RADARBEKASI.ID, BEKASI – Aksi cekatan petugas pemadam kebakaran tak selalu soal memadamkan api, evakuasi hingga misi penyelamatan. Akhir pekan kemarin, dua personel Peleton 9 Kompi B Pos Damkar Pondokgede justru mendapat tugas berbeda dari biasanya.
Suasana pagi di Pos Damkar Pondokgede Sabtu (27/6) berjalan seperti biasa. Personel bersiaga menunggu panggilan darurat yang sewaktu-waktu datang. Namun, pagi itu bukan laporan kebakaran yang diterima.
Mereka justru disambangi dua siswi dengan raut wajah cemas. Salah satu dari keduanya memberanikan diri meminta pertolongan.
Ya, salah satu siswi menyampaikan maksud dan tujuannya ke petugas. Ternyata ia ingin meminta pendampingan untuk mengambil rapor semester genap di SMAN 5 Kota Bekasi.
Siswi itu sengaja meminta bantuan petugas Damkar karena orang tuanya berada di Surabaya. Sementara sang kakak yang tinggal di Depok tengah sakit.
Komandan Regu Pleton 9 Kompi B Pos Damkar Pondokgede, Cahyo Dwi Kartika, mengatakan, tanpa berpikir panjang dirinya bersama seorang anggota memutuskan membantu siswi tersebut. Keduanya langsung mengantar siswi itu ke sekolah.
“Melihat kondisinya, kami langsung merespons untuk membantu mengantarnya mengambil rapor,” ujar Cahyo kepada Radar Bekasi, Minggu (28/6).
Sesampainya di sekolah, Cahyo sempat berbincang dengan wali kelas. Dari obrolan itu, ia mengetahui siswi bernama Rahel tersebut ternyata tinggal sendiri di kawasan Cileungsi.
Di balik keterbatasan yang dihadapinya, Rahel tetap mampu menunjukkan prestasi. Nilai rapornya tergolong baik dan ia berhasil menempati peringkat delapan di kelas.
“Pas saya lihat nilai rapornya bagus. Ternyata dia peringkat delapan di kelas,” tutur Cahyo.
Momen itu menjadi pengalaman yang membekas baginya. Bukan karena aksi heroik, melainkan karena ia melihat langsung semangat seorang pelajar yang tetap bertahan mengejar pendidikan meski jauh dari orang tua.
Usai rapor diterima, Cahyo dan rekannya berpamitan kepada wali kelas. Mereka kembali ke Pos Damkar Pondok Gede untuk melanjutkan tugas.
Seluruh proses pendampingan itu hanya memakan waktu sekitar 30 menit.
Bagi Cahyo, membantu mengambil rapor memang bukan bagian dari tugas pokok pemadam kebakaran.
Namun baginya, ketika masyarakat datang meminta pertolongan dan mereka mampu membantu, tak ada alasan untuk berpaling.
“Kalau dari tugas utama memang tidak ada. Ini hanya sekadar membantu warga yang membutuhkan,” katanya.
Selama bertugas, baru kali itu pletonnya menerima permintaan tersebut.
Peristiwa sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik seragam biru pemadam kebakaran, tersimpan nilai kemanusiaan yang tak selalu diukur dari besarnya bencana yang dihadapi.
Kadang, tugas paling berarti bukan memadamkan api, melainkan memastikan seorang anak tetap bisa membawa pulang hasil perjuangannya selama satu semester. (rez)











