RADARBEKASI.ID, BEKASI – Taman Limo di Jatiwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, kini tak lagi ramai. Suara pengunjung dan tawa anak-anak telah hilang.
Destinasi wisata yang sempat populer itu tutup sejak 2023 setelah beroperasi sejak 2016. Penutupan terjadi akibat sepinya pengunjung pascapandemi Covid-19 serta rusaknya akses jalan akibat longsor. Kini hanya tersisa kereta permainan anak dan bangunan kayu serta bambu bekas warung.
Namun kehidupan warga tidak ikut berhenti. Lahan yang dulu menjadi tempat wisata keluarga kini beralih fungsi menjadi pusat ketahanan pangan.
Lahan dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele dan nila. Upaya ini menjaga perputaran ekonomi warga tetap berjalan.
Santung (37), mantan pengelola Taman Limo, mengatakan perubahan dimulai sejak awal 2024. Setahun setelah tempat wisata itu tutup, warga mulai mengalihkan lahan untuk program ketahanan pangan desa.
“Saat ini program yang sedang jalan adalah ketahanan pangan. Kami buat budidaya lele dari pembenihan, pembesaran, sekaligus memproduksi di sini semua,” ujar Santung, Jumat (17/4/2026).
Ia mengingat kondisi awal 2023 saat pengunjung mulai sepi. Pedagang satu per satu menutup usaha. Situasi diperparah oleh rusaknya akses utama. Yang tersisa hanya bangunan semi permanen dan bekas warung, termasuk rumah makan apung yang kini telah ambruk.
Santung bersama delapan hingga sepuluh warga kemudian mengelola kolam ikan. Meski wisata berhenti, lahan itu tetap menghasilkan.
“Paling tidak ada kegiatan untuk warga, terutama buat anak muda yang belum bekerja di sini ada tempat. Walaupun sedikit, namun perputaran ekonomi berjalan,” ucapnya.
Budidaya lele kini telah memasuki tahap produksi penuh, mulai dari pembenihan hingga pembesaran. Hasilnya dipasarkan ke pedagang kecil hingga pengepul besar.
Harga jual berkisar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram untuk pedagang. Sementara untuk pembelian dalam jumlah besar, harganya berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram.
“Ada juga yang kayak pedagang-pedagang di sekitar lingkungan kami ngambilnya langsung ke sini. Kami tetap layani, walaupun hanya beli 2 kg atau 3 kg ketika stoknya ada kami jual,” tutur Santung.
Transformasi ini menunjukkan lahan di kawasan industri tetap dapat memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi warga jika dikelola secara adaptif.
Santung mengaku belum mengetahui masa depan Taman Limo sebagai destinasi wisata. Ia menilai pengelolaan akan sulit jika tidak ada kesepakatan bersama antara pengurus dan pedagang.
“Kalau misalkan kami ngandalin pengurus untuk perawatan, sepertinya sulit. Terkecuali mungkin dari awal sama pihak pedagang bisa selaras Ya artinya buat perawatan bareng-bareng, mungkin bisa,” tandasnya. (ris)











