Berita Bekasi Nomor Satu

PENA ’98 Soroti Kondisi Ekonomi Nasional

DISKUSI: Para mantan aktivis ’98 saat menghadiri konsolidasi dan diskusi kebangsaan Perhimpunan Aktivis Nasional (PENA) ’98 di Gedung Creative Center, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (21/5). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Momentum peringatan Hari Reformasi 21 Mei dimanfaatkan para aktivis reformasi untuk kembali membangun konsolidasi nasional.

Dalam pertemuan Perhimpunan Aktivis Nasional (PENA) ’98 yang digelar di Gedung Creative Center, Bekasi Timur, Kota Bekasi, para mantan aktivis mahasiswa itu menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai berpotensi memicu keresahan sosial di tengah masyarakat.

Ketua Umum PENA ’98, Tumpak Sidabutar menegaskan, pertemuan tersebut bukan gerakan politik praktis ataupun konsolidasi untuk kepentingan kelompok tertentu.

Menurutnya, forum itu menjadi titik awal menyatukan kembali para aktivis ’98 yang selama ini tersebar di berbagai profesi dan latar belakang politik.

“Momentum Hari Reformasi ini kita manfaatkan untuk konsolidasi internal. PENA ’98 tidak berafiliasi ke salah satu partai atau satu warna tertentu. Ada yang di partai, birokrasi, pengusaha, bahkan TNI dan Polri juga ada,” ujar Tumpak kepada wartawan, Kamis (21/5).

Dalam diskusi tersebut, kondisi ekonomi nasional menjadi salah satu isu yang paling banyak dibahas. Para aktivis menilai, tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tidak berkembang menjadi gejolak sosial.

Tumpak menyinggung pengalaman Reformasi 1998 yang dipicu krisis ekonomi dan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah saat itu. Menurutnya, pemerintah perlu belajar dari sejarah agar situasi serupa tidak kembali terjadi.

“Kalau pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti kenaikan BBM dan segala macam, itu warning sebetulnya. Kalau rakyat terus tertekan, rakyat pasti marah. Jangan sampai sejarah itu terulang lagi,” tegasnya.

Meski begitu, ia menegaskan PENA ’98 tidak sedang membangun gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Pertemuan tersebut disebut lebih sebagai pengingat sejarah sekaligus upaya membangun komunikasi antaraktivis lintas generasi.

Sementara itu, Ketua Panitia PENA ’98, Hari Setiawan alias Buluk mengatakan, hasil diskusi bersama para aktivis menunjukkan masih banyak pihak yang belum puas terhadap kondisi Indonesia saat ini.

“Jelas dari diskusi tadi masih banyak yang tidak puas dari kondisi (Indonesia), kenaikan BBM, apa semua segala macam,” kata Buluk di lokasi, Kamis (21/6).

Menurut Buluk, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi para aktivis untuk kembali menyusun langkah dan formulasi gerakan ke depan.

Konsolidasi PENA ’98 pun disebut akan terus berlanjut melalui pertemuan rutin hingga kemungkinan digelarnya rembuk nasional para aktivis reformasi.“Ini baru titik awal komunikasi. Ke depan pasti ada pertemuan yang lebih intens,” tandasnya. (rez)