RADARBEKASI.ID, BEKASI — Pajak Jawa Barat III kembali menggelar Kegiatan Pajak Bertutur Tahun 2026 yang juga dilaksanakan secara serentak oleh Kantor Pusat serta seluruh instansi vertikal di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Mengusung tema “Pajak Kita, Energi Generasi Juara”, kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas XI SMA Budi Cendekia Islamic School, Kota Depok, Jawa Barat.
“Dalam mempersiapkan Indonesia Emas Tahun 2045, kita tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki integritas dan kepedulian tinggi terhadap masa depan bangsanya. Pajak adalah energi utama pembangunan negara. Dengan memahami peran pajak hari ini, kalian sedang menyiapkan diri untuk menjadi Generasi Juara yang siap memimpin dan membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera,” ujar Kepala SMA Budi Cendekia Islamic School, Bayu Indah Susanti.
Dalam sambutannya, Kepala Kanwil DJP Jawa Barat III, Romadhaniah, menyampaikan Pajak Bertutur ini semata-mata untuk memberikan kesadaran sejak dini sebelum kelak adik-adik memasuki dunia nyata, yaitu dunia kerja.
“Setelah kalian memperoleh penghasilan, sudah ada kewajiban perpajakan yang harus dipenuhi,” ucapnya.
Lebih lanjut Romadhaniah menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diibaratkan sebagai sebuah dompet besar milik pemerintah yang dikelola secara terbuka, bertanggung jawab, serta ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Pada APBN 2026, negara menargetkan Pendapatan Negara sebesar Rp3.147,7 triliun dan Belanja Negara sebesar Rp3.786,5 triliun. Dari total pendapatan tersebut, penerimaan sektor perpajakan menjadi penyumbang daya terbesar, yakni mencapai Rp2.357,7 triliun atau sekitar 74% dari total pendapatan negara. Secara khusus, sektor pendidikan mendapatkan perhatian besar melalui amanat UUD 1945.
Pada Rancangan APBN Tahun 2026, Anggaran Pendidikan mengalami peningkatan hingga mencapai Rp757,8 triliun. Selain itu, pemerintah menetapkan Anggaran Kesehatan sebesar Rp244,0 triliun untuk mendukung transformasi sistem kesehatan dan program unggulan nasional, serta Anggaran Perlindungan Sosial sebesar Rp508,2 triliun guna menjamin kesejahteraan masyarakat yang rentan.
Melalui Pajak, negara juga memberikan insentif senilai Rp400,1 triliun, di mana Rp21,6 triliun di antaranya dirasakan langsung oleh sektor jasa pendidikan. Bantuan ini diwujudkan melalui pembebasan PPN atas jasa pendidikan dan buku pelajaran, serta pengecualian beasiswa dari objek Pajak Penghasilan.
“Sering ada yang bertanya, ‘Ke mana sih larinya uang pajak kita?’ Jawabannya ada di sekitar kita. Peningkatan alokasi Anggaran Pendidikan, dana kesehatan dan bantuan sosial. Buku pelajaran, pembangunan sekolah, serta beasiswa itu merupakan bentuk nyata manfaat pajak yang kita bayarkan. Jadi, ketika kita bicara pajak, kita sebenarnya sedang bicara tentang masa depan kita dan bangsa kita,” tegas Romadhaniah.
Selain penyampaian materi, Pajak Bertutur kali ini juga diisi dengan berbagai simulasi dan permainan edukasi pajak yang sarat akan filosofi. Didampingi oleh Pegawai dan Penyuluh Pajak Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Pajak Jabar III, kegiatan berlangsung interaktif dan penuh semangat dari para siswa. Permainan pertama adalah
Menyusun Kata APBN, yang mengajarkan bahwa penyusunan anggaran membutuhkan sinergi dan transparansi yang tinggi.
Permainan kedua adalah Hitung Cepat, yang bermakna mayoritas porsi APBN ditopang oleh kontribusi pajak masyarakat, sehingga ketaatan pajak merupakan modal kemandirian bangsa. Permainan ketiga adalah Permainan Korelasi dengan menggunakan media Spinwheel, Melalui perputaran Spinwheel berisi beberapa gambar dari manfaat pajak, siswa diajak mempresentasikan hubungan ‘sebab-akibat’ antara penerimaan pajak dengan manfaat pajak.
Aktivitas ini membangun pemahaman tentang manfaat pajak bagi negara. Serta permainan terakhir yaitu Tebak Profesi, yang bermakna bahwa apapun profesi para siswa di masa depan, setiap warga negara yang memiliki penghasilan wajib menjalankan peran dan kontribusinya bagi negara melalui pajak.
Sebagai simbol, para pemenang setiap sesi permainan menyerahkan bibit tanaman hidroponik untuk disusun pada growing tower hidroponik hingga terisi penuh, yang bermakna bahwa layaknya tanaman yang dirawat, pajak yang dikelola secara konsisten akan terus tumbuh dan memberikan manfaat berkesinambungan bagi masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi, Kanwil DJP Jawa Barat III menganugerahkan Piagam kepada SMA Budi Cendekia Islamic School atas dukungannya dalam penyelenggaraan edukasi kesadaran pajak di tingkat sekolah menengah. Piagam ini diharapkan menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus berperan aktif dalam menumbuhkan generasi muda yang sadar pajak.
Lewat Pajak Bertutur Tahun 2026, Pajak Jawa Barat III berkomitmen untuk terus merawat dan menumbuhkan kesadaran pajak generasi muda sejak dini dengan mengobarkan energi generasi juara.
Melalui kepatuhan dan kesadaran yang tertanam kuat pada calon-calon pemimpin masa depan, fondasi penerimaan negara akan semakin kokoh demi terwujudnya Indonesia Emas 2045 yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing tinggi. (*)









