RADARBEKASI.ID, BEKASI – Rapat daring di Pemkot Bekasi kini tak lagi sekadar formalitas. Itu karena setiap aparatur sipil negara (ASN) “dipaksa” fasih berbahasa Inggris. Lewat program One Day English, aparatur yang biasanya santai berbahasa Indonesia, mendadak harus tampil bak “pegawai internasional” saat zoom meeting selama pelaksanaan work from home (WFH).
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut kebijakan ini sebagai gebrakan baru untuk mengubah pola kerja sekaligus mendongkrak kompetensi ASN agar lebih siap bersaing di level global.
“Perintahnya sekarang kami coba dalam bahasa Inggris. One day English lah,” ujar Tri, Kamis (16/4).
Tak berhenti di gaya bicara, kebijakan ini juga dibarengi sistem kerja ketat. Seluruh ASN wajib melaporkan progres pekerjaan tiga kali sehari—pagi, siang, dan sore—dengan rapat pagi sebagai titik awal pembagian target dan evaluasi.
Output kerja pun tak boleh melenceng. Pimpinan akan mencocokkan instruksi dengan hasil kerja harian yang dilaporkan.
“Harus kelihatan korelasinya antara yang diperintah dengan yang dikerjain,” tegasnya.
Agar tak sekadar gaya-gayaan, setiap rapat wajib direkam. Hasil rekaman itu diserahkan ke Asisten Daerah (Asda) sebagai bahan evaluasi dan pengawasan kinerja.
Pemkot bahkan tak main-main. Rencana menggandeng pihak universitas sebagai “juri” untuk menilai kemampuan bahasa Inggris ASN tengah disiapkan.
“Kalau universitas siap, mereka yang akan jadi penilainya,” kata Tri.
Menurutnya, kebijakan ini bukan sekadar gimmick, melainkan bagian dari ambisi besar menjadikan Bekasi sebagai kota berstandar internasional. Apalagi, kerja sama luar negeri terus diperluas—mulai dari Izumisano (Jepang), Seongnam (Korea Selatan), hingga penjajakan dengan Jiangning (Tiongkok) dan Susaki (Jepang).
Tri menilai, peningkatan kemampuan bahasa Inggris menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus investasi dan kolaborasi global.
“Ini bagian dari transformasi budaya kerja. ASN harus adaptif, tidak bisa lagi biasa-biasa saja,” tandasnya.(rez)











