RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus dugaan perampokan disertai kekerasan yang menewaskan Ermanto Usman (65) di kediamannya, Perumahan Prima Asri Blok B4, Kelurahan Jatibening, Pondokgede, Kota Bekasi, masih menyisakan tanda tanya besar.
Hingga kini, polisi masih memburu pelaku yang diduga masuk ke rumah korban pada Senin (2/3) dini hari.
Ermanto meninggal dunia akibat pukulan benda tumpul di bagian kepala, sementara istrinya, Pasmilawati (60), mengalami luka berat dan kini menjalani perawatan intensif di RS Primaya Kalimalang, Bekasi.
Di tengah proses penyelidikan, keluarga menilai ada sejumlah kejanggalan di tempat kejadian perkara (TKP).
Kakak kandung korban, Dalsaf Usman mengungkapkan, kondisi rumah tidak menunjukkan tanda-tanda perampokan pada umumnya. Tidak ada lemari yang diacak-acak maupun berangkas yang dibongkar.
“Kalau kita pelajari realita di TKP, di sini ada dua mobil, mobilnya tidak diambil. Tapi kunci mobil dibawa oleh mereka. Kenapa kalau memang ini perampokan, minimal satu mobil tidak dibawa?” ujar Usman saat ditemui di lokasi, Selasa (3/3).
Ia menegaskan, berangkas dalam rumah tidak rusak dan tidak disentuh. Lemari-lemari juga dalam kondisi tersusun rapi.
“Yang diambil itu cuma handphone almarhum dan handphone istrinya. Dua-duanya hilang. Sama kunci mobil saja,” katanya.
Menurut Usman, mobil korban ditemukan dalam keadaan terkunci setelah kejadian. Saat salah satu mobil berhasil dibuka menggunakan kunci serep yang ditemukan, tidak ada barang yang hilang di dalamnya.
“Kalau mau merampok, kenapa cuma itu yang diambil? Kenapa berangkas tidak dibongkar? Lemari tidak diaduk-aduk? Kan tidak,” ujarnya.
Kunci kamar utama juga dilaporkan hilang. Pintu kamar dalam kondisi terkunci saat pertama kali ditemukan. Dugaan sementara, pintu tersebut dikunci oleh pelaku dari luar sebelum melarikan diri.
“Rumah juga pintu-pintunya tidak ada kuncinya setelah kejadian. Diduga pelaku keluar melalui jendela,” tambahnya.
Usman mengatakan adiknya dikenal sebagai aktivis buruh yang vokal. Ia pernah menjabat sebagai Manager HRD di Jakarta International Container Terminal (JICT) dan menjadi Ketua Serikat Pekerja di perusahaan tersebut.
Menurut Usman, almarhum telah lebih dari 25 tahun aktif sebagai pegiat serikat pekerja dan kerap mengkritik kebijakan yang dinilai tidak sesuai prosedur.
“Dia dua kali dipecat di Pelindo. Dua kali juga dipulihkan oleh Menteri Perhubungan waktu itu,” ungkap UD.
Setelah pensiun sembilan tahun lalu, Ermanto tetap aktif dalam kegiatan sosial dan anti-korupsi, termasuk membuat podcast yang membahas isu-isu kebangsaan. Namun keluarga menegaskan tidak ingin berspekulasi soal motif.
“Kami tidak bisa menyimpulkan apakah ini terkait aktivitas beliau atau tidak. Itu bukan domain kami. Kami serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian,” tegas Usman
Anak pertama korban, Fiandy Putra (33), menceritakan detik-detik pertama keluarga mengetahui kejadian tersebut.
Menurutnya, sekitar pukul 04.15 WIB, adiknya merasa janggal karena kamar orang tua mereka terkunci. Padahal, biasanya sang ibu sudah bangun lebih awal untuk salat tahajud dan menyiapkan sahur.
“Biasanya mama sangat peka. Ada suara kecil saja pasti bangun. Tapi waktu itu digedor tidak ada respons,” ujarnya.
Keluarga kemudian memanggil petugas keamanan dan memutuskan mendobrak pintu kamar. Saat pintu terbuka, keduanya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
“Ibu saya di lantai, ayah saya di atas kasur dalam kondisi kritis, sudah bersimbah darah,” kata Fiandy.
Korban segera dilarikan ke rumah sakit dengan bantuan warga dan pengurus DKM masjid setempat. Namun nyawa Ermanto tak tertolong.
Fiandy juga menyebut ayahnya dikenal tertutup soal urusan pekerjaan dan tidak pernah membebani anak-anaknya dengan persoalan yang dihadapi.
“Kami tahunya ayah cuma main sama cucu, ajak jalan, ajak makan. Tidak pernah cerita yang jelek-jelek,” katanya.
Perumahan tempat tinggal korban merupakan kawasan klaster dengan satu pintu keluar-masuk. Namun saat kejadian, keluarga menyebut tidak ada petugas keamanan di pos terdekat.
“Adik saya lihat di pos tidak ada security sama sekali,” kata Fiandy.
Hingga kini, polisi dari Polsek, Polres, hingga Mabes Polri telah turun melakukan olah TKP dan penyelidikan mendalam. Sejumlah barang bukti telah diamankan.
Keluarga berharap kasus ini segera terungkap, terlebih peristiwa terjadi di bulan suci Ramadan.
“Semoga perjuangan ayah saya menjadi perjuangan yang syahid. Kami mohon kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan membuka tabir motif kejadian ini,” pungkasnya (rez)











