RADARBEKASI.ID, BEKASI – Allah SWT mempunyai seratus bagian rahmat. Satu bagian diturunkan ke bumi, sedangkan sembilan puluh sembilan bagian ditahan di sisi-Nya. Muhammad SAbersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat dan Ia menurunkan satu rahmat-Nya itu untuk jin, manusia, hewan dan tetumbuhan. Dengan satu rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan sembilan puluh sembilan rahmat untuk dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
Hadits ini menggambarkan betapa luas dan tak terbatasnya rahmat Allah SWT. Jika seluruh kasih sayang yang kita saksikan di dunia ini sejak zaman Nabi Adam as hingga hari kiamat hanyalah satu bagian kecil dari rahmat-Nya, maka betapa agung dan dahsyatnya sembilan puluh sembilan rahmat yang Allah simpan untuk kehidupan akhirat. Seluruh cinta seorang ibu kepada anaknya, kepedulian seorang ayah terhadap keluarganya, empati antarsesama, bahkan naluri hewan menjaga keturunannya, semuanya bersumber dari satu percikan rahmat Ilahi.
Kesadaran akan luasnya rahmat Allah seharusnya melahirkan optimisme dalam diri setiap muslim. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama seorang hamba mau bertaubat dengan tulus. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa pintu ampunan selalu terbuka, bahkan bagi mereka yang merasa telah tenggelam dalam kesalahan.
Namun demikian, luasnya rahmat Allah bukanlah alasan untuk meremehkan dosa. Justru ia menjadi dorongan untuk terus memperbaiki diri. Seorang mukmin hidup di antara rasa takut dan harap: takut akan azab Allah karena dosa-dosanya, dan berharap pada rahmat-Nya yang begitu luas. Keseimbangan inilah yang melahirkan ketakwaan sejati ketakwaan yang tidak putus asa, tetapi juga tidak lalai.
Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Al-Ghazali mengisahkan tentang orang-orang kafir yang mengejek kaum muslimin yang masuk neraka karena dosa-dosa mereka. Mereka menganggap keislaman tidak memberi manfaat, karena pada akhirnya sama-sama berada di neraka. Namun kaum muslimin itu menjawab bahwa mereka memang dihukum atas kesalahan yang diperbuat, tetapi mereka memiliki iman yang kelak menjadi sebab keselamatan. Pada akhirnya, dengan rahmat Allah, kaum muslimin tersebut dikeluarkan dari neraka. Saat itulah orang-orang kafir menyesal dan berkata, “Seandainya dahulu kami beriman, niscaya kami pun dapat keluar sebagaimana mereka.”
Kisah ini menegaskan bahwa iman, sekecil apa pun, memiliki nilai besar di sisi Allah. Rahmat-Nya melampaui murka-Nya. Karena itu, jangan pernah merasa diri terlalu hina untuk kembali kepada-Nya. Selama nafas masih berhembus, kesempatan bertaubat masih terbuka. Rahmat Allah itu luas dan tidak terbatas ia menyelimuti dunia dan akhirat, memberi harapan bagi setiap hamba yang ingin kembali ke jalan-Nya.(*)











