RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Sashfir akhirnya memberanikan diri mengungkap pengalaman tidak menyenangkan yang selama ini ia simpan. Kreator konten tersebut mengaku mengalami dugaan voyeurisme ketika berada di toilet perempuan sebuah restoran di kawasan Senopati, Jakarta.
Sashfir mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada April 2026. Namun, ia tidak langsung menceritakan pengalaman itu kepada publik. Ia membutuhkan waktu cukup panjang untuk memproses kejadian yang dialaminya hingga akhirnya merasa siap untuk bersuara.
Pengalaman tersebut diakui meninggalkan trauma yang mendalam bagi Sashfir. Meski demikian, ia memutuskan untuk membagikan kisahnya bukan sekadar untuk menceritakan apa yang pernah dialaminya, tetapi juga sebagai bentuk dukungan kepada perempuan lain yang mungkin menghadapi pengalaman serupa.
Menurut Sashfir, masih banyak korban pelecehan seksual yang memilih diam karena tidak menemukan ruang yang cukup aman untuk menceritakan pengalaman mereka. Sebagian korban juga mungkin merasa takut tidak dipercaya, disalahkan, atau justru menerima respons yang membuat kondisi mereka semakin berat.
Karena alasan tersebut, Sashfir berharap kisah yang dibagikannya dapat menjadi pengingat bahwa korban tidak harus menghadapi pengalaman traumatis seorang diri. Ia juga menekankan bahwa setiap orang memiliki proses dan waktu yang berbeda dalam menghadapi pengalaman buruk.
Sashfir mengingatkan para korban agar tidak merasa terpaksa untuk segera menceritakan apa yang terjadi apabila mereka memang belum siap. Menurutnya, mengambil waktu untuk memahami, menerima, dan memproses kejadian yang dialami merupakan hal yang wajar.
“Pulih itu mungkin, dan kalian tidak harus melewatinya seorang diri,” tulis Sashfir dalam unggahannya.
Ia juga mengajak perempuan yang pernah mengalami kejadian serupa untuk mencari orang yang dipercaya dan meminta bantuan ketika mereka sudah merasa siap. Bagi Sashfir, korban perlu mengetahui bahwa perasaan yang muncul setelah mengalami kejadian tersebut tetap valid.
Ia berharap para korban tidak justru menyalahkan diri sendiri atas tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Menurutnya, tanggung jawab atas tindakan pelecehan berada pada pelaku, bukan pada korban.
Sementara itu, Sashfir menyampaikan bahwa persoalan yang dialaminya telah diserahkan kepada pihak berwajib. Ia berharap proses tersebut dapat berjalan dan pelaku nantinya mendapatkan tindakan tegas agar kejadian serupa tidak kembali menimpa perempuan lain.
Selain menceritakan pengalamannya, Sashfir juga membuka kesempatan bagi pihak yang mengetahui komunitas maupun media yang menyediakan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita. Ia mengaku siap memberikan kronologi kejadian secara lebih lengkap apabila mendapatkan ruang yang tepat.
“Aku percaya, keberanian untuk bersuara adalah salah satu langkah untuk melindungi diri sendiri, sekaligus harapan agar tidak ada yang mengalami hal serupa. Untuk siapa pun yang pernah mengalaminya, semoga kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian,” lanjutnya.
Keputusan Sashfir untuk berbicara diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pemberitaan. Ia ingin pengalaman tersebut dapat membuka ruang bagi perempuan lain untuk merasa didengar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
Sashfir juga berharap kisahnya dapat mengingatkan para korban bahwa mereka berhak merasa aman, berhak mendapatkan bantuan, serta memiliki kendali untuk menentukan kapan dan kepada siapa mereka ingin menceritakan pengalaman yang dialami. (mna)











