Santos Lolos

(FILES) In this file photo taken on November 19, 2022, US Representative-elect George Santos speaks at the Republican Jewish Coalition Annual Leadership Meeting in Las Vegas, Nevada. Santos, a Republican elected to Congress in November, was facing a growing clamor for his resignation on December 27 , 2022, after admitting that he made up large parts of his biography -- but refusing to give up his seat. Santos's victory in a New York district helped his party secure a narrow majority in the House of Representatives -- Congress's lower chamber. (Photo by Wade Vandervort / AFP)

Oleh: Dahlan Iskan

PUN di DPR Amerika, bisa terjadi hal seperti ini: seorang pembohong besar terpilih sebagai anggota DPR. Dari Dapil New York pula. Ia bukan hanya pembohong, tapi bohong di segala bidang.


Namanya: George Santos. Umur 36 tahun. Kelahiran Brasil. Punya kewarganegaraan ganda. Ia tidak lulus SMA, tapi mengaku pernah kuliah di berbagai lembaga pendidikan.

Yang membuat Santos terpilih adalah: ia mengaku sebagai orang Yahudi. Bukan kaleng-kaleng pula: ayahnya mati sebagai korban holokos. Yakni ketika jutaan orang Yahudi dibunuh di kamar gas di Jerman.


Ada lagi caranya menarik simpati pemilih: ia bilang ibunya meninggal sebagai korban serangan teroris di gedung kembar WTC New York.

Ternyata ia bukan Yahudi sama sekali. Ayahnya lahir di Brasil. Meninggal di Brasil. Tidak pernah ke mana-mana. Tidak ada hubungannya dengan Jerman sama sekali.

Ibunya ternyata juga meninggal biasa. Bahkan sang ibu baru meninggal tahun 2016. Tanggal 23 Desember. Padahal Anda tahu: teroris yang menabrakkan pesawat ke gedung kembar WTC itu terjadi tahun 2001. Tanggal 9 September.

Akhirnya terbongkar pula, ketika peristiwa teror itu melumpuhkan New York, sang ibu belum ada di Amerika.

Yang juga menghebohkan: ia mengaku pembela LGBT dan ia sendiri menyatakan diri sebagai gay. Secara terbuka. Ini agak aneh. Ia nyalon dari Partai Republik. Tapi mengaku gay. Padahal ideologi partai itu anti LGBT. Tapi karena dapilnya New York, Santos pun mencari simpati dengan mengaku gay.

Akhirnya terbongkar: ia punya istri. Sejak 2012. Baru cerai 2019 lalu. Menjelang masa kampanye Pemilu.

Di bidang pendidikan ia mengaku belajar di sekolah swasta elite: Horace Mann. Lalu mengaku punya gelar dari New York University. Masih ditambah New York’s Baruch College. Keren banget.

Ternyata semua itu bohong. Ia tidak pernah sekolah, pun hanya SMA. Ijazah SMA-nya dari ujian persamaan.

Padahal Santos mengaku di salah satu lembaga pendidikan itu ia adalah bintang pemain tim volley ball di sekolah itu. Keruan saja tim bola voli sekolah itu membantah: tidak pernah punya pemain voli bernama Santos. Apalagi dengan wajah seperti di foto media.

Dalam proses pencalonannya itu, Santos juga mengaku pernah bekerja di perusahaan paling bergengsi: Goldman Sachs dan Citi Corp. Dua perusahaan keuangan itu pun mengeluarkan bantahan: tidak mengenal Santos.

Santos masih mengaku sebagai pengusaha properti yang sukses. Ia mengaku punya beberapa gedung di New York. Ketika dicek, gedung-gedung itu bukan ia punya. Omong besar.

Nah, kalau pengakuan yang satu ini benar. Ia pernah bekerja di perusahaan investment Harbor City Capitol Corp. Di Florida. Tahun 2020. Tapi perusahaan itu tutup di tahun berikutnya.

Penyebab penutupannya adalah: perusahaan itu diperiksa otoritas keuangan Amerika. Harbor City Capitol Corp dinilai sebagai perusahaan yang melaksanakan praktik pengumpulan dana tipu-tipu ala ponzi.

Ternyata Santos sendiri terlibat penipuan buku cek. Lalu menggunakan dana kampanye yang melanggar aturan.

Komplet sekali kebohongannya. Tapi Santos terpilih sebagai anggota DPR Amerika. Sudah sah sejak 1 Januari 2023 lalu. Ia pun bergabung dalam kaukus sayap kanan yang ekstrem. Mendukung Donald Trump. Anti aborsi.

Untung pers Amerika rajin membuka latar belakang seluruh anggota DPR. Terutama yang baru. Yang menonjol.

Santos menonjol karena baru kali ini dapil pinggiran kota New York dimenangkan calon dari Partai Republik. Dapil itu secara tradisional dimenangkan calon dari Demokrat.

Setelah semua itu terbongkar, tuntutan muncul: agar Santos mengundurkan diri. Tapi ia bisa melawan. Tanpa mundur Santos bisa tetap jadi anggota DPR. Lembaga itu baru bisa memecatnya kalau disetujui 2/3 anggota DPR. Prosesnya pun panjang.

Setidaknya Santos telah menjadi berita besar di Amerika. Jadi bahan lucu-lucuan berhari-hari. Pertanyaan pun muncul: kenapa orang seperti Santos bisa lolos. (Dahlan Iskan)