Berita Bekasi Nomor Satu

18 Tahun Tinggal di Tambun Selatan, Warga Korea Korban Dugaan Pembunuhan Dikenal Tertutup

MASIH DIGARIS POLISI: Warga melihat rumah SBC WNA Korea Selatan yang ditemukan tewas di Desa Lambangsari, Tambun Selatan, Jumat (29/5). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Selama hampir dua dekade, SBC (60), tinggal di sebuah rumah berpagar ungu di Kampung Buaran, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan. Pria warga negara Korea Selatan itu dikenal sebagai sosok tertutup yang jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

Kesunyian hidup pria tersebut berakhir tragis. Pada Rabu (27/5), SBC ditemukan tewas dalam kondisi bersimbah darah di ruang makan rumahnya.  Polisi menduga ia menjadi korban pembunuhan.

Asep (55), warga lokal yang dipercaya mengelola usaha kos-kosan milik korban, mengatakan bahwa bosnya sudah menetap di lingkungan tersebut selama hampir 18 tahun.

“Sudah lama, hampir 18 tahun (tinggal di sini),” ujar Asep, Jumat (29/5).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban memiliki tiga orang anak. Namun setelah berpisah dengan istrinya warga negara Indonesia, ia tinggal bersama putri sulungnya yang kini duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Tinggal sama anaknya yang paling besar. Satu orang perempuan, SMA kelas 1,” katanya.

Meski telah lama tinggal di Tambun Selatan, SBC jarang terlihat berbaur dengan lingkungan sekitar. Asep mengenalnya sebagai sosok yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Orangnya tertutup, jarang bergaul dengan orang,” katanya.

Dalam dua tahun terakhir, SBC bahkan disebut hampir tidak pernah keluar rumah. Selama tinggal di Indonesia, SBC tidak pernah kembali ke Korea Selatan.

“Udah dua tahun di sini gak pernah keluar. Gak pernah ke Korea selama di sini,” katanya.

Hubungan Asep dengan korban selama ini sebatas urusan pekerjaan. Jika membutuhkan bantuan, SBC biasanya menghubunginya melalui telepon.

“Saya gak banyak bertanya sama dia. Kalau ada apa-apa dia perintah saya, saya langsung kerjakan. Terus kalau ada apa-apa saya juga telepon dia,” terang Asep.

Sepengetahuan Asep, rumah korban juga jarang didatangi teman maupun kerabat. Hari-hari SBC lebih banyak dihabiskan bersama putrinya.

Pertemuan terakhir Asep dengan korban terjadi pada Senin (26/5) malam. Saat itu, ia berpamitan untuk berlibur ke Tasikmalaya. Menurutnya, tidak ada hal yang mencurigakan maupun perubahan sikap dari korban.

“Terakhir ketemu saya malam Selasa. Gak ada apa-apa. Saya cuma minta izin kalau saya mau ke Tasik, liburan, cuma itu,” tuturnya.

Dua hari kemudian, Asep menerima kabar mengejutkan bahwa SBC telah meninggal dunia. Ia pun segera kembali ke Tambun Selatan dan mendatangi rumah korban.

Dari informasi yang diperolehnya, putri korban menjadi orang pertama yang menemukan ayahnya dalam kondisi mengenaskan saat pulang ke rumah.

“Waktu itu kan anaknya pulang ke rumah. Saya juga kaget gitu kan. Akhirnya saya malam-malam langsung pulang ke sini,” katanya.

Awalnya, kematian SBC diduga berkaitan dengan penyakit jantung yang dideritanya. Namun dugaan itu berubah setelah ditemukan luka tusuk dan bekas kekerasan di bagian leher.

“Setahu saya kan penyakit jantung ternyata ya tidak wajar. Ada luka tusuk sama pemukulan di leher. Kalau pisau sih nggak ditemukan,” ucapnya.

Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Jenazah korban kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diautopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian.

Belakangan, polisi dikabarkan telah menangkap terduga pelaku. Namun hingga kini identitasnya belum diungkap karena proses penyelidikan masih berlangsung. (ris)