memadukan pengobatan medis dan tradisional. Namun yang pasti, sambung Tono, masyarakat tak akan menemui jeruji besi yang terpasak di pantinya.

“Kami  tidak menggunakan jeruji, sebab pasien itu tidak harus dipenjara. Kami juga tidak ada ruang isolasi. Di sini kami menggunakan sistem pengobatan pendekatan persuasif kepada pasien,” jelasnya.

Lantas seperti apa Tono dalam merehabilitasi pasien ODGJ-nya? Proses rehabilitasi yang berlangsung di Yayasan Zamrud Biru berlangsung bertahap dan berlapis. Setiap fase dilalui dengan mengacu hasil asesmen masing-masing pasien.

Tahap pertama, Tono mengurai, pasien akan belajar untuk beradaptasi. Itu penting, untuk mengembalikan disiplin si pasien dan mereka mau memahami tata tertib lingkungan.

“Semua program telah tersusun dari mulai kegiatan religi seperti ngaji dll hingga aktivitas sehari-hari. Kalau pun ada reaksi penolakan, maka perawat pun akan mengambil langkah persuasif. Sehingga tak ada paksaan,” jelasnya.

Setelah fase adaptasi berlangsung baik, maka selanjutnya pasien melangkah ke tahap pengobatan tradisional. Saat itu pihak yayasan mulai mengidentifikasi problematika kejiwaan pasien sembari mengkroscek aduan dari pihak keluarga. Pada fase ini pasien bakal rutin menjalani totok syaraf dan ramuan. Dalam proses rehabilitasinya, Tono mengerahkan 26 karyawan yang bekerja shift siang dan malam. Selain itu, Yayasan Zamrud Biru juga telah memiliki  dokter spesialis jiwa untuk merehabilitasi pasiennya.

“Dan Alhamdulilah Yayasan Zamrud Biru sudah memiliki dokter spesialis jiwa, jadi pasien bisa berobat secara medis dan juga ada dokter psikolog dan ada dokter umum juga ada,” ucapnya

Sejauh ini rata-rata pasien yang masuk setiap bulannya mencapai 6-12 orang. Sedangkan jumlah pasien yang berhasil sembuh sebanyak 5-6 orang perbulannya.

Lantas berapa biaya yang mesti dikeluarkan jika hendak membawa pasien masuk untuk direhabilitasi? Tono menegaskan, yayasan tak memungut biaya perawatan, pengobatan, pembinaan, kebersihan. Ada pun biaya makan, itu ditanggung keluarga.

“Satu bulannya biar keluarga yang menentukan. Ada yang ngasih Rp10 ribu sehari, ada yang lebih dari itu. Tergantung kemampuan,” tegasnya.

Tono mengaku kerap menghadapi kesulitan finansial lantaran kebijakannya menggratiskan sejumlah biaya perawatan. Namun ia tak terlalu memusingkan hal tersebut. Ia hanya berharap, ada dermawan yang rela memberikan bantuan berupa lahan agar yayasannya memiliki tempat yang tetap dalam merehabilitasi.

“Saat ini saya juga masih ngontrak,” tutupnya.(rez)

 

BIODATA

Suhartono

Nama Yayasan : Yayasan Zamrud Biru

Bidang Fokus : Panti Rehabilitasi Jiwa

Lokasi : di Jalan Asem Sari II, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Metode Rehabilitasi : Medis + Tradisional

Jumlah staf perawat : 26 karyawan

Jumlah Pasien saat ini : 125 orang

Jumlah Pasien Masuk : 6 – 12 orang/perbulan

Jumlah Pasien Keluar : 5-6 orang/perbulan