Berita Bekasi Nomor Satu

Mulai Diserang Sampah Bambu

Illustrasi : Sejumlah relawan, mengangkat sampah menggunakan tali dari Sungai Kali Jambe, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Minggu (17/10). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Belum juga memasuki puncak musim penghujan, sampah bambu dan pohon pisang dari hulu mulai berdatangan terbawa arus air di Kali Cikeas. Pekan kemarin, sampah tersebut menumpuk di Bendung Koja, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

Sampah diketahui menumpuk dalam jumlah besar, hampir menutup seluruh lebar sungai. Penampakan ini sering kali terjadi pada puncak musim penghujan, dimana sampah bambu dan pohon pisang terbawa air, kemudian tersumbat Bendung Koja.

“Jadi kalau musim hujan itu biasa tuh, karena dia debitnya naik, jadi sampah-sampah bambu, kayu itu dia kebawa tuh,” kata Kabid Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup, dan Penegakan Hukum (PPKLHPH) pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky.

Dibutuhkan waktu hingga lima hari sampai dengan kemarin untuk mengangkat sampah dari badan sungai. Pekerjaan beberapa kali terhenti lantaran Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Cikeas meninggi.

“Karena debit airnya terlalu besar, khawatir membahayakan petugas,” tambahnya.

Andy memastikan pembersihan sampah-sampah tersebut rampung kemarin.

Sampah bambu dan pohon pisang ini mulai muncul sejak hujan mulai turun beberapa pekan terkahir. Sampah diketahui mulai terlihat di area Bendung Koja sejak 10 hari terkahir.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C), Puarman menyebut debit air Sungai Cikeas 10 hari terakhir relatif tinggi. Kondisi ini terbilang beresiko lantaran pengangkutan sampah di Bendung Koja tidak bisa dilakukan menggunakan alat berat.

Namun jika tidak diangkat, sampah tersebut akan menyumbat aliran air serta menambah potensi banjir. Puarman meminta masyarakat di hulu sungai Cikeas agar tidak meletakkan bambu tidak terpakai di bibir sungai. Diketahui, aliran sungai ini melintas di beberapa daerah seperti Kota Depok dan Kabupaten Bogor.

“Kalau memang bambunya tidak dimanfaatkan lagi jangan ditaruh di pinggir sungai. Karena kalau kalau ditaruh di pinggir sungai, begitu tinggi muka air naik dia hanyut,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga meminta masyarakat di sepanjang aliran sungai untuk aktif memberikan informasi jika terdapat rumpun bambu yang longsor agar bisa segera dibersihkan. Jika tidak segera dibersihkan, berpotensi menimbulkan banjir bandang, atau rumpun bambu tersebut menjadi sampah dan hanyut terbawa arus sungai.

“Begitu dia membendung air, pada saat datang air yang besar itu dia jebol ke hilir,” tambahnya. (sur)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin