Berita Bekasi Nomor Satu

ASN Pemkot Bekasi Tak Siap “Sehari Tanpa BBM”

APEL PAGI : Sejumlah ASN dan TKK mengikuti apel pagi di lingkungan Pemkot Bekasi, belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gerakan “Sehari Tanpa BBM” mulai digaungkan di lingkungan Pemkot Bekasi. Namun di lapangan, tak semua aparatur siap. Jarak tempuh, minimnya transportasi publik, hingga faktor keselamatan masih jadi ganjalan.

Kebijakan ini mewajibkan ASN dan pegawai BUMD menggunakan moda transportasi alternatif—mulai dari sepeda, angkutan umum, hingga kendaraan ramah lingkungan—setidaknya satu hari dalam sepekan.

Seorang ASN mengaku kebingungan menentukan pilihan. Jarak rumah ke kantor yang mencapai 10 kilometer membuat opsi transportasi menjadi terbatas.

“Kalau ada transportasi publik yang nyaman dan murah pasti saya pilih. Tapi belum ada. Naik ojol bisa Rp100 ribu pulang-pergi, naik angkot belum tentu sampai,” ujarnya.

Menurutnya, sepeda motor masih menjadi pilihan paling realistis karena cepat, fleksibel, dan relatif terjangkau. Namun, beralih ke kendaraan listrik juga bukan perkara mudah karena keterbatasan biaya.

“Kalau staf, paling masuk akal ya motor. Tapi motor listrik juga belum semua mampu beli,” katanya.

Ia juga sempat mencoba bersepeda ke kantor. Namun kondisi jalan yang belum ramah pesepeda serta harus berbagi ruang dengan kendaraan besar dinilai membahayakan.

“Naik sepeda itu berisiko, jalannya belum mendukung,” tambahnya.

Di sisi lain, sebagian ASN mulai beradaptasi. Aparatur yang berkantor di Plaza Pemkot Bekasi, Derry Renantha, menilai perubahan ini sebagai langkah yang tak terelakkan di tengah tekanan isu energi global.

Ia menyebut keberadaan transportasi publik seperti Trans Bekasi (Trans Beken) bisa menjadi solusi, terutama dengan tarif terjangkau.

“Sekarang sudah ada Trans Beken, ongkosnya Rp4 ribu sampai halte Pemkot. Itu bisa jadi alternatif,” ujarnya.

Dengan jarak rumah ke kantor sekitar 2,5 kilometer, Derry bahkan berencana berjalan kaki atau bersepeda—kebiasaan yang sudah ia lakukan saat hari libur.

“Kalau tidak jalan kaki, ya naik sepeda. Sudah biasa juga jalan lima kilometer saat libur,” katanya.

Sementara itu, ASN lainnya, Wijayanti, memilih menggunakan motor listrik yang telah ia pakai dalam setahun terakhir. Menurutnya, kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.

“Sekali cas bisa dipakai sampai lima hari pulang-pergi kerja. Jauh lebih hemat dibandingkan beli BBM mobil yang bisa Rp300 ribu seminggu,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengisian daya cukup dilakukan di rumah tanpa membebani listrik secara signifikan.

“Di rumah 1.300 VA juga bisa ngecas, dan tagihan listrik tidak melonjak,” katanya.

Meski demikian, kebijakan ini dinilai masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan transportasi publik yang memadai agar dapat berjalan efektif dan tidak membebani aparatur di lapangan. (sur)