RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Indonesia (Unisma Bekasi) resmi memulai program penelitian dan pengabdian masyarakat di Desa Muara Bakti. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan langsung ke tengah masyarakat, sekaligus menjadikan desa sebagai laboratorium sosial yang hidup.
Ketua tim penelitian, Endang Suryana Priyatna, menegaskan bahwa pihaknya datang bukan hanya untuk melakukan observasi, mengambil data, lalu pergi. Menurutnya, riset yang dilakukan harus memberi dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Karang Taruna ini memiliki potensi berkembang lebih bagus. Perannya di masyarakat khususnya dalam membangun desa patut diapresiasi. Maka dari itu, kami akan melakukan pendampingan untuk pembangunan desa ini,” ujar Endang saat sosialisasi program capacity building untuk desa tanggap perubahan iklim.
Ia menjelaskan, konsep penelitian yang dibawa LPPM Universitas Muhammadiyah Indonesia (Unisma Bekasi) bukan model akademik yang berhenti di meja seminar. Seluruh temuan lapangan nantinya akan diterjemahkan menjadi program pemberdayaan yang langsung bisa dirasakan warga.
Karena itu, tim peneliti terdiri dari dosen lintas bidang keilmuan. Ada dosen Ilmu Komunikasi, Sastra dan Budaya, Geografi, hingga Ekonomi Syariah. Kombinasi tersebut disusun agar pengembangan desa dapat dilakukan secara komprehensif.
Dari sisi komunikasi, tim akan memperkuat kapasitas warga dalam berbicara di depan publik, mengelola informasi, serta membangun citra positif desa melalui media digital. Dari bidang sastra dan budaya, tim akan menggali identitas lokal, tradisi masyarakat, dan potensi seni yang dapat diangkat sebagai kebanggaan bersama.
Bidang geografi akan fokus pada pemetaan wilayah, tata ruang, potensi lingkungan, hingga mitigasi bencana. Sementara ekonomi syariah diarahkan untuk mendorong lahirnya usaha produktif warga yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal.
“Ya, salah satu output-nya kita ingin membuat profil desa melalui aktivitas Karang Taruna Muara Bakti. Pemuda yang konsisten, tangguh, dan mengembangkan desa ke tatanan internasional,” kata Endang.
Selama dua tahun ke depan, LPPM Universitas Muhammadiyah Indonesia menargetkan serangkaian pelatihan intensif. Anak-anak hingga remaja akan dibekali keterampilan Bahasa Inggris dasar dan percakapan aktif. Para pemuda Karang Taruna akan mendapatkan pelatihan public speaking, kepemimpinan organisasi, jurnalistik warga, produksi video, fotografi, dan pembuatan website desa.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kota Bekasi, Senin 20 April 2026, BMKG: Hujan di 12 Kecamatan
Pelatihan tersebut dinilai penting karena desa saat ini membutuhkan kemampuan promosi digital. Potensi lokal yang baik sering kali tidak dikenal luas karena tidak memiliki dokumentasi dan narasi yang kuat. Dengan kemampuan media, pemuda desa diharapkan mampu memperkenalkan Muara Bakti kepada publik lebih luas.
Selain itu, tim peneliti juga akan mendorong penguatan ekonomi warga melalui pendampingan UMKM, tata kelola usaha, pemasaran digital, serta literasi keuangan berbasis prinsip syariah. Tidak berhenti di situ, masyarakat juga akan mendapatkan edukasi tentang perubahan iklim, pengelolaan sampah, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir maupun rob yang kerap mengancam kawasan pesisir Babelan.
Menurut Endang, isu lingkungan harus menjadi perhatian serius generasi muda. Ia menilai Karang Taruna Muara Bakti memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim yang kini nyata dirasakan.
“Karang Taruna Muara Bakti harus menyuarakan kepedulian dan usaha generasi muda terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Saat ini kita memasuki musim kemarau. Perubahan iklim juga ikut mempengaruhi kondisi desa. Karena itu, peran Karang Taruna di tengah masyarakat harus makin kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, perubahan iklim tidak lagi sekadar isu global yang dibicarakan di forum besar, tetapi sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari warga desa. Musim yang tak menentu, panas yang meningkat, berkurangnya debit air, ancaman banjir rob, hingga persoalan sampah dan sanitasi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, selain penguatan SDM bagi Karang Taruan Muara Bakti, fokus pendampingan lainnya yakni membangun kader-kader muda peduli lingkungan yang mampu menyuarakan secara luas kepedulian dan usaha generasi muda terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.
“Ini awal dari pertemuan kita. Pasti nantinya kita bakal sering ke sini dalam dua tahun ke depan,” tegas Endang.
Bagi warga Muara Bakti, kehadiran kampus membawa harapan baru. Ketua Karang Taruna Muara Bakti, Maryanto, mengaku sangat menyambut baik program tersebut. Menurutnya, desanya memiliki banyak potensi, namun masih terkendala kualitas sumber daya manusia.
“Di Karang Taruna sendiri kami kekurangan SDM,” ujarnya.
Meski dengan keterbatasan, para pemuda Muara Bakti selama ini tetap bergerak. Mereka mengelola media sosial desa sebagai sarana informasi warga, aktif membantu masyarakat saat terkena musibah, serta menjalankan bank sampah yang mendapat apresiasi luas.
Di Pos Baca, mereka juga rutin membuka bimbingan belajar gratis bagi anak-anak. Anggota Karang Taruna bergantian menjadi pengajar sukarela, mendampingi siswa belajar selepas sekolah.
Tak hanya itu, mereka mengembangkan budidaya ikan lele, usaha katering untuk menopang kegiatan organisasi, hingga Sekolah Sepak Bola Putra Mukti yang beberapa kali mengikuti turnamen antarwilayah.
Menurut Maryanto, semangat para pemuda selama ini sering kali berjalan tanpa dukungan memadai. Bahkan sebagian program terlaksana dengan swadaya dan bantuan pihak swasta.
“Selama ini justru yang memberikan perhatian dari pihak swasta,” katanya.
Karena itu, kolaborasi dengan LPPM Universitas Muhammadiyah Indonesia (Unisma Bekasi) dinilai sebagai momentum penting. Kampus hadir membawa tenaga ahli, metode ilmiah, pendampingan terukur, dan akses jejaring yang selama ini sulit dijangkau masyarakat desa.
Baca Juga: STIE Tri Bhakti Dorong Kolaborasi Global Lewat Seminar Internasional
Melalui penelitian ini, Desa Muara Bakti juga akan memiliki basis data pembangunan yang lebih akurat. Potensi ekonomi, kondisi sosial, persoalan lingkungan, hingga kebutuhan generasi muda akan dipetakan secara sistematis. Data tersebut nantinya bisa menjadi rujukan dalam menyusun program pembangunan desa yang tepat sasaran.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa penelitian tidak harus berjarak dengan masyarakat. Ketika kampus turun langsung ke lapangan, ilmu pengetahuan menjadi alat perubahan, bukan sekadar bahan publikasi akademik.
Di Muara Bakti, langkah besar itu dimulai dari sebuah Saung Edukasi sederhana. Dari tempat itu lahir gagasan bahwa desa bisa tumbuh dengan kekuatan warganya sendiri, dibantu dunia pendidikan yang peduli.
Jika konsistensi dijaga, dua tahun ke depan Muara Bakti bukan hanya dikenal sebagai desa di pesisir Bekasi, tetapi sebagai contoh bagaimana riset, pengabdian, kepedulian lingkungan, dan gerakan pemuda mampu mengubah wajah kampung menjadi lebih maju, mandiri, hijau, dan diperhitungkan hingga tingkat internasional.(*)











