Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Gubuk Dea

 

Oleh: Dahlan Iskan

“Lai! Lai! Lai!,” teriak Warijan di dekat pintu bus. Peserta pun bergegas masuk bus. Mereka adalah pengusaha yang ikut tur bisnis Disway di seputar Mojokerto (Disway Explore Business with Dahlan Iskan, East Java Series–Mojokerto).

Rupanya Warijan, panitianya, sedang mempraktikkan apa yang ia alami selama ikut tur bisnis Disway di Tiongkok bulan lalu (Disway Business Adventures to Tiongkok with Dahlan Iskan & Novi Basuki).

“Ayo! Ayo! Ayo!” begitulah kira-kira artinya. Atau “silakan! Silakan! Silakan!”. Itulah kebiasaan di Tiongkok untuk minta siapa saja bergegas: apakah di bus atau pun di depan ruang makan. Memang ada kata yang lebih terasa menghormati: “qing…”. Tapi kata itu tergolong “kromo inggil” yang hanya dipakai untuk orang yang lebih senior.

Kata “lai !”, karena diucapkan tiga kali mengandung makna “agar bergegas”. Untuk keinginan bergegas sebenarnya bisa ditambah kata “kuai yi dian!”. Rupanya Warijan sulit menirukan kata tambahan itu. Ayolah, cepatlah dikit.

Kami memang perlu cepat-cepat berangkat. Hari itu saya menambahkan dua acara di luar jadwal. Dua-duanya non-bisnis: ke museum wayang lalu ke museum masa kecil Bung Karno. Itu gara-gara promosi yang dilakukan wali kota Mojokerto, Ning Ita (Ika Puspitasari) di acara makan siang di kantor wali kota Mojokerto.

Kota Mojokerto itu kecil sekali: hanya 20 km2. Ia nomor tiga terkecil di Indonesia setelah Sibolga (10 km2) dan Magelang (18 km2).

Di zaman Belanda Mojokerto menjadi kota penting. Ada tujuh sungai di sekitarnya. Sungai adalah infrastruktur logistik dan irigasi penting di masa lalu. Yang dimaksud “sekitarnya” adalah Kabupaten Mojokerto. Banyak sekali pabrik gula di Mojokerto –komoditi andalan untuk memperkaya Belanda selain pala dari Maluku.

Museum wayang ini ternyata milik perorangan: pengusaha Tionghoa yang lebih pintar berbahasa Jawa daripada bahasa Mandarin. Marganya Njoo. Nama lengkapnya Sendjojo Njoto. Panggilannya Yensen. Usahanya bijih plastik hasil dari daur ulang.

Koleksi museum ini cukup lengkap. Wayang apa saja ada. Termasuk wayang krucil, wayang golek, wayang potehi, sampai wayang Yesus. Yang belum ada adalah wayang yang hanya pernah saya tonton dua kali di masa kecil saya: wayang gedhok –wayangnya pipih terbuat dari kayu. Atau jangan-jangan ada, hanya saya tidak melihatnya.

“Tidakkah Anda keberatan uang suami banyak dipakai beli wayang kuno?” tanya saya kepada istri Njoo. Dia dan putrinyilah yang menyambut rombongan kami.

“Bagaimana lagi. Ini hobi berat suami saya,” katanyi.

Saya perkirakan Njoo habis uang banyak –termasuk untuk membeli rumah kuno tiga lantai itu. Masih pula harus membeli rumah di seberangnya: untuk museum toko kelontong zaman dulu. Berbagai model toko kelontong masa lalu ditampilkan. Saya keliling toko-toko itu sambil tersenyum-senyum –ingat ada barang apa saja yang dipajang di zaman itu.

Museum toko kelontong ini kian terasa unik setelah generasi baru hanya tahu Indomaret dan Alfamart. Lebih unik lagi kalau generasi yang akan datang, di tahun 2050 kelak, tahunya hanya kios Koperasi Desa Merah Putih.

Saya pernah punya teman yang uangnya juga habis untuk urus kegiatan sosial: sepak bola. Ia keturunan Arab. Tinggalnya di kampung Arab di Ampel Surabaya. Uang dan waktunya habis untuk sepak bola. Usahanya pun tidak terlalu diurus. Suatu saat saya bertanya kepadanya: apakah istrinya tidak marah?

“Ya marah-marah awalnya,” jawabnya.

“Lalu bagaimana jawaban Anda kepada istri?”

“Saya jawab: hobi saya kan cuma ini. Saya kan tidak hobi perempuan,” katanya.

Jawaban itu jadi kunci selamanya. Istrinya tidak pernah komplain lagi.

Di museum wayang ini saya otomatis membandingkannya dengan rumah-rumah bersejarah di Banda. Di sana ada ibu tua yang duduk apatis di pojokan. Di museum wayang ini ada Dea. Putri Njoo. Muda. Cantik. Modern. Antusias.

Awalnya saya ragu kalau gadis ini putri pemiliknya. Wajahnyi sangat Tionghoa. Matanyi sangat cendekia. Tapi ngomong tentang wayang begitu tahunya. “Saya mencoba mendalaminya,” ujar Dea

“Anda alumnus mana?”

“Universitas Ciputra. Jurusan bisnis internasional,” jawab Dea.

Dea bercerita papanya suka sekali nonton wayang. Sejak kecil ibunya selalu bercerita tentang wayang. Njoo juga suka ludruk dan ketoprak. “Tiap malam papa nyetel ludruk Kartolo sebagai pengantar tidur,” ujar Dea.

Papa Dea juga penggemar Si Unyil. Utamanya Pak Raden. Papa Dea sering kirim surat ke Pak Raden. Sampai akhirnya bisa bertemu Pak Raden.

Itulah sebabnya di museum yang diberi nama Gubuk Wayang ini penuh dengan boneka Si Unyil. Lengkap sekali. Sampai dapat belasan rekor MURI yang dipajang di salah satu lemari kaca di sana.

Pemilik Gubuk Wayang ini pandai membuat daya tarik. Ibarat wartawan ia pandai membuat “lead” –alinea pembuka sebuah tulisan. Di bagian paling depan museum dipajang etalase yang diselimuti kain hitam. Misterius.

“Benda apa yang diselimuti ini” tanya saya.

“Setan,” jawab Dea.

“Kenapa diselimuti?”

“Agar anak-anak tidak takut,” jawabnyi.

“Di rombongan kami tidak ada anak-anak”.

“Baik,” jawab Dea sambil membuka kain hitam itu.

Benar. Isinya wayang setan. Satu pasang. Setan laki-laki dan setan perempuan. Setan laki-lakinya seperti postur Jawa. Pakaian hitam. Setan perempuannya berpostur wanita Tionghoa. Berpakaian merah.(Dahlan Iskan)