Berita Bekasi Nomor Satu

Berebut Taman Surga

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejak tiba di Madinah pada Selasa lalu, ada satu tempat yang terus memanggil-manggil hati saya untuk kembali. Tempat itu adalah Raudhah, area istimewa di dalam Masjid Nabawi yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai salah satu taman surga.

Alhamdulillah, hingga hari ini saya sudah tiga kali diberi kesempatan masuk ke Raudhah. Namun, setiap kali melangkah ke sana, perasaan yang muncul selalu sama: haru, takjub, dan kerinduan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Bagi jutaan jemaah haji dan umrah, Raudhah bukan sekadar ruang ibadah. Tempat ini menjadi tujuan yang paling dinanti ketika tiba di Madinah. Karena itu, antrean panjang hampir selalu terlihat. Banyak orang rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan kesempatan beberapa menit berada di dalamnya.

Raudhah terletak di antara rumah dan mimbar Nabi Muhammad SAW. Dahulu area ini berada di luar bangunan Masjid Nabawi, namun setelah berbagai perluasan dilakukan, kini menjadi bagian dari masjid yang setiap hari dipenuhi umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Hamparan karpet hijau muda menjadi penanda paling mudah dikenali. Luasnya hanya sekitar 22 meter x 15 meter atau sekitar 330 meter persegi. Dalam satu waktu, area ini hanya mampu menampung sekitar 200 hingga 300 jemaah.

Meski tidak terlalu luas, kerinduan manusia untuk masuk ke dalamnya seakan tak pernah habis.

Saat pertama kali melangkahkan kaki ke Raudhah, dada saya terasa sesak oleh rasa syukur. Lima pilar putih dengan ornamen kaligrafi yang indah berdiri kokoh di hadapan saya. Di sekelilingnya, ratusan jemaah larut dalam shalat, doa, dan munajat yang khusyuk.

Di tempat yang dikenal sebagai Taman Surga itu, saya merasakan seolah jarak waktu lebih dari empat belas abad menghilang begitu saja.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, terdapat makam Rasulullah SAW. Di sanalah jutaan salam dari umat di seluruh dunia bermuara. Para peziarah berjalan perlahan, sebagian menahan tangis, sebagian lagi tak mampu menyembunyikan air mata yang jatuh membasahi pipi.

Saya pun demikian.

Dengan suara lirih saya mengucapkan salam yang selama ini hanya terucap dari kejauhan.

“Assalāmu ‘alayka yā Rasūlallāh.”

“Assalāmu ‘alayka yā Nabiyallāh.”

“Assalāmu ‘alayka yā Habīballāh.”

Entah mengapa, setelah salam itu terucap, air mata saya mengalir begitu saja. Saya masih sulit percaya bahwa hari itu saya berdiri begitu dekat dengan makam manusia paling mulia yang pernah menginjak bumi.

Di sekitar Raudhah juga tampak mimbar tempat Rasulullah SAW dahulu menyampaikan khutbah kepada para sahabat. Saf imam yang menjadi pusat kepemimpinan shalat berjamaah pun masih dapat terlihat jelas.

Setiap sudut tempat itu seolah menyimpan cerita. Kisah perjuangan, dakwah, pengorbanan, dan cinta Rasulullah kepada umatnya terasa begitu dekat. Hati saya berulang kali berbisik, andai saja bisa berlama-lama berada di sana.

Namun kesempatan itu sangat terbatas.

Para askar atau petugas keamanan Masjid Nabawi terus mengatur arus jemaah agar semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Mereka mengingatkan agar tidak berdesakan dan tidak terlalu lama berada di dalam area Raudhah.

Untuk masuk ke tempat ini pun tidak mudah. Jemaah harus memiliki izin melalui aplikasi Nusuk. Setelah memperoleh jadwal, jemaah laki-laki diarahkan menuju pintu 37, sedangkan perempuan melalui pintu 25. Semua berlangsung tertib di bawah pengawasan petugas.

Salah seorang pembimbing ibadah haji menjelaskan bahwa keistimewaan Raudhah bukan hanya karena nilai sejarahnya.

“Raudhah secara historis punya keistimewaan yang luar biasa. Rasulullah SAW menyebut tempat tersebut sebagai salah satu taman dari taman-taman surga,” ujarnya.

Bagi saya, setiap kunjungan ke Raudhah selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ada syukur karena dipertemukan dengan tempat mulia itu. Ada haru karena berada begitu dekat dengan jejak kehidupan Rasulullah SAW. Namun ada pula kesedihan yang diam-diam menyelinap.

Sebab saya sadar, suatu hari nanti saya harus meninggalkan Madinah. Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang ingin kembali ke Raudhah. Bukan semata karena keindahan karpet hijaunya atau kemegahan Masjid Nabawi. Melainkan karena di tempat itu, setiap doa, air mata, dan kerinduan seakan menemukan jalannya menuju langit.(*)