Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Randy Sunda

 

Oleh: Dahlan Iskan

Di masjid Nanning saya bertemu banyak mahasiswa Indonesia. Laki-perempuan. Hari itu mereka juga pilih salat Iduladha di masjid Jalan Xinhua di kota lama Nanning.

Kota lama berada di utara sungai Yong Jiang. Kota baru dibangun di selatan sungai. Jembatan-jembatan modern yang besar dibangun di atasnya.

Beberapa mahasiswa sedang kuliah D-3. Beda-beda jurusan: yang dari Jombang ambil teknik sipil. Yang dari Jambi pilih komputer. Pun yang dari Gorontalo dan Solo.

Ada juga yang kuliah S-1. Bahkan Yosep Firdaus sudah S-2: jurusan fashion. Yosep pilih fashion sejak masih kuliah S-1 di Guangxi Arts University. Ia asli Surabaya: SMAN 1. Saat di SMA itulah nama belakangnya diubah menjadi Firdaus sambil tetap tidak mengubah Yosep menjadi Yusuf.

Sambil menunggu jemaah yang di lantai dua dan tiga turun lebih dulu, kami duduk lesehan di atas karpet lantai empat. Salah satunya ternyata dosen. Asal Bandung. Di Nanning ia mengajar teori musik gamelan Sunda. Ia memang dosen di Guangxi Arts University. Nama lengkapnya: Randy Geovani Putra.

Randy alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang sekarang menjadi ISBI. Lalu dapat beasiswa untuk ke Guilin Normal University: belajar bahasa Mandarin.

Guilin dan Nanning (di tempat saya menulis naskah ini) satu provinsi: Guangxi. Jaraknya sekitar 300 km. Nanning ibu kota provinsi, Guilin ”ibu kota” pariwisata –salah satu yang terbaik di dunia.

Setelah lulus Bahasa Mandarin, Randy masuk sekolah musik: S-2 di universitas Guilin. Saat kuliah musik itulah ia tahu banyak universitas di Tiongkok yang mempelajari gamelan. Mereka memiliki perangkat musik Jawa itu. Hanya saja Randy melihat belum ada prodi gamelan Sunda.

Kebetulan ada workshop gamelan Sunda di Guangxi Arts University di Nanning. Randy pun ke Nanning. Setelah workshop ia bertekad merintis studi gamelan Sunda di universitas itu. Kelak, setelah Randy lulus S-2 tahun 2018 Randy diminta mengajar ilmu gamelan di GAU. Teori dan praktik. Tidak hanya Sunda.

Gamelan Sunda pun didatangkan. Tiga set: salendro, pelog, dan degung. Toh sudah ada gamelan Jawa dan Bali. Bahkan universitas itu punya museum alat musik semua negara ASEAN. Randy pula yang diminta mengelola museum itu.

Di dekat Nanning juga ada kampung besar orang Tiongok yang masih bisa berbahasa Jawa dan Sunda. Mereka adalah orang kelahiran Indonesia yang akibat keharusan pilih jadi WNI atau WNT mereka pilih kembali ke Tiongkok. Itu tahun 1963-an. Tidak lama setelah itu terjadi revolusi besar di Tiongkok. Lalu juga terjadi pergolakan politik besar di Indonesia: Gestapu/PKI.

Sebagian sudah dijemput kapal besar menuju Tiongkok. Sebagian lagi sudah siap meninggalkan Indonesia: rumah dan aset sudah telanjur dijual. Tapi kapal jemputan berikutnya tidak jadi datang.

Mereka yang sudah kembali ke Tiongkok nasibnya kurang baik. Tak lama setelah mereka tiba revolusi meletus. Tiongkok sedang di puncak kemiskinan. Saya pernah mendengar cerita mereka secara langsung: sangat menderita. Lalu setelah Tiongkok maju, mereka mulai hidup sejahtera.

Yang masih tertinggal di Indonesia pun bernasib kurang baik. Jadi korban politik. Setelah zaman reformasi barulah nasib mereka membaik.

Warga kampung itu banyak yang masih bisa masak rawon atau karedok. Lalu ada yang tetap ingin latihan angklung. Randy mengajar mereka main angklung di kampus Guangxi Arts University.

Kampus Tiongkok yang pertama mendatangkan gamelan adalah Shanghai Concervatory of Music. Kemudian menyebar ke beberapa universitas seni ternama: China Concervatory of Music, China Arts University, dan beberapa universitas seni lainnya.

Gamelan tersebut, kata Randy, diperkenalkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan tetapi juga menjadi bahan keilmuan tentang musik khas Nusantara. Itu karena secara nada maupun laras (skala nada) berbeda dengan musik barat dan musik Tiongkok. Akhirnya gamelan dipelajari juga sebagai teori ethnomusikologi.

Laras slendro/salendro, pelog dan degung hanya dimiliki oleh musik karawitan dan itu menjadi salah satu daya tarik bagi peneliti musik.

Kini Randy sudah 10 tahun di Guangxi. Ia belum tahu kapan pulang secara tetap. Sebelum Covid istri ikut di Guangxi. Kini ditinggal di Bandung.

Saya tidak bisa ngobrol lama dengan Randy. “Ada jadwal mengajar,” katanya. Hanya di Xinjiang provinsi Xinjiang yang di hari raya Iduladha ini libur lokal –empat hari. adalah satu dari empat provinsi di Tiongkok yang mayoritas penduduknya Muslim.

Di hali laya Gu Ke Bang ini suhu udara di Nanning sangat panas. Siang hari 36 derajat –jauh lebih panas dari di Indonesia. Bulan depan Nanning masih akan lebih panas.

Sepulang salat Iduladha pun saya mandi lagi. Sepagi itu badan sudah peliket oleh keringat yang tidak bisa menguap akibat humidity yang tinggi. Sesepoi pun tidak ada angin berhembus….(Dahlan Iskan)