Oleh: Dahlan Iskan
“Pelukisnya ini anak umur berapa?” tanya seorang pengusaha yang melihat tiba-tiba ada banyak lukisan di kantor Harian Disway.
“Lukisan ini mengingatkan saya ke pelukis wanita damar kurung dari pedalaman Gresik,” ujar Dhimam Abror, mantan pemred Jawa Pos di masa lalu.
Memang ada pameran lukisan di Disway. Temanya pameran ndugHal –ndugal adalah bahasa Jawa untuk anak yang semau-maunya yang kalau melakukan sesuatu tidak mempertimbangkan apakah orang lain bisa menerima atau tidak. Predikat ndugal sering juga dikenakan untuk anak yang kurang ajar, tidak tahu sopan santun.
Nama pelukis ndugHal itu Anda sudah tahu: Daniel Kho, bukan anak-anak lagi. Anaknya sudah tujuh orang dari lima perkawinannya dengan wanita dari lima negara.
Kantor Disway sendiri dulunya memang galeri lukisan Emmitan. Beberapa wartawan Disway masih ingat sering ke galeri itu untuk meliput pameran lukisan.
“Pameran ndugHal” itu sendiri memang diadakan oleh Hendro Tan, pemilik Emmitan Contemporary Art Gallery untuk mengenang mendiang istrinya yang meninggal karena kanker lebih 10 tahun lalu. Saya pun senang ketika Hendro, pengusaha yang juga penggemar lukisan itu, ingin mengadakan pameran di Disway.
Saya ingat: gelar ndugHal untuk pelukis Daniel Kho diberikan kali pertama oleh Harian Kompas sekitar 10 tahun lalu. Rasanya predikat ndugHal itu tidak berlebihan.
Daniel sendiri tidak keberatan dengan predikat itu. Di dunia wayang ada dua tokoh hebat yang mendapat gelar ndugal: Ontoseno dan Wisanggeni. Dua tokoh itu sakti semua. Pembela kebenaran semua. Pemberani melawan siapa pun yang bersalah –termasuk ke bapak mereka.
Istri terakhir Daniel orang Jawa dari Indonesia. Sang istri adalah adik dalang kondang dari Yogyakarta: almarhum Seno Nugroho. Seno, Anda sudah tahu, telah berhasil mengubah tokoh wayang Bagong dari dulunya hanya tokoh lucu menjadi lucu nan ndugal.
Istri terakhirnya itu kini tinggal di Jerman –menjadi guru tari di sana. Status Daniel pun menjadi duda setelah dalam 18 tahun perkawinan itu memiliki dua anak –dua-duanya ikut ibu mereka di Jerman.
Aliran lukisan Daniel disebut Neo Pop Art. Tidak hanya dua dimensi, ada yang empat dimensi.
Di pembukaan Jumat sore lalu Daniel mengenakan kacamata seperti Batman. Banyak pelukis Surabaya hadir. Konsul Tiongkok di Surabaya Ye Su, ikut memberi sambutan. Management Advisor Wisma Jerman Mike Neuber juga hadir.
Setelah puas melihat lukisan ini baiknya Anda minta petugas untuk mematikan lampu. Lalu lihatlah lukisan Daniel di kegelapan. Lukisan itu lebih indah. Ada pantulan warna-warninya. Cat yang dipakai melukis memang khusus: jenis fluorescent molotow.
Warna yang bisa terlihat di kegelapan itu datang dari bebatuan tambang yang disebut fluorescent yang dicampurkan ke dalam cat. Bebatuan tambang itu bisa menyimpan cahaya yang bisa muncul di kegelapan. Tentu tetap harus ada bantuan sedikit cahaya dari jauh, pun bila cahayanya hanya sedikit –apalagi kalau cahaya itu dari UV.
Orang awam menyebut warna seperti itu warna “neon” meski sebutan itu sebenarnya kurang pas. Bagi yang hobi mancing warna itu juga sudah familiar: ditaruh di dekat umpan. Polisi juga biasa pakai rompi dengan warna fluorescent.
Bahwa lukisan Daniel sempat disangka karya anak-anak itu karena pop art-nya itu. Warna-warninya mencolok. Pop art lahir dari pengakuan atas karya-karya komersial dalam bentuk iklan, anime, komik, dan sebangsanya.
Karya itu lantas menjadi inspirasi bagi seni lukis dan pelukis mengangkatnya menjadi karya seni. Aliran pop art kali pertama muncul di Jepang dan negara Asia timur lainnya.
Kian lama unsur seninya kian dominan sehingga rasa komersialnya lenyap: jadilah neo pop art seperti yang dilakukan Daniel. Datanglah sendiri ke Disway di Jalan Walikota Mustajab 76, Surabaya.
Meski mulai dibuka kemarin, hari ini masih buka –sampai dua minggu mendatang (19 Juni 2026).
Saya pun ingin tahu lebih banyak siapa si nDugHal. Saya ajak Daniel makan malam. Perjalanan ke-ndugal-annya pun ia ceritakan semua. Termasuk dari negara mana saja mantan-mantan istrinya.
“Kok orang-orang bule itu bisa jatuh cinta dengan pelukis dari Indonesia ya?” tanya saya bernada iri.
“Saya kan ganteng….,” jawabnya.
Itu tidak benar. Rasanya saya lebih ganteng. Kemarin itu saya tidak melihat kegantengannya sama sekali. Rambutnya awut-awutan meski sudah dikuncir di belakang kepala. Badannya ceking. Kalau berjalan kurang tegak. Lama saya memandang wajahnya yang seperti kurang tidur.
Rupanya ia merasa bahwa saya meragukan kegantengannya. Maka ia keluarkan kaca mata seninya. Ia pakai. Wow! Benar. Dengan kacamata itu ia ganteng sekali. Saya pun tidak merasa iri lagi. Ia memang lebih ganteng dari saya. Dengan kacamata itu saya pun ingat penyanyi shuffle LMFAO.
Ternyata Daniel mulai ndugal sejak remaja. Mungkin karena ayahnya meninggal saat ia masih SD. Sang ayah seorang pedagang. Di kota Klaten, Jateng.
Marganya Guo –yang kalau di Fujian disebut Khoe dan di Indonesia jadi Kho. Daniel delapan bersaudara, sebelum bungsu. Kakak sulungnya kuliah di ITB, jurusan farmasi. Ibunda Daniel berarti wanita luar biasa. Harus mengurus delapan anak. Sukses semua.
Si anak sulung, kelak, setamat ITB jadi orang sangat sukses. Anda tahu namanya. Anda juga sering menggunakan jasanya: Andi Wijaya, pendiri Prodia –lab terbesar di Indonesia yang sudah melantai di pasar modal.
Adik bungsunya juga jadi pelukis terkenal: Antonius Kho. “Awalnya saya justru kenal adiknya itu,” ujar Wahyudin, kurator pameran ndugHal itu. Tentu Hendro Tan juga kenal Daniel. Hendro sering ke Bali. Ke Ubud. Ke rumah Daniel yang sekaligus sanggar lukisnya. Daniel sekarang memang menetap di Bali.
Setelah suami meninggal, sang ibu pindah ke Bandung. Semua anaknyi dibawa pindah ke Bandung. Daniel menamatkan SMA-nya di SMA Kristen BPPK Bandung. Suasana politik tahun 1970-an belum stabil. Sebagai Tionghoa ia merasa kurang nyaman.
“Tapi kakak Anda kan justru bisa kuliah di ITB?”
“Iya. Saya saja yang merasa tidak nyaman,” katanya.
Maka di usia remajanya itu, 18 tahun, Daniel berkelana. Ingin ke Australia dengan cara terjangkau. Ia melakukan perjalanan darat ke arah timur: Jateng, Jatim, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Kupang, Makassar, Ambon, Sorong, Jayapura, Papua New Guinea, Darwin, Sydney. Sambil berkelana ia bekerja apa saja. Termasuk cuci piring di restoran. Begitu punya uang secukupnya ia pindah lagi. Yang penting cukup untuk transportasi ke tujuan berikutnya. Tidak ada target waktu.
Tiba di Australia ia justru menemukan kenyataan yang lebih rasis. Tiga bulan di sana ia pergi ke Portugal. Dengan cara yang sama. Lalu ke Spanyol, ke Jerman, dan ke mana saja. Total sudah 151 negara ia kunjungi.
Di Jerman ia jatuh cinta dengan seorang gadis Venezuela.
“Berarti dia cantik sekali. Bukankah dari 10 gadis Venezuela yang cantik 15?”
“Iya. Cantik sekali,” jawabnya.
Daniel pun diajak pulang ke Maracaibo, kota pantai yang indah di teluk bagian barat Venezuela. Ternyata gadis itu anak seorang pemilik hasienda –perkebunan dan peternakan besar. Tapi kakak-kakak lelaki gadis itu tidak suka kepada Daniel yang pengangguran –bagi pebisnis besar melukis sering dianggap pekerjaan orang yang menganggur.
Setelah enam bulan di Maracaibo, Daniel pergi ke perbatasan. Ia menyeberang ke Colombia. Di situ ia bekerja pada seorang wanita muda pekerja sosial. Akhirnya jatuh cinta, entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta.
Cintanya hanya beberapa bulan. Daniel menyeberang lagi perbatasan: ke Peru. Dari Peru Daniel kembali ke Eropa. Ketika tiba di Polandia ia jatuh cinta kepada wanita setempat. Sampai punya dua anak. Pisah. Daniel pun ke Jerman. Jatuh cinta lagi dengan wanita Jerman. Punya dua anak. Pisah. Ketemu lagi wanita dari Hawaii. Tentu tidak lama juga.
Beberapa tahun kemudian Daniel ketemu mantan istri Hawaii-nya itu di Jerman. Sangat kebetulan. “Kamu punya anak lho di Hawaii,” ujar sang mantan. “Laki-laki”.
“Wah, harus tes DNA,” jawab Daniel.
Tet pun dilakukan. Benar. Itu anaknya Daniel. “Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan semua anak saya,” katanya.
Lalu, di Jerman pula Daniel ketemu adik Seno Nugroho. Kawin. Punya dua anak. “Perkawinan saya yang paling lama ya dengan adik dalang Seno itu,” kata Daniel.
Kini di usianya yang 70 tahun masih produktif. Sudah lebih 40 tahun konsisten dengan gaya neo pop art. Dalam hal lukisan, Daniel dan Antonius, adik bungsunya, bersaing siapa lebih hebat. Beda aliran tapi sama-sama banyak dikoleksi kolektor di Eropa.
Daniel tetap bangga sebagai orang Indonesia. Setiap kali diwawancarai, di luar negeri, ia hanya mau menjawab dengan bahasa Indonesia.
Pertanyaannya boleh pakai bahasa Jerman, Spanyol, Portugis, Inggris, atau Belanda tapi jawabnya dalam bahasa Indonesia. “Biasanya saya minta wartawannya membawa penerjemah,” katanya. Kalau tidak punya penerjemah lebih baik tidak jadi wawancara.
Hanya bahasa Prancis yang Daniel tidak mau belajar. Ia tidak suka dengan bahasa yang mengandung kesombongan. Karena itu ia tidak pernah jatuh cinta dengan wanita Prancis. Mungkin ia baru mau belajar bahasa Prancis kalau dimarahi Presiden Prabowo. (Dahlan Iskan)











