Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Bekasi Kekurangan Ribuan Guru

Pendidik Makin Stress, Sebagian Terjerat Pinjol

Illustrasi : Ribuan guru TKK di Dinas Pendidikan Kota Bekasi belum gajian. Foto Dok Radarbekasi.id.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Hasil riset yang menyebut tingkat stres guru tinggi nyatanya berjalan lurus dengan kenyataan di Kota Bekasi. Beberapa faktor jadi penyebab, mulai dari kekurangan guru, hingga perilaku anak didik mereka. Gaya hidup perkotaan juga menjadi faktor negatif, masih ada guru yang terjerat Pinjaman Online (Pinjol) di Kota Metropolitan ini.

Perubahan teknologi sedianya tidak banyak berpengaruh bagi guru di Kota Bekasi. Namun ada beberapa hal yang memicu faktor ini, seperti banyaknya dokumen administrasi guru pada pelaksanaan kurikulum merdeka, serta perilaku siswa saat ini yang dinilai berbeda dibandingkan beberapa tahun kebelakang.

Tidak sampai disitu, dat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan mayoritas korban Pinjol berprofesi sebagai guru, mencapai 42 persen. Meskipun tidak banyak, masih ada guru yang terjerat Pinjol di Kota Bekasi.

Salah satu guru sekolah swasta di Kota Bekasi, Tian (25) mengatakan bahwa kesejahteraan bagi guru adalah poin pertama yang hingga saat ini masih dikeluhkan. Sementara tingkat stres, ia mengaku banyaknya administrasi yang harus dilengkapi oleh guru jadi salah satu penyebabnya, meskipun saat ini sekolahnya telah menggunakan kurikulum merdeka.

Beban kewajiban administrasi ini disebut membuat tingkat stres meningkat drastis.”Yang pertama itu kesejahteraan guru yang masih kurang. Lalu kesejahteraan kesehatan guru, itu masih kurang diperhatikan oleh berbagai pihak,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan oleh salah satu guru yang saat ini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kota Bekasi, Maryani. Ia menyebut tingkat stress yang tinggi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pelaksanaan kurikulum merdeka.

Meskipun, ia menyampaikan tingkah stres ini sangat bergantung pada mentalitas masing-masing guru. Salah satu yang membuat guru harus berfikir menyiasati pengajaran kepada anak didiknya berkaitan dengan tata bahasa yang digunakan di dalam buku ajar, kemudian alur materi yang ia nilai tidak berurutan.

“Bahasa yang ada pada buku sumber itu jangankan untuk murid ya, untuk gurunya saja pusing,” ungkapnya.

Selain itu, fasilitas untuk mendukung pembelajaran pada kurikulum merdeka juga belum sepenuhnya memadai. Satu hal lagi, ia menggarisbawahi perilaku siswa yang dinilai berbeda dengan siswa beberapa tahun yang lalu.”Ternyata memang beda sekali ya karakter perilaku anak zaman now kalau kita lihat kebelakang,” tambahnya.

Kekurangan guru yang beberapa tahun belakangan dialami di Kota Bekasi juga menjadi salah satu faktor penyebab tingkat stres guru tinggi. Kekurangan guru ini terjadi di sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta, terutama sekolah swasta yang berada dibawah naungan yayasan menengah kebawah atau sekolah yang jumlah siswanya relatif kecil.

Animo lulusan perguruan tinggi menjadi guru sejauh ini dinilai masih relatif tinggi, kebijakan pemerintah pusat melarang sekolah negeri khususnya menambah guru honorer jadi faktor sekolah negeri kekurangan guru. Sekolah ataupun pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ini, akibatnya beban guru meningkat seiring dengan jumlah siswa yang diajar, hingga guru mata pelajaran pun terpaksa harus merangkap menjadi guru kelas.

Sementara itu, rekrutmen guru PPPK yang telah dilakukan beberapa tahun kebelakang tidak menambah jumlah guru di sekolah negeri. Melainkan hanya menaikkan status guru honorer di setiap satuan pendidikan dengan jumlah terbatas.

“Betul (jadi salah satu faktor tingkat stres guru tinggi), yang semula tanggung jawabnya hanya 25 (siswa) maksimal sampai 30. Sekarang tugas mereka bertambah,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bekasi, Dedi Mufrodi.

Dedi meminta persoalan ini harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah. Jika tidak, dikhawatirkan kualitas pendidikan menurun.

Faktor berikutnya adalah perilaku peserta didik. Perilaku peserta didik yang dinilai menyimpang kadang dianggap biasa aja oleh orangtua murid, tak jarang guru harus berurusan dengan hukum saat berniat mendisiplinkan siswa.”Itu lah mengapa tingkat stres pekerjaan guru jauh lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain,” ungkapnya.

Terkait dengan Pinjol, Dedi mengakui masih menemukan beberapa kasus guru terjerat Pinjol di Kota Bekasi, meskipun hanya hitungan jari.

Menurutnya, hal ini berkaitan dengan belum baiknya pengelolaan keuangan keluarga, gaya hidup perkotaan, hingga kebutuhan mendesak yang tiba-tiba harus dipenuhi oleh guru. Terkait dengan pengelolaan keuangan dan gaya hidup, Dedi menilai hal ini sedianya tidak perlu terjadi dengan total penghasilan yang mereka terima setiap bulan dari gaji, TPP, hingga Tunda berkisar Rp 10 juta.

Tentu, besaran penghasilan ini tidak berlaku untuk semua guru.”Tapi kan manajemen keuangan di keluarga, kemudian gaya hidup di kota barangkali, akhirnya mereka mencoba sesuatu di luar kemampuan mereka,” tambahnya.

Terkait dengan persoalan Pinjol ini, pihaknya mengaku terus mengedukasi para guru. Ia juga berharap koperasi PGRI bisa dibentuk di setiap cabang di kecamatan untuk meminimalisir hal itu, jika guru memiliki kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.

Pada ulang tahun PGRI ke 78 dan hari guru nasional tahun ini, ia meminta kepada pemerintah untuk mencarikan solusi kekurangan guru, memberikan perlindungan hukum kepada guru, hingga meningkatkan kesejahteraan guru. Kepada pemerintah Kota, ia meminta agar kuota rekrutmen PPPK ditambah sebagai upaya mengatasi kekurangan guru.

Diketahui, Kota Bekasi kekurangan lebih dari 2 ribu guru untuk tingkat Sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kurangnya minat lulusan perguruan tinggi menjadi guru nyatanya bukan faktor utama. Buktinya, dalam tiga tahun terakhir wisudawan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi lebih tinggi dibandingkan dengan fakultas lain.

Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, lulusan FKIP mayoritas bekerja sebagai guru.”Alhamdulillah hasil Tracer Study mahasiswa FKIP 80 persen bekerja sebagai guru,” kata Dekan FKIP Unisma Bekasi, Yudi Budianti.

Tren sosial media mulai menunjukkan perubahan, aktivitas membuang konten seperti YouTubers dan Tiktokers tampaknya lebih menggiurkan dari sisi penghasilan. Akibatnya, wisudawan FKIP Unisma Bekasi tahun ini jumlahnya menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Asisten Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat (Asisten II) Sekretariat Daerah Kota Bekasi, Inayatullah membenarkan bahwa kekurangan guru dialami oleh sekolah milik pemerintah. Kekurangan guru ini sudah dialami sejak ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bekasi.

Jumlahnya diperkirakan terus bertambah seiring dengan bertambahnya guru-guru yang memasuki masa pensiun. Dalam satu tahun, guru-guru yang memasuki masa pensiun berkisar 300 sampai 500 orang.”Nah itu cara mengatasinya apa, ada TKK, ada PPPK, kemudian ditambah juga dengan jam mengajar seorang guru,” katanya.

Opsi penambahan jam mengajar guru ini terpaksa harus diambil sebagai salah satu opsi selama jumlah guru masih kurang.

Opsi memberdayakan mahasiswa magang juga disebut bisa menjadi salah satu solusi. Program kampus mengajar dinilai sangat baik untuk membantu pemerintah dalam mengatasi kekurangan guru.

Terlebih pada pelaksanaan kurikulum merdeka, berbagai macam keahlian mahasiswa yang terjun ke sekolah ini bisa jadi nilai positif untuk mengembangkan potensi siswa.”Jadi walaupun kekurangan guru masih tetap jalan,” ungkapnya.

Ia memahami profesi guru memiliki tingkat stres tinggi. Pasalnya, pekerjaan seorang guru mendidik siswa tidak sama dengan pekerjaan lain.”Berbeda dengan pekerja kantor, sehari dua hari ditinggal tidak masuk, besok bisa kita kerjakan sekaligus. Tapi manusia tidak,” tambahnya. (sur)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin