Berita Bekasi Nomor Satu

Siaga Bencana Sampai April

ILUSTRASI: Warga menggendong anaknya melintasi banjir yang melanda Perumahan Puri Nirwana Residence di Karangbahagia Kabupaten Bekasi, Maret lalu. Pemkab Bekasi memprediksi puncak hujan di wilayahnya terjadi pada Februari – Maret 2024. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga Kota Bekasi harus bersiaga menghadapi ancaman bencana sepanjang musim penghujan ini. Kendati ‘rutin’ terjadi, bencana banjir kiriman dari wilayah hulu menjadi salah satu yang patut diwaspadai.

Diketahui, saat ini terdapat 19 titik rawan banjir di Kota Bekasi. Tersebar di lima kecamatan, yakni Jatiasih, Rawalumbu, Bekasi Timur, Bekasi Utara, dan Pondok Gede. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi telah mensiagakan personel di tiap kecamatan untuk melakukan pengawasan.

Belakangan ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem akan melanda wilayah Jabodetabek sampai awal Desember. Cuaca ekstrem berdampak pada peningkatan curah hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bekasi, Enung Nurcholis menyampaikan bahwa fenomena Elnino sesuai prediksi BMKG memang masih terjadi hingga awal tahun 2024 nanti. Namun, musim penghujan di wilayah Kota Bekasi juga diprediksi mulai terjadi pada November hingga April 2024.

“Prediksi sampai April,” katanya.

Daerah rawan banjir terjadi di wilayah dataran rendah dan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir akibat hujan lokal dengan intensitas tinggi.

Sementara disepanjang DAS, banjir disebabkan oleh air kiriman dari Bogor.

“Untuk wilayah DAS, kita fokus Kecamatan Jatiasih, Bekasi Timur, dan Bekasi Utara,” tambahnya.

Selain petugas BPBD telah disiagakan, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) juga telah dikukuhkan belum lama ini.

Ketua FPRB Kota Bekasi, Abdul Haris mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah menjalin komunikasi dengan berbagai unsur Pentahelix seperti akademisi hingga relawan guna meminimalisir resiko bencana. Puncak musim penghujan kata dia, diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2024.

“Tugas kita adalah memberikan pemahaman, memberikan edukasi kepada masyarakat dalam rangka pencegahan atau pengurangan resiko bencana,” katanya.

Risiko bencana paling besar kata Haris, akibat banjir kiriman dari wilayah hulu. Hal ini disebabkan karena terjadi tiba-tiba, masyarakat tidak memprediksi, dan minim kesiapan.

Bencana banjir terutama mengakibatkan kerugian materil.

“Terutama materi, kalau sudah kejadian besar itu bagaimana menyelamatkan jiwa,” tambahnya.

Dalam kondisi ini ia menilai masyarakat perlu mengenali potensi bencana hingga mengetahui jalur evaluasi pada saat bencana terjadi. (sur)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin